
Rasa pening tiba-tiba mendera di kepala Nada, kepalanya terus berdenyut sakit sejak ia membuka mata. Namun kerongkonganya yang terasa kering memaksa ia harus membuka matanya.
Perlahan Nada menggerakkan tubuhnya, melirik ke arah nakas untungnya gelas di atas nakas terisi penuh. Nada mendudukan dirinya dengan bersandar di ranjang lalu mengambil gelas itu meminumnya hingga tandas.
Meletakkan gelasnya kembali, Nada kembali memijat kepalanya yang masih terasa pusing, ia berusaha mengingat dan mengumpulkan kepingan-kepingan akan kejadian semalam.
Glek... Nada menelan salivanya dengan susah, ketika adegan-adegan sebelumnya terlintas begitu saja di kepalanya.
"Aaaaaaaaaaa...."Nada menjerit histeris, kalau melihat pakaian yang ia kenakan semalam sudah berganti.
Wajahnya langsung pucat bulir-bulir keringat mulai hingga di wajahnya. Ia menutup wajahnya dengan selimut.
Pintur kamar terbuka, Tristan masuk dengan tergesa-gesa.
"Ada apa..?"tanya Tristan dengan sinis.
Nada membuka selimut yang menutupi wajahnya, "Kamu merkosa aku.."tanyanya to the point.
Tristan terkejut, "Merkosa kamu? Apa buktinya..? emangnya kamu gak inget apa yang terjadi semalam. Kau yang menyiksaku sampai aku tidak bisa tidur.."jawabnya dengan kesal.
"Aku mabuk dan kamu pasti memanfaatkan kesempatan itu, dasar penjahat.."decaknya kesal. Meski ia tau kapanpun itu akan terjadi maksud Nada ia tidak mau melakukannya dengan keadaan yang tak sadar diri.
"Apa yang membuatmu berfikir jika aku merkosa kamu.."tanya Tristan
"Bajuku..."sahut Nada menunjuk baju yang ia kenakan berganti.
"Aku yang menggantinya. Semalam kau terbangun dan muntah mengenai bajumu sendiri, jadi aku terpaksa menggantinya, hanya baju tidak yang lain..."
"Jadi semalam tidak ada yang terjadi antara kita..."desak Nada
"Setelah merayuku, menciumku, membuatku terbuai kamu malah tidur,.."jawab Tristan dengan pandangan tak suka, tentu saja ia sangat kesal.
"Jadi semalam... aku.."
"Molor..."jawab Tristan mendekati wajahnya ke Nada membuat Nada memalingkan mukanya, "Jadi sekarang apa kau mau bertanggung jawab.."
"Tanggung jawab apa memangnya aku membuatmu hamil.."tanya Nada
"Apa perlu ku ingatkan kembali kejadian semalam.."bisik Tristan, membuat bulu-bulu halus Nada meremang.
Nada menggeleng, "Tristan tidak bisa sekarang, aku kan..."
Tristan kembali menegapkan tubuhnya, "Baiklah berapa hari lagi..."tanya Tristan dengan tatapan menyelidik. (Bang Tristan udah gak sabar aja nie😂😂)
"Dua.. tiga hari lagi..."jawab Nada
"Baiklah, aku akan menunggu awas saja jika kau kembali membuat alasan, aku akan mengurungmu di kamar selama tiga hari, ku pastikan kau tidak bisa berjalan dengan benar.."ancam Tristan.
Wajahnya Nada langsung pucat ia bergidik ngeri, Tristan menahan tawanya.
🌹🌹🌹
Yuna membuka matanya sembari memijat kepalanya yang terasa pusing. Perlahan ia mendudukan tubuhnya, matanya mengerjap memindai satu persatu ruangan itu.
Asing..?
Di mana..?
Apa aku di culik..?
Yuna menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran buruknya itu.
Ini pasti mimpi, pikirnya.
Yuna mencoba mencubit tangannya sendiri.
"Aaaaaaa......"teriak Yuna kala ia merasakan cubitan itu nyata, berarti ia tidak bermimpi.
Pintu kamar terbuka terlihat Nanda berdiam diri di ambang pintu.
"Berisik... ada apa..?"tanya Nanda kesal.
Yuna melirik ke arah Nanda yang masih berdiri di ambang pintu.
"T....tuan.."
"B..bagaimana aku bisa di sini..?"tanyanya dengan rasa takut.
"Kau mabuk, dan aku tidak tau lagi harus membawamu kemana."jawabnya dengan sinis.
"Benar-benar merepotkanku.."lanjutnya.
Yuna menunduk berusaha mengingat-ngingat kejadian sebelumnya, "Tuan tidak merkosa saya kan.."
Nanda tergelak, "Apa yang membuatmu berfikir saya bakal merkosa kamu. Bukannya terimakasih malah menuduh.."
"Karena orang mabuk kan tidak sadar, saya harap anda tidak memanfaatkan kesempatan itu.."ucap Yuna dengan polosnya.
Nanda masuk menatap Yuna sinis, "Tidak ada yang membuat saya tertarik untuk merkosa kamu. Badan tidak berisi, dadanya juga rata."
Sontak Yuna langsung menatap ke arah tubuhnya sendiri.
"Syukurlah jika anda tidak tertarik dengan saya.."sahutnya, bukannya sakit hati karena di kata tidak berisi ia malah bersyukur.
🌹🌹
Suara dentingan garpu dan sendok terdengar saling beradu. Nanda dan Yuna makan dengan saling terdiam.
"Berapa uang yang kau butuhkan.."tanya Nanda di sela-sela makannya.
"Tuan bertanya dengan saya.."tunjuk Yuna pada diri sendiri.
Nanda berdecak kesal, " dengan Bi Ningsih... Tentu saja denganmu, memangnya ada orang lain di sini.. Aku fikir minuman itu merusak otakmu hingga membuatmu lambat berfikir, makanya jangan sok-sokan minum alkohol.."
Yuna cemberut, "Saya kan hanya bertanya, kenapa anda menjawabnya kemana-mana.."
"Biar jelas.."seru Nanda, ia meletakkan garpu dan sendoknya di atas piring.
"Sekarang saya bertanya serius, berapa uang yang kau butuhkan.."tanya Nanda dengan serius menatap Yuna.
"Uang untuk apa.."lirihnya, seolah semua baik-baik saja.
"Untuk operasi ginjal Bapakmu.."seru Nanda
Deg.. Yuna mendongak menatap Nanda dengan terkejut, bagaimana atasannya itu bisa tau permasalahn keuangan dirinya kini.
"Tu...tuan.. Anda bicara apa. Saya tidak membutuhkan uang untuk apa-apa.."Yuna berusaha mengelak, bagaimanapun itu urusan pribadinya.
"Aku hanya tidak ingin kau sampai menjual dirimu demi uang yang kau butuhkan untuk operasi Bapakmu.."ucap Nanda
Yuna terkejut lalu bangkit dari kursinya ia menatap tajam Nanda ketika pria mengungkit kata jual diri, apa dia serendah itu, "Maksud Tuan apa. Saya memang miskin tapi saya tidak mungkin melakukan jalan pintas seperti itu.."sarkasnya.
Nanda mengangguk, "Aku tau. Kau tidak akan melakukan hal itu.. duduklah Yun.."
"Tidak mau..."
"Duduk, ini perintah Ayuna Azalea atau mau ku cium..."ancam Nanda penuh tekanan, sontak Yuna langsung duduk kembali.
"Katanya saya tidak menarik tapi kenapa selalu mengancam akan mencium saya.."ucap Yuna kesal.
Nanda terkekeh, "Kalau saya mengancam kamu motong gaji kan gak mungkin Yun. Nanti kamu bisa stress..."
Yuna memalingkan mukanya terdiam, Nanda mengambil ponselnya lalu membuka m.banking miliknya.
"Saya sudah mentransfer uangnya di rekeningmu. Sekarang kamu bisa kirimkan uang itu pada keluargamu di kampung, dan Bapakmu bisa segera di operasi."tutur Nanda.
Yuna melirik ke arah Nanda, "Ayo di cek, lalu segera kirimkan uangnya. Jangan sampai semua terlambat.."sambung Nanda.
Dengan tangan gemetar Yuna mengambil ponselnya lalu melihat sebuah notifikasi masuk, Yuna melihat seberapa banyak Nanda transfer.
"Tuan kenapa anda melakukan ini.."tanya Yuna menatap Nanda.
"Karena kamu sekretaris saya.."jawab Nanda simpel.
"Tapi saya tidak mungkin menerima uang ini cuma-cuma.."
"Siapa bilang saya memberikan uang itu cuma-cuma, keenakan kamu dong.."jawab Nanda
"Lalu saya harus membayarnya dengan apa.. Tuan tidak menyuruh saya untuk menjual diri pada anda kan.."tanya Yuna
Nanda mengernyit heran, "Yuna, meski saya suka mempermainkan wanita. Saya tidak suka merusak wanita, memangnya tampang saya seperti penjahat kelamin apa.."decaknya kesal.
Yuna terkekeh, "Mana saya tau, gosip yang beredar menyatakan jika anda ya begitulah..."
"Jadi saya harus apa Tuan, apakah saya harus mencicilnya setiap bulan dari sebagian gaji saya.."
"Tidak, bisa tidak makan nanti kamu, kalau saya potong gaji.."
"Lalu.."
"Jadi sekretaris pribadi saya.."ucap Nanda.
"Lha saya kan memang sekretaris anda.."
"Beda, selama ini kamu hanya menjadi sekretris saya di kantor. Jadi saya ingin kamu selalu ada setiap saya membutuhkan kamu,"ucapnya dengan senyum liciknya.
Yuna tampak menimang-nimang jawabannya, "Baiklah.."
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang.."Nanda bangkit dari tempat duduknya.
🌹🌹🌹
Sorry telat up, badan lagi gak enak banget sumpah.ðŸ˜ðŸ˜
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc.