
Kini semua orang telah berkumpul di ruang tamu, terlihat banyak hidangan pembuka di sana. Di ujung sofa Yuna tampak cantik dengan dandanan yang natural, sedari tadi Nanda juga tak hentinya memandangnya.
"Cih, otw bucin..."gumam Nada berniat mengejek Nanda, namun pria itu seolah tidak mendengarkan Nada terbukti ia tidak sedikitpun mengubah pandangannya, anggap aja dunia milik berdua yang lain ngontrak.
"Nad..."Tristan menggelengkan kepalanya, ia memberi isyarat untuk Nada diam saja.
"Ehem..." Alan berdehem menyadarkan lamunan Nanda dan Yuna, yang sejak tadi saling pandang lempar senyum. Bapak dan ibu nya Yuna juga ikut mesem, mereka kan juga pernah muda, taulah orang lagi kasmaran.
Tidak mau berbasa-basi, Alan pun mengatakan langsung niat baiknya untuk melamar Yuna menjadi istri Nanda.
"Jadi begini Pak, Bu, maksud kedatangan kami kesini untuk melamar nak Yuna untuk putra saya Nanda." ujar Alan dengan sopan dan ramah.
Yuna meremas tangannya gugup, Pak rojali melempar senyum ke arah istrinya dan di balas dengan anggukan kepalanya, lalu ia melirik ke arah Yuna, tampaknya putrinya itu juga sedang merasa gugup tapi tak menutupi wajah bahagianya, "Kami sebagai orang tentu saja merasa senang dan bahagia, bila mana ada seorang pria yang mau meminang putri saya. Saya serahkan semua keputusan itu pada Yuna, jadi gimana Yuna di terima nggak..."ujar Pak Rojali pada putrinya.
Yuna menatap bapaknya itu sebelum kemudian ia mengangguk dan menjawab, "iya pak.."jawabnya malu-malu.
"Yess.."sorak Nanda dalam hati, ia pun menarik nafas lega.
Setelah memastikan lamarannya di terima, mereka pun langsung membahas waktu pernikahan. Mencari-cari waktu yang pas, melihat Yuna dan Nanda yang terlihat tak sabar. Jadi, mereka memutuskan pernikahan keduanya akan di langsung dua minggu lagi di hotel di dekat kampung Yuna. Kenapa, tidak di tempat Nanda. Yuna merasa kasihan lantaran bapaknya pernah operasi ia belum terbiasa bepergian jauh, ia juga masih harus beberapa kali check up ke rumah sakit, untuk bekerja juga ia hanya yang ringan-ringan saja, seperti jaga toko atau berkebun di belakang rumah.
Vriska sangat antusias jika urusan seperti itu, ia akan mengatur sedemikian rupa. Jadi, ia meminta kedua orang tua Yuna untuk menyerahkan semua itu padanya.
Usai perbincangan-bincangan hangat itu, kini Pak Rojali dan istrinya meminta keluarga calon besannya untuk menikmati jamuannya, mereka membawa ke tempat makan.
"Ini pasti Yuna yang masak ya.."seru Vriska pada Yuna.
"Gak semua sih Nyonya, di bantu ibu juga kok.."jawab Yuna malu.
Vriska berdecak sambil mengambilkan piring kosong bermaksud mengambilkan makanan pak suami, "kok Nyonya sih. Mami dong, kan bentar lagi kamu jadi mantu.."serunya.
"Iya tan.. eh mi.."jawabnya gugup.
Hening...
"Jago masak ya kamu, pantes Nanda sering manfaatin kamu.."seru Vriska, membuat Yuna kembali malu.
"Aku juga jago lho mi, mami sih belom pernah nyobain masakan aku.."timpal Nada dengan percaya diri, membuat Tristan tergelak. Jago apa? masak, yang benar saja. Sampai saat ini saja kalau bikin telor ceplok pasti gosong. Jago di ranjang kali maksudnya, eh.
"Bukannya kenyang makan masakan kamu, ada malah mami keracunan.."decak Vriska, membuat semua yang di sana terkekeh.
Nada merenggut kesal lalu mengerucutkan bibirnya, "Aku bisa masak mie instan, waktu itu pernah pengen banget makan mie, aku bikin sendiri lho. Ya kan sayang.."Nada melirik ke arah suaminya meminta jawaban, Tristan hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Tuh kan, aku hebat tau..."sambungnya.
"Ya sayang, kamu hebat banget.."seru Vriska. Iyain aja deh, dari pada ngambek ntar repot. Kan namanya juga ibu hamil. Punya anak perempuan satu boro-boro bisa masak, hadehh. Ada ntar kompor meledak dan dapur berantakan iya. Ini semua karena Alan yang terlalu memanjakannya jadinya sampai besar Nada bahkan gak tau apa-apa, mentang-mentang putri satu-satunya, untung saja dia dapat suami kaya Tristan yang sabar, pengertian. Padahal Vriska sendiri juga anak tunggal, tapi dulu Mama Lita dan Papa Danu tidak sebegitu memanjakan dia. Mungkin kasusnya berbeda, karena untuk mendapatkan Nada dan Nanda perjuangan keduanya cukup susah. Bahkan Vriska harus jatuh bangun terpuruk. (Boleh baca di novel cinta segitiga kisah Alan dan Vriska ya😂😂 promosi).
"Bisa masak mie doang aja bangga.. Anak SD juga bisa Nad.."ejek Nanda.
"Diam sih, aku gak ngomong ma kamu. Yuna kamu mau-maunya terima dia, harusnya tolak aja biar mampus.."cetus Nada.
"Nad, gak boleh gitu..."tegur Tristan lembut.
"maaf.."Nada menunduk, matanya sudah berkaca-kaca.
"Ya sudah, ini.."Tristan mengulurkan sendok yang berisikan makanan. Nada menegakkan kembali kepalanya, "apa?" tanyanya.
"Ayo buka mulutnya, aku suapin.."ucap Tristan lembut. Tersenyum, Nada pun membuka mulutnya menerima suapan dari Tristan. Dengan telaten dan sabar akhirnya makanan yang ada di tangannya itu ludes tak tersisa.
Alan dan Vriska tersenyum, dan terharu melihat bagaimana Tristan memperlakukan putrinya dengan begitu lembut. Bukankah mereka sangat cocok Nada yang begitu blak-blakan, serta Tristan yang sabar. Sifat keduanya itu saling melengkapi. Pernikahan yang di awali dengan rasa keterpaksaaan kini berbuah dengan manis, bahkan sebentar lagi keduanya akan di karunia dua buah hati dari cinta keduanya.
"Manisnya.."seru Yuna menatap Nada dan Tristan.
Nanda mencebik, "Kau mau ku suapin juga Na.."
Usai menikmati hidangan, kini mereka kembali ke ruang tamu untuk bersantai sejenak, lalu berbincang-bincang.
Nada merasakan matanya begitu berat, sejak tadi ia terus menguap, belum lagi punggung terasa pegal.
"Aku ngantuk, badanku juga pegal sekali.."lirih Nada pada Tristan. Kehamilannya yang sudah besar membuat ia gampang lelah dan pegal. Namun Tristan sebagai suami siaga dan pengertian tentunya berusaha untuk selalu ada.
"Lalu.."
"Aku pengen tidur, tapi punggungnya harus di usap-usap ama kamu.."pintanya menatap Tristan dengan wajah melas.
"Ya sudah sini aku usap-usap punggungnya..."ujar Tristan.
"Aku maunya sambil tidur, bukan duduk begini.."decak Nada, sekali lagi ia kembali menguap, rasa kantuk, lelah, pegal menyelimuti tubuhnya.
"Nad, kita itu sedang tidak di rumah. Jadi..."
"Ayo Nad, tidur di kamarku saja. Kamu pasti lelah.."ucap Yuna yang sejak tadi mendengar bisik-bisik keduanya. Yuna berdiri mengajak Nada untuk ke kamarnya.
"Boleh emangnya..."tanya Nada.
"Boleh lah, masa tidak..."
Nada berdiri tapi tangannya masih menggandeng tangan suaminya, "Ayo sayang..."ajaknya pada Tristan.
"Kamu sama Yuna aja ya, aku di sini. Kan sama aja..."tutur Tristan lembut.
Nada menggeleng, "Gak mau. Maunya sama kamu. Ayo cepat.."desak Nada.
Tristan tergelak, ia merasa sungkan masa yang lain pada berkumpul ngobrol ia malah asyik-asyikan di kamar istrinya, tapi melihat wajah sendu istrinya tidak tega.
"Udah nak Tristan temenin istrinya, ibu hamil kan emang begitu. Mungkin janinnya memang
tidak mau jauh dari ayahnya.."tutur Ibunya Yuna.
Menghela nafasnya Tristan pun bangkit dan permisi pada semua orang yang di sana. Mereka berjalan mengikuti Yuna yang menunjukkan kamarnya, yang terletak di sebelah ruang makan tadi.
"Wah indahnya..."Nada berdecak kagum saat melihat pemandangan sawah dan pegunungan dari jendela kamar Yuna yang di biarkan terbuka.
Matanya kembali melirik kamar Yuna yang kecil dan sederhana, ranjangnya pun juga ukuran standar. Namun tertata dengan sangat rapi.
"Ayo Nad, katanya mau tidur di usap-usap punggungnya.."seru Tristan yang kini sudah bersandar di sisi ranjang.
"Sebentar, aku tuh lagi liatin orang-orang yang pada nyangkul di sawah tuh, aku jadi ngebayangin kalau..."
"Nad jangan nyuruh aku aneh-aneh lho.. Aku gak akan mau..."potong Tristan cepat, ia tau benar jalan istrinya itu pasti mau minta dirinya mencangkul.
"Ih suudzon aja, aku gak akan nyuruh kamu nyangkul kali..."ucapnya sambil beergerak ke ranjang lalu membaringkan dirinya di sana.
Trista menarik nafas lega, untungnya hal yang ia takutka tidak terjadi.
"Ayo cepat tidur, istirahat. Nanti sore kita pulang..."ujar Tristan, Nada memiringkan tubuhnya membiarkan Tristan mengusap-usap punggungnya, kadang juga perutnya.
Terasa nyaman, sampai pada akhirnya ia pun terpejam.
•••
Yuk dukung author dengan like, komentar, hadiahnya ya.
Tbc.