
Usai memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai, terlihat Nanda sedang mengobrol bersama rekan bisnisnya, tak jarang juga Yuna bertegur sapa. Sebagai seorang sekretaris tentu Yuna juga mengenal sebagian rekan bisnis atasannya itu.
Akhirnya setelah sekian lama bertukar sapa rekan bisnis Nanda pamit, ia pun mengiyakannya.
"Hai Nanda...."seorang wanita cantik menghampiri keduanya.
"Hai juga.."sahut Nanda balik
Sebelum Tuan Nanda menyuruh aku pergi mendingan aku pergi lebih dulu.Gumamnya
Diam-diam Yuna memutar tubuhnya berniat meninggalkan keduanya.
"Yuna..."panggil sebuah suara yang cukup Yuna kenali.
Halu deh Yun, mana mungkin Tuan Nanda memanggilmu.
"Yuna..."suara Nanda semakin terdengar kencang saat Yuna lebih memilih kembali melangkah maju.
Pada akhirnya Yuna kembali memutar tubuhnya. Dan benar saja jika Nanda memang memanggil dirinya, bergegas Yuna kembali berjalan menghampiri Nanda yang masih berhadapan dengan wanita itu.
"Ada apa...?"tanya Yuna sembari melirik wanita di hadapannya. Jika di lihat dari dekat wanita itu memang terlihat cantik. Jujur, Yuna juga mengangguminya.
"Kenalin-"
"Oh pasti mau ngenalin pacar baru Tuan ya..? Tuan cepet banget dapatnya.."bisik Yuna pada Nanda. Nanda yang mendengar bisikan Yuna malah jadi cekikikan di hati sambil menahan tawanya.
"Iya kok kamu tau sih.."goda Nanda
"Ck.."Yuna berdecak.
"Kenalin dia Yuna, pacar saya.."ujar Nanda pada wanita di hadapannya, tentu saja hal itu membuat Yuna terkejut. Nanda segera menarik mesra pinggang Yuna lalu mengambil tangannya dan mengecupnya, setelahnya ia membawa Yuna pergi dari hadapan wanita itu.
"Ih Tuan modus terus ya saya perhatikan.."sindir Yuna pada Nanda.
"Modus gimana sih Yuna ? Toh masih ada kamu ini, kalau saya di ganggu sama cewek gak jelas, masih ada kamu untuk alasan menolak mereka.."ujar Nanda tanpa dosa.
Oh hanya untuk alasan, gumam Yuna.
Keduanya kembali saling terdiam, hingga sebuah pemandangan langka di depannya menarik perhatiannya.
"Buna ayo kesana.."pinta seorang gadis kecil.
"Misel, kamu sama ayah kamu aja ya, Buna mau ke kamar mandi.."pinta Rena
"Rena.."panggil Nanda
Rena mengalihkan pandangannya ke Nanda, "Hai Nanda, Yuna."sapanya
Yuna membalasnya dengan senyuman tipis.
"Buna ayo Misel ingin makan ice cream.."rengek gadis kecil itu.
"Sebentar sayang, oke.."
Nanda mengerutkan keningnya, "Gak pernah ketemu, sekalinya ketemu kamu udah punya anak aja Ren.Ckckck.."goda Nanda
"sembarangan.."
"Lha ini, "
"ceritanya panjang. Udah dulu ya kalian nikmati aja pestanya,.."seru Rena karena tangannya sudah di tarik-tarik Misel.
Nanda masih menatap kepergian Rena sambil menggelengkan kepalanya.
"Cemburu ya Tuan.."tanya Yuna
Nanda menatap Yuna sekilas, "Biasa aja. Gak ada kamusnya saya cemburu Yun.."serunya datar.
Yuna mengangguk mengerti. "Saya laper, jadi saya ingin makan.."
"Ayo.."
Nanda dan Yuna beralih ke tempat hidangan.
"Heran kamu ini kenapa seperti tidak pernah makan setahun.."celetuk Nanda saat melihat Nada sedang menikmati makanannya dengan lahap.
"Berisik, ganggu aja sana pergi.."sahut Nada
Bukannya pergi Nanda justru mendudukan dirinya di sebelah Nada, lalu ia mengangkat tangannya sambil menarik hidung Nada.
"aaaa dasar Nanda sialan.."umpat Nada kesal dengan kencang tentu saja teriakannya itu mengundang perhatian tamu yang lain.
"Kangen berantem aku sama kamu.."seru Nanda.
"Jangan gitulah nda, gak malu apa dilihatin banyak orang.."celetuk Tristan.
"Tuan Nanda mah rasanya malunya dah hilang.."timpal Yuna, sontak langsung mendapat tatapan tajam dari Nanda.
Ops... Yuna segera menutup mulutnya, Ya ampun kenapa mulutku begitu jujur, lihatlah tatapannya itu.
"Maaf Tuan aku keceplosan... Eh maksudku salah bicara.."secepat kilat Yuna meralat ucapannya.
Nada dan Tristan terkekeh, "Kamu benar banget Yun, saudara kembarku ini memang tidak tau malu dan..."
"Apa...?"desak Nanda kesal.
"Dan gengsinya gede, udah gitu tukang modus lagi..."seru Nada dengan terus asik sambil mengunyah, kali ini ia makan buah-buahan di piringnya.
"Sembarangan.."tukas Nanda tak terima.
Yuna terkikik geli, sementara Tristan menggelengkan kepalanya Nada dan Nanda emang sejak dulu juga begitu suka ribut.
"Nad, pulang yuk.."ajak Tristan
"Ini lagi satu sedari tadi minta pulang mulu, gak lihat istri lagi senangnya makan.."cetus Nada
๐น๐น๐น
Mobil Tristan telah sampai di pelataran rumah Alan dan Vriska.
"Nad.."panggil Tristan
Nada tidak menghiraukan panggilan suaminya, ia bergerak cepat membuka seatbeltnya lalu berlari masuk sambil menutup mulutnya.
"Nad, jangan lari... Kau kenapa.."seru Tristan dengan wajah cemas melihat istrinya berjalan masuk dengan tergesa-gesa.
"Mual.."jawab Nada sambil terus berlari.
Tidak kuat untuk menuju kamarnya, Nada langsung berlari menuju dapur dan memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.
Huek.. huek..
Sekian detik akhirnya Nada merasakan sebuah pijatan lembut di lehernya.
"Masih mual.."tutur Tristan
"Heem.. banget perutku gak enak.."lirih Nada sambil membasuh mukanya dengan air, Tristan berlalu mengambil tisu lalu mengelap sudut bibir istrinya.
"Masih mau muntah lagi.."
"Enggak..."Nada menggeleng lemah.
Tristan menarik nafasnya sebelum kemudian ia beralih menggendong Nada ala bridal style lalu membawanya naik menuju kamarnya.
"Lho Non Nada kenapa..?"tanya Bi Ningsih
"Mual Bi.."jawab Tristan
"Oh ya sudah nanti saya buat ramuan jahe ya buat ngobati rasa mualnya.."
"Makasih ya Bi.."
Setalah perbincangan kecilnya, Tristan kembali berlalu membawa Nada ke kamarnya. Sampai di sana ia membaringkan istrinya di ranjang, tak lupa ia melepaskan sandal Nada.
"Buka bajumu.."pinta Tristan
Sontak Nada melotot pikirannya langsung berkelana kemana-mana, ia langsung menyilangkan tangannya di dada, Tristan mengernyit bingung.
"Maksudku segera buka bajumu dan ganti, aku akan membalurkan minyak kayu putih di perutmu.."ralat Tristan
"Oh aku pikir..-"
"Pikiranmu Nad ternyata sangat mesum, di kata aku gak punya hati apa istri lagi begini aku makan aja.."ujar Tristan.
"Ya kamu sih ngomong setengah-setangah.."sahut Nada
Tristan segera mengambilkan pakaian ganti Nada, lalu membantu istrinya berpakaian, kemudian tak lupa ia juga membalurkan minyak kayu putih di perut istrinya.
"Jangan rewel di perut Bunda ya sayang.."bisik Tristan pas di perut istrinya, seolah ia sedang berbicara pada kedua anaknya.
Tak lama kemudian pintu kamarnya di ketuk dari luar, Bi Ningsih datang membawakan minuman jahe untuk Nada.
Keduanya memang masih tinggal di rumah orang tuanya, semua atas kemauan Alan. Lagi Tristan juga berniat untuk merenovasi rumahnya lebih dulu.
๐น๐น
"Makasih ya Tuan sudah mengantar saya sampai kontrakan.."ucap Yuna saat mobil atasannya sudah berhenti di depan kontrakan.
"Hem.."jawab Nanda
"Ya sudah saya keluar..." Yuna segera membuka pintu mobilnya.
"Yuna..."panggil Nanda kembali
"Ya..."Yuna kembali memutar tubuhnya
"Gak cuman ngetes telinga.."jawab Nanda asal, dasar atasan gak ada ahlak emang.
"ck..."decak Yuna kesal lalu kembali melangkah masuk ke dalam.
Nanda malah terkikik geli di dalam mobilnyan pak sopir yang di depan tampak mesam mesem.
"Jalan pak, pulang ke rumah aja ya. Saya lagi kangen masakan Bi Ningsih.."perinth Nanda
"Baik Den..."sahutnya.
๐น๐น๐น
Jadi Nanda itu tipikal pria yang gengsinya gede, makanya ia susah menyadari perasaannya. Gak apa-apa ya aku masih senang sama sifat Nanda dan Yuna yang masih malu-malu kucing๐.
Senang gitu dengan perlakuan Tristan ke Nada, kan jadi kangen pak suami..๐๐
Untuk Rena dan Davis insya alloh ceritanya nanti akan aku buat di season 2,
Ayo berikan komentar kalian pada Part ini ya.
Tbc