DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Katakan alasannya ?



Untukmu wahai perempuan:


Semanis apapun ucapan seorang lelaki, kalau dia enggak punya tujuan yang jelas untuk menghalalkanmu, lebih baik tinggalkan. Karena semakin dewasa kamu akan paham bahwa ucapan tanpa tindakan adalah penipuan.


🌹🌹


Pagi ini Nanda sudah tiba di kantornya, ia mengernyit bingung sampai di kantornya masih tak mendapati Yuna di sana. Sebelumnya, saat di apartemen ia juga sudah menunggu kedatangan sekretarisnya itu seperti biasanya, namun hingga pukul delapan lewat Yuna tak kunjung tiba. Pada akhirnya Nanda memutuskan untuk berangkat sendiri lebih dulu, barang kali Yuna kesiangan, mungkin Yuna kelelahan jadi ia melonggarkan waktunya untuk Yuna istirahat.


"Apakah dia begitu lelah,.."gumam Nanda,


Nanda memutuskan untuk mulai bekerja, hingga satu jam berlalu ia masih tak mendapati Yuna kunjung datang, perutnya sudah terasa perih sedari tadi ia memang belum makan apapun.


Nanda memeriksa ponselnya barangkali ada panggilan masuk dari sekretarisnya itu, namun ia tidak menemukan panggilan ataupun pesan darinya.


Ia mencoba menscroll nomor ponsel Yuna, lalu memanggilnya berdering namun tak juga di angkat. Membuat Nanda mendesah resah padahal satu jam lagi akan ada meeting. Menyesal tadi ia tak menghampiri wanita itu ke kontrakannya lebih dulu.


🌹🌹


Yuna menatap nanar pada sebuah gedung yang menjulang tinggi usai dirinya turun dari sebuah taksi. DLP COMPANY hampir satu tahun ia mengabdikan dirinya bekerja di perusahaan itu, banyak pelajaran dan pengalaman yang bisa ambil. Teman, juga atasan yang pengertian.


Jauh berhari-hari Yuna sudah menimang-nimang keputusannya untuk keluar dari perusahaan itu, terasa berat tapi ini memang harus, Yuna tidak punya pilihan lain. Ia sadar jika hatinya mulai terjepak oleh perasaannya sendiri, ia mulai mencintai Nanda atasannya. Yuna tidak ingin perasaaannya semakin dalam, akan lebih baik ia menjauh pergi.


Tersenyum kecut Yuna mengingat kembali momen bagaimana kata-kata Nanda padanya, perilakunya memang hangat, tapi Yuna seorang wanita bagaimanapun setiap wanita akan gampang luluh dan mudah baper, awalnya mungkin ia dapat membentengkan dirinya, namun setelah sekian lama Yuna menyadari perasaannya. Mengingat kembali bagaimana kata Arav jika Nanda bukan menghinanya tapi menyukainya, tapi Yuna tau Arav salah, karena hingga detik ini tidak ada ucapan apapun yang keluar dari bibir Nanda.


Menggelengkan kepalanya ia mengusir segala pikiran itu, Yuna melangkahkan kakinya masuk ke area perusahaan.


"Mbk Yuna.." panggil Lea, yang habis keluar dari ruangan devisi keuangan, wanita itu berjalan mendekat ke arah Yuna.


Yuna hanya membalasnya dengan senyum ramahnya.


"Mbk baru datang ? tumben. Biasanya selalu on time, Tuan Nanda sedari tadi menunggumu lho tapi kok..."Lea menghentikan ucapannya, ia memindai penampilan Yuna yang terlihat begitu santai seperti tidak akan bekerja.


"em.. aku tadi kesiangan. Baiklah aku akan menemuinya lebih dulu ya..."pamit Yuna sambil menepuk pundak Lea yang masih terbengong.


Sampai di depan ruangan Nanda, Yuna meremas tangannya yang tampak dingin, dadanya berdegup kencang. Berkali-kali ia menarik nafasnya lalu mengeluarkannya. Setelah di rasa cukup tenang, Yuna memberanikan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan Ruangan Direktur.


Tok.. tok..


"Masuk..."sahut Nanda dari dalam.


Ceklek..


Nanda tersentak begitu melihat siapa yang memgetuk pintu, ternyata Yuna. Aneh, biasanya wanita itu akan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


"Kamu baru datang, tapi tumben, kamu mengetuk pintu.. em penampilanmu berbeda, fashion baru ya..."tanya Nanda mencairkan suasana, ia melihat sebuah ketegangan di wajah Yuna.


Yuna membalasnya dengan senyum tipis, namun hatinya terasa getir, ingin sekali ia berlari memeluk atasannya itu saat ini, sekedar untuk salam perpisahan mungkin, tapi Yuna tidak mempunyai cukup keberanian untuk hal itu.


"Maaf..."lirih Yuna, entah mengapa lidahnya mendadak kelu, tubuhnya terasa kaku.


"Untuk...? oh aku tau, kau minta maaf kau datang terlambat, tidak masalah. Aku memberikan kelonggaran waktu untukmu hari ini. Aku mengerti mungkin kau merasa lelah.."tutur Nanda.


Ya aku memang lelah Tuan, lelah terus berharap, sampai aku lupa untuk sadar diri dan lupa berkaca siapa diriku, gumam Yuna dalam hati.


"Lupakan, sebentar lagi ada meeting kamu bantu persiapkan berkas-berkasnya ya, kemarin aku sudah menyuruhmu untuk mempersiapkannya kan. Di mana kau meletakkannya..?"tanya Nanda


"Di atas meja saya.."sahut Yuna.


Nanda ingin bangkit dari tempat duduknya,


"Tuan.."panggil Yuna


"Ya..."


"Ada yang ingin saya sampaikan..."ucap Yuna, membuat langkah Nanda terhenti.


"Nanti saja, setelah meeting ya Yuna.."seru Nanda


"Apakah sangat penting dan mendesak Yuna...?"tanya Nanda lagi.


Yuna menganggukan kepalanya, sementara Nanda mengurungkan niatnya untuk berjalam lebih jauh, pria itu kembali duduk.


"Duduklah Yun, ada apa...?"Nanda mempersilahkan Yuna duduk, namun Yuna menggelengkan kepalanya.


"Duduk, atau aku tidak akan berbicara denganmu.."perintah Nanda dengan penuh tekanan.


Akhirnya Yuna pun melangkahkan kakinya untuk duduk di hadapan Nanda,


"Apa yang ingin kau katakan..?"hardik Nanda.


Yuna tidak menjawab, wanita justru membuka tasnya lalu mengeluarkan amplop coklat, membuat Nanda mengernyit heran, anehnya ia justru merasa hawanya yang tidak enak.


"Tu...tuan saya minta maaf sebelumnya. Tapi ini sudah keputusan saya, saya ingin mengundurkan diri, dan ini suratnya.."ucapnya sembari memberikan amplop coklat yang berisikan surat pengunduran diri Yuna.


Nanda menatap Yuna tak percaya, kata-kata Yuna barusan seolah mimpi baginya.


"Kamu bercanda kan...?"seru Nanda


Yuna menggeleng, "Tidak, tuan. Saya bersungguh-sungguh ingin keluar dari perusahaan ini.."


"Kenapa...?"desak Nanda mata semula menatap Yuna dengan hangat kini menjadi sorot mata yang tajam, pria itu mengepalkan tangannya.


"Karena..."


"Karena apa ? katakan alasannya. Apa gaji yang saya berikan kurang.." cecar Nanda kembali.


Yuna tersentak, kenapa atasannya masih menilai dirinya dari segi materi, namun ia kembali bersikap biasa, "Saya harus pulang kampung Tuan, kedua orang tua saya menyuruh saya untuk pulang,.."dustanya, entah kenapa hanya kata itu yang tepat bagi Yuna.


"Kalau kamu merindukan mereka kamu bisa mengambil cuti Yuna, tidak perlu mengundurkan diri. Saya akan memberi kamu izin semau hari kamu..."ujar Nanda dengan nada lirih.


Yuna menggeleng, "saya sudah lelah bekerja Tuan,."dustanya, mana mungkin ia begitu bekerja adalah hal yang menyenangkan bagi Yuna, di perusahaan inilah Yuna dapat gaji besar, terlebih ia bisa menyekolahkan kedua adiknya, hingga kedua orang tua dapat mendirikan sebuah usaha kecil di kampungnya, tidak masalah mungkin setelah ini Yuna akan membantu orang tuanya sembari mencari pekerjaan lain. Setidaknya ia ingin menenangkan dirinya dulu di kampung, mengembalikan perasaannya menjadi semula.


Nanda tersenyum mengejek, "Itu seperti bukan kamu banget..."


"Apapun alasan saya itu tidak penting. Yang terpenting saya akan keluar dari sini.."ucap Yuna


"Bagaimana jika aku tidak mengijinkan kamu keluar dari perusahaan ini..."tutur Nanda, ia masih berharap Yuna menarik kembali ucapannya.


"Saya tidak peduli, dengan atau tanpa izin dari anda, saya tetap akan keluar dari perusahaan ini Tuan.."tegas Yuna, ia memberanikan diri menatap atasannya dengan tajam.


"Tenang saja Tuan, meskipun saya keluar tidak akan membuat perusahaan ini rugi besar, saya tidak ada pengaruhnya sama sekali. Anda juga dapat mencari sekretaris yang lebih baik dari saya..."sambung Yuna.


Nanda memalingkan mukanya,


"Saya permisi Tuan..."ucap Yuna bangkit keluar dari ruangan Nanda dengan terburu-buru.


"Yuna...."panggil Nanda kembali ia bangkit dari kursinya berusaha kembali mengejar Yuna.


"Tuan, anda sudah di tunggu di ruang meeting..."panggil seorang pria yang merupakan asisten pribadi opa Danu.


"Tapi..."


"Tuan,..."panggil pria itu kembali dengan tekanan, mengisyaratkan bahwa itu tidak dapat di ganggu gugat.


Karena memang pertemuan ini merupakan rapat dengan kolega yang cukup berpengaruh di perusahannya.


"Baiklah... saya akan kesana.."sahut Nanda pasrah, sementara matanya masih melirik ke arah luar. Tak urung ia pun memanggil Lea untuk mengambilkan berkas di ruangannya.


🌹🌹🌹


Dukung author dengan Like, Komentar, Hadiahnya ya😊, makasih


Tbc