
Siang ini Tristan mengajak Nada untuk berjalan-jalan. Nada bilang ia ingin kencan,. Berhubung karena Nada sedang hamil, jadi Tristan mengajak Nada untuk berbelanja, makan di luar, dan menonton.
"Aku ingin ciuman.."ucap Nada
Tristan melirik Nada dengan kaget, "Nad jangan aneh-aneh lah.."
"Tapi aku penasaran rasanya, kata teman-temanku asyik dan enak ciuman di dalam bioskop.."ujar Nada.
"Gak benar itu.."sangkal Tristan
"Kamu mau anakmu ileran nanti.."ancamnya.
"Ya nggak lah, cuman kan....-"
Cup...
Ucapan Tristan terhenti saat Nada sudah berhasil membungkam bibir suaminya dengan bibirnya. Mata Tristan melotot sempurna tentu saja ia terkejut, apalagi keduanya duduk di posisi tengah dengan banyaknya orang yang menonton. Beruntung film sedang berputar seru jadi mungkin tak ada memperhatikan keduanya.
Tak cukup mengecup Nada juga memaksakan lidahnya masuk untuk ******* bibir suaminya, beberapa menit kemudian Nada melepas pengutan bibirnya, lalu menatap wajah suaminya yang masih terjengkit kaget.
"Kaget ya.."ucap Nada
"Kamu ini Nad, bisa-bisanya nyosor aja.. Kan aku jadi.."
"Kenapa...? malu gitu.."jawab Nada sambil kembali menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Dari pada aku mati penasaran, mendingan aku coba.."sambungnya.
Tristan menghela nafasnya, "Apa rasanya.."tanya Tristan
"Biasa aja, sama kaya kalau nyium kamu di rumah..."jawabnya
Tristan menggelengkan kepalanya, ia merasa semakin hari semakin aneh dan ada aja tingkah Nada semenjak hamil. Cemburuan dan suka berprasangka buruk salah satunya, yang paling membuat Tristan kesal.
Pernah suatu hari saat Tristan sedang bekerja, Nada menonton televisi lalu melihat sebuah berita yang membicarakan suami selingkuh saat istri tengah hamil besar. Bergegas Nada menelpon Tristan dan menyuruhnya pulang. Kalau tidak pulang Nada mengancam akan mogok makan dan tidak mau tidur dengan tristan, juga mogok bicara.
Alan yang mendengar ancaman Nada di balik telpon pun segera menyuruh Tristan untuk pulang saja. Beruntung sekali bukan Tristan bekerja di perusahaan mertuanya, coba kalau di tempat lain.
Sampai di rumah Tristan melihat Nada sedang menonton televisi sambil menangis, Tristan jadi heran. Lalu Nada menceritak semuanya penyebab ia menyuruh suaminya pulang, tentu saja Tristan kesal.
"Lain kali cari akal yang masuk akal lah Nad. Punya istri satu aja pusing, apalagi sampai mikirn selingkuh.."ujar Tristan
"Jadi kamu pusing punya istri kaya aku.."cetus Nada
"Bukan maksudku..."
Brak.. terlambat belum selesai bicara Nada sudah berlalu pergi ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya.
Kembali ke masa kini Nada dan Tristan sudah keluar dari gedung bioskop.
"Jadi mau kemana lagi..?"tanya Tristan pada istrinya.
"Makan.."
"Tadi bukannya baru makan.."seru Tristan ia ingat sekali sebelum menonton Nada sudah makan.
Nada mencebik kesal, "Jadi kamu keberatan aku makan lagi, keberatan bayarnya.."
"Bukan sayang, maksudku..."
"Takut aku gendut ya.."ucapnya sambil mengelus perutnya yang membuncit tak lupa matanya juga sudah mulai berkaca-kaca.
Tristan menghelas nafasnya ia salah bicara harusnya ia cukup mengiyakannya saja.
"Kamu mau makan apa hem...?"tanya Tristan lembut.
"Kamu gak marah ? aku makan lagi.."tanya Nada balik.
"Tentu saja gak, aku bakal turuti yang kamu mau.."ujar Tristan lembut sambil berdoa muda-mudahan bukan makanan yang aneh.
"Aku ingin makan mekdi.."seru Nada, seketika Tristan menghela nafas lega.
Makasih nak, udah pengertian.gumam Tristan
"Ayo kita ke mekdi.."ajak Tristan, mengajak istriya untuk menuju resto cepat saji itu.
🌹🌹🌹🌹
Pukul 02.30 siang
Bergegas Yuna masuk mencari pria yang saat ini tengah menunggu dirinya dengan dalil kencan buta.
"Hai, apakah saya membuat kamu menunggu lama.."sapa Yuna begitu tiba di dalam tampak seorang pria dengan memakai jas yang rapi tengah duduk seorang diri.
"Oh tidak.."balasnya
"Kenalkan saya Arav.."ujar seorang pria yang berstatus sebagai teman kencan buta Yuna saat ini, pria itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri dengan sopan.
"Saya Yuna.."balas Yuna tak kalah sopannya.
Kemudian Arav mempersilakan Yuna duduk, lalu ia pun memanggil waiters untuk memesan minuman di sana.
"Ngomong-ngomong kamu kerja apa..?"tanya Arav sambil menyeruput minumannya.
"Saya sekretaris. Kalau kamu sendiri..?"tanua Yuna balik.
"Saya sih, em.. Sebut saja pengacara.."ujar Arav dengan santai.
Yuna jadi suka dengan pembawaan Arav yang begitu santai dan sopan dalam berbicara.
"Wah hebat..."puji Yuna
Arav menggaruk tengkuknya yang gatal, "Em saya jadi merasa tidak enak..?"ucapnya.
"Lho kenapa..?"tanya Yuna, apa Arav tak tertarik dengan dirinya atau kenapa, apa Yuna kurang cantik atau bagaimana, pikiran Yuna sudah berkelana kemana-mana.
"Saya pikir sebagai seorang sekretaris kamu itu cantik, cerdas modis, dan kompeten,.. sempurna menjadi nilai plus sendiri untuk kamu, jadi untuk apa kamu melakukan kencan buta ini, saya pikir banyak pria yang suka dengan kamu pastinya... ."puji Arav
Yuna jadi salah tingkah di buatnya, "Kamu bisa aja mujinya terlalu berlebihan, saya gak sesempurna itu. Lagi saya juga ingat apa kata atasan saya...."
"Apa...?"tanya Arav penasaran.
"Katanya sih badan saya tidak berisi, jadi tidak mungkin ada yang suka dengan saya.."sungut Yuna.
Arav terkekeh mendengarnya, "Apa bosmu itu pria tua, berperut buncit, dan hidung belang.."tanyanya
"Kata siapa..?"pekik Yuna, Nanda itu ganteng banget, gumam Yuna dalam hati.
"Kok kamu kaya gak trima gitu saya bilang atasanmu hidung belang.."tanya Arav dengan curiga.
"Bukan begitu tapi pada dasarnya, dia itu pria yang tampan, dan idola bagi semua kaum wanita.."sambung Yuna
"Sepertinya saya paham akan situasi yang kamu alami.."ujar Arav
"Maksudnya..."tanya Yuna
"Dia bukan menghina kamu Yuna, tapi dia menyukaimu.."jelas Arav
Sedangkan Yuna justru tertawa mendengar perkataan Arav.
"Itu gak mungkin..."sangkal Yuna, ia ingat benar bagaimana kata-kata Nanda terhadapnya yang tidak pernah ada manis-manisnya.
"Bos kamu ganteng, tinggi ? dan putih kan.."tanya Arav yang di balas anggukan oleh Yuna.
Arav segera bangkit dari kursinya lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, "Ini kartu nama saya, nanti kalau kamu sudah menjomblo hubungi saya ya. Minumannya biar saya yang bayar.."ucap Arav mengakhiri pembicaraan mereka.
"Eh saya single kok.."kata Yuna
"Tuh samperin dulu pria kamu.."ujar Arav melirik seorang pria yang tengah bersender di pintu keluar cafe.
"Sedari tadi saya perhatikan pria itu terus melirik ke arahmu dan tak sedikitpun mengubah pandangannya..."sambungnya.
"Tuan..."pekik Yuna kaget
🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Biar Ara semangat update
Tbc.