DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Reka ulang



Ketika fajar telah menyingsing di pagi hari, Nanda duduk bersandar di ranjang, ia sudah memakai celana pendeknya hanya saja dadanya ia biarkan terekspos. Matanya menatap luar, bias cahaya masuk melalui jendela kaca, dapat ia lihat langit menggelap, perlahan rintik hujan pun mulai turun membasahi tanah yang mengering. Melirik ke arah samping di mana istrinya kini masih terlelap dalam keadaan polos, beberapa kali ia terlihat mengeratkan selimutnya untuk menghangatkan tubuhnya.


"Apakah begitu dingin ? kenapa dia tidak kunjung bangun.."gumamnya.


Nanda mengangkat sudut bibirnya sambil menggelengkan kepalanya, Yuna terlihat lucu saat dengan posisi terlelap. Mengingat kejadian semalam, tentu saja ia senang sekaligus merasa lucu dan heran akan tingkah pikiran mesum istrinya. Bagaimana Yuna berkali-kali menggumamkan rasa penasarannya.


Eughhh... Yuna melengguh dalam tidurnya, perlahan ia menggeliat dalam tidurnya, tapi anehnya ia sama sekali tidak bangun, wanita itu justru kembali menikmati tidurnya. Nanda menggelengkan kepalanya, melirik jam di atas nakas waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, tapi istrinya tidak kunjung bangun, Nanda pikir apa dia tidak lapar.


Menghela nafasnya, perlahan Nanda mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, lalu membelai pipinya.


"Na, ayo bangun, udah siang banget lho..?"Nanda mencoba mengguncang tubuh istrinya yang masih dalam keadaan mata terpejam.


Tidak ada jawaban, Yuna masih saja terpejam, membuat Nanda berdecak, "ck, dasar kebo tidurnya pules banget sih.."


Kali ini Nanda mencoba membangunkannya dengan cara lain.


Cup.. Nanda mengecup pipi istrinya berkali-kali, membuat sang empunya kembali menggeliat.


"Lima menit lagi ya, Bu.."jawab Yuna dengan suara serak dalam keadaan terpejam. Jadi, dia masih mengira yang bangunin itu Ibunya.


Cup.. Kali ini Nanda mencoba mengecup bibir istrinya, sontak membuat kedua mata Yuna terbuka.


"Aaa.. aku kesiangan..."jeritnya.


Karena terkejut, Yuna sedikit mendorong tubuh suaminya, ia langsung mendudukan diri dengan spontan, tanpa menyadari keadaan dirinya yang masih polos tanpa sehelai benangpun.


Nanda menatap istrinya tanpa berkedip, memindai tiap jengkal tubuh istrinya yang tampak putih mulus, lalu leher jenjangnya yang terdapat beberap tanda kissmark yang ia berikan semalam, perlahan pandangannya turun pada kedua b**h d*d* Yuna terlihat lebih menantang, tak lupa rambutnya yang berantakan.


Glek... Nanda menelan salivanya dengan susah, detik itu juga sesuatu di bawah sana kembali bereaksi, hawa panas mulai menjalar pada tubuhnya, padahal saat ini ia juga dalam keadaan telanjang dada, kamar ber ac, jangan lupakan cuaca di luar yang sedang gerimis, bukannya harusnya dingin kenapa justru panas.


"Ck.. sial.."


Niat hati, ingin membangunkan istrinya malah justru membuat ia terperangkam gairah yang tak pernah padam.


Yuna masih terdiam memijat kepalanya yang sedikit pusing, perlahan ia melirik ke samping. terlihat di sana Nanda sedang menatapnya dengan wajah dan mata memerah tak berkedip. Sontak, Yuna melihat ke arah dirinya.


"Ya ampun,..."pekiknya terkejut, Yuna segera mengambil selimut untuk menutupi tubuh atasnya.


"Mas, aku akan pergi mandi.."ucapnya gugup, ia tau saat ini, ia telah memancing gairah suaminya kembali. Yuna hendak beranjak, tapi ia terkejut saat menyadari sebuah tangan menahannya dan kembali menarik tubuhnya, membuat ia kembali jatuh ke ranjang.


"Mas... aku..."pekiknya kembali.


"Diam, bukankah kau sangat penasaran. Ayo kita reka adegan ulang seperti semalam..."seru Nanda, kali ini pria itu sudah menindih tubuh istrinya.


Yuna terkejut, "jadi, semalam kamu..."


"Benar, aku mendengar ocehanmu. Ternyata kau sangat mesum ya..."godanya, membuat Yuna merona malu, ia hanya mengatakan penasaran bukan berarti mesum bukan. Apakah sama seperti di video yang pernah Lea tontonkan padanya, ck ini semua karena Lea jadi membuat otak Yuna ternodai.


"Kamu tuh ja-"


Cup... Yuna tak bisa melanjutkan ucapannya, saat ia merasakan sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya, mendadak badannya melemas layaknya jelly, alirah darahnya mendesir hebat.


Kenapa bisa semanis ini,batin Yuna.


Nanda semakin memperdalam ciumannya, memaksa Yuna untuk membuka bibirnya, membiarkan sang suami mengeksplor segala isi mulutnya. Yuna yang awalnya diam, kini mulai membalas permainan lidahnya suaminya, ciuman yang semakin dalam dan semakin menuntut hal yang lebih.


"Aku lapar..."ucapnya usai pangutan bibirnya terlepas.


"Nanti makan yang banyak, sekarang kau harus layani aku dulu..."sahut Nanda serak, pria itu sedikit beranjak dari tubuhnya untuk melepaskan celana miliknya.


"Mau apa...?"ucapnya gugup.


"Ck buka celana lah. Katanya kamu penasaran..."godanya, membuat Yuna melengos, semburat rona merah mulai muncul di pipinya, kenapa suaminya haru menggodanya berkali-kali.


Usai berhasil melepaskan celananya, Nanda kembali menindih tubuh istrinya.


"Kenapa tidak jadi lihat, katanya penasaran. Bilangnya pengen pegang malah, boleh kok.. Ayo dong hadap kemari sayang. Aku gak mau lho kamu penasaran jadi gak bisa tidur nyenyak..."godanya semakin menjadi.


"Ih mesum.."decak Yuna, kini ia memberanikan diri menatao suaminya, juga melihat ke arah bawah sana, tak lama matanya membulat sempurna, ia menelan salivanya dengan susah.


Pantas sakit, eh..


"Jadi pegang gak..."bisiknya di teling istrinya. Yuna menggeleng.


Nanda terkekeh, rasanya senang sekali menggoda istrinya. Tak lama Yuna tersentak kaget saat merasakan Nanda kembali memasuki dirinya di bawah sana. Saat ingin membuka mulutnya, Nanda sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.


Pada akhirnya, kedua pengantin baru itu kembali mengulang pergumulan panasnya. Jika semalam mereka melakukannya dengan keadaan gelap, saat ini mereka melakukanya dengan keadaan terang, jadi semua bisa terekam jelas di otak keduanya. Jangan lupakan cuaca di luar yang terlihat begitu mendukung.


Yuna merasakan sesuatu yang hangat kembali membasahi rahimnya, tak lama Nanda menjatuhkan dirinya di sebelahnya setelah mengecup keningnya.


Kemudian Nanda bangkit dengan keadaan polos, ia menggendong Yuna ala bridal style.


"Mau kemana ?"


"Mandi.."jawab Nanda singkat.


"Aku bisa mandi sendiri,"Yuna mencoba menolak mandi bersama, karena pasti akan memakan waktu lama jika berdua, suaminya itu mana mau mandi cuma-cuma.


"Biar hemat waktu jadi sekalian saja mandi bersama..."jawab Nanda enteng, Yuna mencebik kesal itu hanya alasan doang,


Byurr... Nanda menceburkan Yuna ke dalam bathup.


"Mas kamu tuh, benar-benar.."geram Yuna pada suaminya.


"Kelepasan sayang, tadi kepleset. Sebagai permintaan maafnya aku akan memandikan kamu..."jelas Nanda.


"Cih alasan, itu mah akalan kamu aja..."cebik Yuna membuat Nanda terkekeh, kenapa sekarang istrinya itu jadi pandai membaca gelagat dirinya ya.


Nanda melangkah masuk ke dalam bathup, dia duduk di belakang istrinya, lalu ia mulai menggosok-gosok punggung istrinya, tapi kadang mengecup punggungnya, juga memegang dan merema bagian depan istrinya.


"Tanganmu lho mas, jangan kemana-mana.."


"Orang dari tadi tanganku juga di sini.."elaknya.


Tetap saja Nanda tidak merasa bersalah, pada akhirnya Yuna terdiam pasrah saat suaminya itu kembali mengulang pergumulan panasnya.


Satu jam kemudian, Nanda menggendong Yuna keluar kamar mandi lalu mendudukannya di ranjang, terlihat wajah Yuna cemberut kesal sedangkan Nanda berbinar bahagia.


"Jangan cemberut gitu lho, kan aku jadi pengen gigit bibir kamu..."godanya sambil memakai pakaiannya di depan istrinya, membuat Yuna melototkan kedua matanya.


"Dasar tidak tau malu..."umpat Yuna memalingkan mukanya.


"Kenap harus malu, kamu juga udah lihat semuanya.."jelas Nanda.


Yuna menghela nafasnya, saat ini badannya lemas tak bertenaga, bahkan ia hanya memakai bathrobe saja belum berganti pakaian.


Nanda mengambilkan pakain ganti istrinya lalu membantunya memakaikannya.


"Tenang, aku tidak akan melakukannya lagi kok.."tuturnya ia tau apa yang di khawatirkan istrinya.


Usai membantu isrtinya berpakaian, Nanda mengambil ponselnya meminta untuk di antarkan makanan.


"Aku lapar sekali..."lirih Yuna.


Nanda menghela nafasnya, "maaf ya..."ucapnya, ia juga tidak tau kenapa bisa lepas kendali begitu saat bersama istrinya. Harusnya ia tidak membiarkan istrinya itu kepalaran demi memenuhi hasrat birahinya. Kenapa ia bisa bertindak kejam begitu.


•••


Yuk dukung author dengan like, komentar, hadiahnya


Tbc