DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Masih bau kencur



Hari ini merupakan hari pertama Nada bekerja. Tristan menempatkan Nada sebagai asistennya, dengan ruangan yang sama.


"Apa tidak bisa ruangannya di pisah..?"Celetuk Nada .


Tristan menaikan sebelah alisnya, "Tidak. Di sini aku bosmu jadi kau harus nurut padaku.."tegasnya


Nada memutar bola matanya malas, "Makin bosen lah aku di mana-mana selalu melihat wajah yang menyebalkan itu.."gumamnya.


"Jangan mendumel yang tidak jelas, aku tidak suka.."tegas Tristan,


Nada meletakkan tas nya di atas meja lalu mulai mendaratkan pantatnya di kursi, tangannya bergerak untuk menyalakan laptop yang berada di samping.


Tok.. tok..


"Masuk.."sahut Tristan.


Vega masuk membawa setumpuk dokumen.


"Tuan ini semua dokumen yang anda minta.."seru Vega, selaku manager bagian pemasaran.


Meletakkan pulpennya Tristan menatap Vega, "Berikan semua berkas itu pada Nada, biarkan ia membaca dan mempelajarinya..."


Vega meletakkan berkas itu di atas meja Nada, Nada melototkan kedua matanya melihat banyaknya jumlah berkas itu. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah.


"Saya, letakkan ini di sini ya Nona.. Saya permisi.."ucap Vega


"Terimakasih.."sahutnya


Sepeninggal Vega, Nada mengepalkan kedua tangannya dan mengeratkan giginya. Tristan berpura-pura acuh tak memperdulikan kekesalan Nada.


Brak.. Nada menggebrak meja.


"Kau sengaja ya mengerjaiku, kau yang benar saja aku mana sanggup mempelajari semua dokumen ini.."celutuk Nada dengan kesal.


"Itu terserah dirimu Nona, jika kau tidak mampu lebih baik pulang saja tidak usah bekerja. Berarti kau tidak memenuhi standar seorang karyawan yang handal dan kompeten, lalu bagaimana kau bisa berfikir untuk menjalankan perusahaan orang tuamu dengan kinerjamu yang lemah. Baru mendapatkan kerjaan begitu saja, kau sudah mengeluh. Dasar payah, anak manja sih.."tutur Tristan, pelan tapi ngena banget di hati membuat Nada kalah telak dan tak mau berkutik.


Nada mengerucutkan bibirnya kesal, ia kembali duduk dan menjalankan perintah Tristan. Melirik Nada sejenak Tristan tersenyum tipis.


🌹🌹


Mobil Nanda tiba di loby perusahaan dengan di kendarai oleh sopir rumah, Nanda turun dari dari mobil dengan perlahan. Bersamaan dengan hal itu Yuna juga baru tiba dengan di antar oleh seorang pria yang masih sangat muda.


"Terimakasih, hati-hati ya.."ucap Yuna setelah menyerahkan helm yang barusan ia pakai.


Yuna berjalan dengan biasa, ia melihat Nanda juga masih berdiri di loby tengah memperhatikan dirinya.


"Pagi Tuan, anda juga baru tiba ya.."sapa Yuna dengan ramah.


"Di mana mobilmu.."bukannya menjawab Nanxa malah bertanya balik.


"Bengkel.."


Nanda menganggukan kepalanya, "Lain kali datanglah sebelum atasanmu datang, ini bukannya datang pagi malah pacaran.."celetuk Nanda


"Hemm, Kau benar-benar payah, anak masih bau kencur kau pacarin. Masih kalah jauh dengan saya, saya sempurna tampan, mapan, berkharisma, banyak duit pula.."ucapnya dengan bangga. Apa dia sedang promosi.


Yuna menggelengkan kepalanya, "Saya tau itu Tuan.. Mari masuk.."


Nanda berdecak kesal hanya Yuna seorang yang sama sekali tidak tertarik pada dirinya.


"Yuna.."panggil Nanda


Yuna kembali memutar tubunya menghadap Nanda, "Ya Tuan. Ada apa..?"


"Kenapa kau meninggalkan saya."ucapnya


"Baiklah saya tunggu di sini.."


"Kemarilah, benar-benar tidak sopan meninggalkan atasanmu begitu saja..."


Yuna kembali berjalan mendekati Nanda, "Papah saya.."sambung Nanda


"Lho Tuan masih berjalan kan, untuk apa saya.."


Nanda mendelik, "Kenapa kau jadi banyak bicara. Di sini siapa bossnya.."


"Anda..."


"Suka-suka saya mau memerintah kamu gimana, tugasmu hanya menurut dan menjalankanya saja. Lagian apa kau tidak melihat kepalaku masih memar.."seru Nanda


Yuna mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya, Yang sakit kan kepalanya, yang buat jalan kakinya lalu apa hubungannya dengan di papah.gumam Yuan


"Jangan membayangkan yang tidak-tidak, kamu jangan terlalu PD saya melakukan kini karena saya masih sakit, jika tidak saya juga tidak perlu.."sahutnya seolah mengerti apa yang ada di pikiran Yuna.


Yuna tersenyum tipis, "Mana berani saya.."


"Bagus.. ayo cepetan.."Nanda memberikan lengannya untuk Yuna menggandeng dirinya.


Yuna pun menurut, "Ayo Tuan, hati-hati.."


"Kau pikir saya buta, saya masih bisa melihat Yuna. Masih bisa membedakan mana jalan yang benar mana yang tidak..."sahut Nanda


Yuna menggaruk kepalanya, dia berfikir bagaimana Tuan Alan dan Nyonya Vriska bisa mempunyai anak seperti dia.


Sepanjang jalan menuju ruangan Yuna memilih diam, Nanda tersenyum tipis. Ia merasa senang dapat mengerjai Yuna.


"ini balasanmu pagi-pagi sudah membuatku kesal saja.."gumam Nanda


🌹🌹


Turunan siapa sih Nanda ngeselin banget..😂 Yuna sabar banget ya..


Jangan lupa komennya ya..


To Be Continue