
"Udah lama ya Bi kita gak nonton tv bareng." Alula bersandar di bahu Bi Uti dengan sebungkus kripik singkong di tangan kirinya, mulutnya tidak berhenti mengunyah meskipun dirinya sedang berbicara.
"Iya Non, padahal dari kecil Nona Alula selalu ingin tidur ditemani Bibi. Tapi sekarang.. kita sudah hampir 2 bulan terpisah, Nona pasti tidak pernah merindukan Bi Uti dimalam hari?"
"Bibi bicara apa!" Alula menarik kepalanya menatap Bi Uti yang sedikit terkejut. "Tentu saja Alula merindukan Bibi, bahkan setiap malam Alula merindukan Bibi."
Bi Uti tersenyum bahagia melihat reaksi Nonanya, Bi Uti kembali menarik kepala Alula agar bersandar di bahunya.
"Sebenarnya Bibi selalu penasaran Non, kenapa Nona Alula tidak pernah bertanya tentang ayah Nona? atau tentang pria yang ada di foto yang menggendong Nona Alula waktu kecil?" Bi Uti melirik ke arah Alula yang tidak bereaksi apa-apa saat mendengar pertanyaannya.
"Kenapa Alula harus menanyakan tentang itu? Ada atau tidak adanya seorang ayah tidak akan merubah apapun Bi, Alula tetap hanya seorang anak dari ibu tunggal yang tidak jelas siapa ayahnya." Ucap Alula datar, bahkan camilan yang ada di tangannya sepertinya sudah tidak menggiurkan di mata Alula.
"Itu tidak benar Nona, meskipun laki-laki brengsek itu tidak mengakui Nona dan Nyonya Diana, tapi Bibi sangat tahu kalau Nyonya Diana bukan wanita seperti itu."
"Kenapa tiba-tiba Bibi jadi membicarakan tentang itu..! Lebih baik Alula tidur kalau Bibi terus membahas ini." Alula beranjak dari duduknya dan berbicara dengan wajah dingin.
"Tunggu Nona! Sepertinya Bibi harus memberitahu Nona tentang kejadian 17 tahun yang lalu."
Alula menghentikan langkahnya yang ingin berlalu dari hadapan Bi Uti. Alula kembali menarik tubuhnya menghadap Bi Uti yang sedang berharap mendapat kesempatan untuk berbicara darinya.
"Nyonya Diana melarang Bibi memberitahu Nona Alula kejadian 17 tahun yang lalu, tetapi menurut Bibi Nona harus mengetahui kejadian sebenarnya di masa lalu." Bi Uti menyentuh lembut tangan Alula. "Bibi mohon Non.."
Mendengar Bi Uti memohon padanya membuat Alula tidak bisa menolak. Akhirnya Alula mau tidak mau akan mendengarkan apa yang ingin di ceritakan Bi Uti, karena sejujurnya Alula juga penasaran dengan masa lalu dirinya dan ibunya.
Alula kembali duduk di samping Bi Uti tanpa mengucapkan sepatah katapun, raut wajahnya tidak berubah tetap datar dan terkesan dingin.
"19 tahun yang lalu kehidupan Nyonya Diana sangat menyenangkan, penuh dengan keceriaan dan canda tawa. Dia gadis pekerja keras yang datang jauh-jauh dari kampung, untuk merubah nasibnya di kota ini. Sebelumnya semua hal selalu berjalan lancar untuknya, namun setelah kehadiran pria penipu itu... Semuanya menjadi sangat menyakitkan bagi Diana." Bi Uti menghela nafas panjang sebelum akhirnya mulai menceritakan kejadian di masa lalu.
Flashback 2002
Saat itu usia Bibi 32 tahun, Bibi seorang janda karena suami Bibi meninggal karena penyakit yang di deritanya. Bibi juga tidak dikaruniai anak, sehingga Bibi hidup sendiri dan membuka warung nasi untuk menyambung kebutuhan hidup Bibi.
Malam itu cuaca sedang buruk, hujan deras dan angin kencang membuat siapapun tidak akan mau keluar dari rumah. Bibi berniat mengunci pintu warung saat itu, karena cuaca tidak memungkinkan akan datangnya seorang pembeli. Namun siapa sangka? seorang gadis cantik berpenampilan sederhana berlari menuju warung ditengah guyuran hujan deras.
"Bibi tunggu..!" Gadis itu berteriak menghentikan Bibi yang ingin mengunci pintu.
Gadis itu benar-benar basah kuyup saat sampai di depan warung Bibi, nafasnya tersengal-sengal karena berlari. Dan tangannya menjinjing sebuah tas ransel yang lumayan besar. Sebelumnya Bibi berniat ingin menolaknya dan akan mengatakan kalau Bibi sedang tutup, namun melihat keadaan gadis itu membuat Bibi merasa iba.
"Sebaiknya Nona berganti pakaian dulu, apa Nona membawa pakaian ganti?" Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk dengan badan yang menggigil. Bibi langsung masuk ke dalam rumah dan mengambilkan handuk untuk gadis itu.
"Ini Nona, Nona bisa berganti pakaian di sana." Bibi segera memberikan handuk yang telah Bibi ambil dan menunjuk pintu kamar mandi yang ada di pojok ruangan.
"Terimakasih Bi."
Waktu itu.. Gadis itu berterimakasih dan tersenyum tulus pada Bibi membuat hati Bibi berdenyut. Setelah gadis itu masuk ke dalam kamar mandi, Bibi segera menyiapkan makan untuknya di salah satu meja yang ada di warung nasi Bibi.
"Makanlah." Gadis itu lagi-lagi tersenyum dan berterimakasih pada Bibi. Gadis itu menyantap makanannya dengan lahap, seperti orang yang belum memakan apapun seharian ini.
Karena penasaran Bibi akhirnya menanyakan padanya, siapa sebenarnya dia dan mau pergi kemana di tengah hujan deras seperti ini.
"Nama saya Diana Bi Usia saya 19 tahun, sebenarnya tadi saya sedang mencari kos-kosan tapi tiba-tiba hujan deras."
Gadis yang bernama Diana itu berbicara dengan senyum di wajahnya, padahal jelas sekali dimata gadis itu terpancar sebuah ketakutan dan kehawatiran.
"Kenapa cari kos-kosan memangnya rumah Nona dimana?" Bibi kembali bertanya karena rasa penasaran.
"Sebenarnya saya dari kampung Bi, saya tinggal di panti asuhan. Saya sudah lulus SMA dari satu tahun yang lalu, jadi ibu panti mengijinkan saya untuk mencari impian saya sendiri. Sudah dari beberapa bulan yang lalu saya mengirimkan beberapa portofolio ke perusahaan yang sedang mencari model iklan, dan syukurnya kali ini saya dapat panggilan untuk menjadi model iklan sebuah produk minuman."
Saat itu Bibi langsung tersenyum mendengar cerita gadis itu, Bibi langsung mengerti kalau gadis yang sedang duduk di hadapan Bibi ini sedang mencoba merubah nasibnya. Bibi sangat kagum dengan Gadis cantik pekerja keras yang terlihat sangat pintar itu. Bibi sangat menyayangkan kenapa gadis seperti itu terlahir tidak memiliki keluarga.
"Syukurlah Nona, Bibi doakan semoga semua urusannya berjalan lancar." Gadis itu kembali berterimakasih dan tersenyum pada Bibi.
"Oh iya, Nona sedang mencari kos-kosan?" Gadis itu mengangguk mengiyakan. "Kebetulan di rumah Bibi ada satu kamar kosong, Nona bisa menyewanya dan Bibi akan memberikan diskon 50%."
Gadis itu langsung tersenyum dan mengangguk menyetujui setelah mendengar perkataan Bibi, dia beberapa kali berterimakasih dan terlihat sangat bahagia. Entahlah kenapa saat itu Bibi berpikir untuk menyewakan salah satu kamar di rumah Bibi, mungkin karena Bibi merasa kasihan dan ingin melindunginya dari segala hal yang ada di kota ini.
Setelah hari itu, hari demi hari Bibi lewati bersama gadis itu. Bibi sudah menganggap gadis itu seperti anak Bibi sendiri, gadis itu selalu menceritakan semua kegiatannya kepada Bibi.
Pekerjaan gadis itu juga berjalan lancar, tawaran untuk menjadi seorang model iklan pun kian berdatangan. Gadis bernama Diana itu mulai meraih kesuksesannya, namanya mulai terkenal di Indonesia.
Hingga suatu hari Diana bercerita tentang seorang pria yang ditemuinya di sebuah acara. Pria itu adalah pria brengsek, seorang penipu yang berani menipu seorang gadis yang tidak pernah mengenal cinta. Jika Bibi memikirkannya, Bibi selalu menyesal pernah menyetujuinya untuk berkencan dengan pria itu.