
Beberapa saat kemudian Brian sudah selesai memeriksa soal latihan yang dikerjakan Alula, sedangkan Alula masih sibuk memakan manisan mangga sembari membaca kembali materi yang sudah dipelajarinya tadi.
"Alula jawabannya benar semua." Ucap Brian menghentikan kegiatan Alula yang ingin melahap manisan yang sudah ada di hadapan mulutnya.
"Really? " Alula sedikit terkejut namun sangat bahagia mendengar ucapan Brian.
"Tentu saja! Aku ternyata berbakat juga menjadi seorang guru, wahhh.." Brian langsung membayangkan hidupnya jika menjadi seorang guru.
"Hadiah untuk kak Brian." Alula menyuapkan manisan yang ada di tangannya kedalam mulut Brian yang sedang terbuka.
Brian refleks mengatupkan mulutnya saat sepotong manisan menyentuh lidahnya, matanya membulat sempurna merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan Alula untuknya barusan.
"Ini curang, jantungku belum ada persiapan jika Alula melakukannya dengan tiba-tiba seperti ini." Batin Brian dengan tubuh yang membeku.
"Kak Brian tidak suka manisan?" Alula terlihat khawatir mendapati Brian yang hanya diam saja setelah Alula menyuapkan manisan ke mulutnya, Brian menggelengkan kepalanya.
"Lalu? Kenapa tidak dikunyah?"
"I.. iya Alula." Dengan gugup dan jantung yang berdetak kencang Brian mulai mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
Sedangkan Alula langsung mengambil buku soal latihannya yang masih ada di tangan Brian, matanya kembali meneliti setiap jawaban yang tadi di tulisnya, merasa tidak percaya bahwa jawabannya benar semua.
"Aku tidak percaya bisa mengerjakan semua ini." Gumam Alula membuat Brian tersenyum.
"Kerja bagus Alula." Brian mengusap kepala Alula membuat Alula terpaku di tempatnya.
Brian berniat menarik kembali tangannya, namun tangan Alula lebih dulu meraihnya dan menurunkan tangan Brian.
"Makasih ya kak Brian udah mau bantuin Alula." Alula tersenyum manis dengan tangan yang masih menyentuh tangan Brian.
"I.. Iya Alula, sama-sama." Brian ikut tersenyum mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Jantungku benar-benar dalam bahaya jika Alula selalu bertindak tiba-tiba seperti ini, tapi di satu sisi, hatiku juga sangat bahagia." Batin Brian sibuk berperang dengan perasaannya sendiri.
"Alula kamu bisa bermain gitar?" Brian mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
"Hmm sedikit, sebenarnya Alula baru belajar kak."
"Sudah berapa lama?" Brian bangkit dari duduknya dan mengambil gitar yang ada di sebelah kanannya itu.
"Mmm.. sekitar 4 bulan." Alula hanya memperhatikan apa yang akan Brian lakukan dengan gitarnya.
Brian kembali duduk di hadapan Alula, namun kali ini Brian duduk di atas sofa dengan gitar yang sudah berada di pangkuannya.
"Asal kamu tahu Aku juga mahir bermain gitar, Aku akan menyanyikan satu lagu." Brian sudah bersiap begitupun dengan Alula yang sudah siap mendengarkan Brian.
...Can I call you baby?...
...(Bolehkah aku memanggilmu sayang?)...
...Can you be my friend?...
...(Bisakah kamu menjadi temanku?)...
...Can you be my lover up until the very end...
...(Bisakah kamu menjadi kekasihku sampai akhir?) ...
...(Biarkan saya menunjukkan cinta, oh, saya tidak berpura-pura) ...
...Stick by my side even when the world is givin' in, yeah...
...(Tetap di sisiku bahkan ketika dunia menyerah, ya)...
...........
"Wuaaa..! keren kak Brian, suara kak Brian juga merdu." Alula bertepuk tangan setelah Brian berhasil menyanyikan satu lagu. "Kak Brian tahu tidak, Alula juga sedang mempelajari kunci gitar untuk lagu itu tahu, Kak Brian benar-benar keren sudah bisa menyanyikan lagunya dengan baik. "
Brian tersenyum senang mendengar pujian Alula untuknya, meskipun sebenarnya Brian hanya ingin mengungkapkan perasaannya lewat lagu milik Pink Sweats yang dinyanyikannya barusan.
"Mau aku ajarkan cara bermain gitar juga?"
Tawaran Brian tentu saja membuat Alula langsung menganggukkan kepalanya. Alula segera bangkit dari duduknya dan beralih duduk di samping Brian. Brian dengan senang hati mengajarkan Alula kunci bermain gitar untuk lagu yang dinyanyikannya tadi. Brian sangat menyukai saat Alula beberapa kali mengulangi lagu itu, didalam hatinya Brian selalu menjawab yes setiap bait lagu yang Alula nyanyikan.
Kadang-kadang Alula dan Brian tertawa saat Alula memetik gitarnya asal yang menciptakan suara aneh. Suara tawa keduanya beberapa kali menggema di dalam apartemen Alula. Hingga tanpa terasa langit mulai menggelap dan jam dinding yang ada di apartemen Alula sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Ponsel Alula tiba-tiba berdering, Alula yang sudah mengetahui siapa orang yang akan menghubunginya segera meraih ponselnya yang ada di atas meja. Ekspresi wajah cantik Alula sudah berubah dingin dan terlihat sangat enggan untuk menerima panggilan itu.
"Ini dia! wajah cantik dan dingin Alula yang aku lihat di Sydney waktu itu." Batin Brian saat melihat perubahan raut wajah Alula.
"Halo Alula sayang."
"Hmm." Seperti biasa Alula hanya menjawab gumaman kecil setiap kali Diana menghubunginya.
"Alula sayang bagaimana kegiatannya hari ini? Kata Bi Uti hari ini kamu ada kegiatan belajar, semangat ya sayang kamu pasti merasa kelelahan."
"Hmm."
"Ya sudah, sebaiknya kamu segera makan malam dan setelah itu kamu segera istirahat. Besok kamu harus pergi sekolah kan sayang, jadi jangan sampai kamu kecapean."
"Hmm."
"Baiklah Mommy tutup dulu panggilannya, selamat malam Alula sayang."
"Hmm."
Seperti biasa setelah mengakhiri panggilannya Alula akan kembali berekspresi ceria seperti tidak terjadi apa-apa, Brian yang kembali melihat perubahan ekspresi dari wajah Alula bersikap biasa saja seolah Brian tidak menyadari hal itu.
"Kak Brian mau makan malam di sini dulu?" Alula berbicara setelah meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Untuk malam ini tidak, lain kali saja, tapi terimakasih atas tawarannya." Brian tersenyum menolak halus ajakan Alula.
"Aku pulang dulu ya, kamu jangan lupa makan malam, setelah itu langsung istirahat." Brian kembali mengusap kepala Alula untuk yang kedua kalinya, kemudian bangkit dari duduknya.
"Iya kak Brian, makasih ya untuk hari ini." Alula tersenyum manis, ikut bangkit dari duduknya lalu mengantar Brian keluar dari apartemennya.
"Masuklah Aku juga akan masuk." Brian tersenyum kecil melihat Alula yang menyembulkan sedikit kepalanya untuk memastikan apakah dirinya sudah masuk ke dalam apartemennya atau belum.
Beberapa saat kemudian Brian yang sudah selesai membersihkan tubuhnya di apartemennya sendiri, segera menuju area dapur dan mengambil salad buah yang ada di lemari pendinginnya. Brian duduk di atas meja makannya dan mulai memakan salad buah yang selalu di kirimkan oleh Tante Rina untuknya.
Pikiran Brian mulai berkelana memikirkan perubahan raut wajah Alula saat tadi menerima panggilan masuk dari seseorang. Brian tidak tahu siapa orang yang menghubungi Alula tadi, karena tadi Brian tidak sempat membaca nama orang yang tertera di layar ponsel Alula saat ponselnya berdering.
"Alula seperti memiliki dua kepribadian.." Brian menghentikan kegiatan makannya. "Yang satu gadis cantik yang ceria dan yang satu lagi gadis cantik yang dingin, dan sepertinya aku menyukai kepribadian..."