DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Pinjam Bahu



Nanda berdecak kesal saat harus menunggu Yuna di depan kontrakan sekretarisnya itu. Seperti janjinya kemarin jika hari ini Nanda akan mengajak Yuna ke pesta pernikahan Davis dan Nadilla.


Dengan memakai stelan jas berwarna biru laut lalu di dalamnya di padukan dengan kemeja berwarna putih, menambah kesan sempurna ketampanan dirinya. Dengan menyilangkan kedua tangannya di dada ia mengunggu Yuna dengan bersungut kesal, seumur-umur baru kali ini ia di buat menunggu oleh seorang wanita.


"Awas saja nanti akan ku beri dia hukuman karena sudah buat aku menunggu..."sungut Nanda sembari memasukan satu tangannya ke dalam saku celananya.


Krek..


Terdengar suara pintu terbuka, Yuna melangkah keluar dengan hati-hati.


Nanda mengalihkan tatapannya pada Yuna, wanita itu menggunakan gaun berwarna navy tanpa lengan, lalu rambutnya ia kasih hiasan sedikit ke belakang, dengan sebuah anting panjang yang ia sematkan di telinganya tak lupa sebuah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya, tentunya semua itu Nanda yang memberikannya. Yuna tidak tau dalam rangka apa atasannya itu memberikan semua itu, ia hanya mengatakan "Untuk menambah koleksimu.."


Nanda menatap Yuna tanpa berkedip, kata-kata yang sudah ia susun rapi untuk mengumpat Yuna mendadak sirna begitu saja.


"Tuan.."panggil Yuna, namun atasannya itu sama sekali tak bergeming.


"Cantik..."ucap Nanda tanpa sadar sambil menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang hampir tak terlihat.


Yuna mengerutkan keningnya, "Tuan mengatakan apa ? saya cantik ya..?"ucap Yuna sambil terkekeh, padahal sebenarnya ia mendengar jelas ucapan Nanda, tak di pungkiri saat ini jantungnya sudah berdetak lebih cepat, hanya saja Yuna tipikal wanita yang pandai menyembunyikan perasaannya, ia tetap berusaha bersikap biasa tak ingin melambung terlalu tinggi.


Nanda tergagap lalu tersadar dari lamunannya, "Siapa bilang kamu cantik ? yang cantik itu gaunnya, tadi itu saya belum selesai bicara.."dustanya, emang paling jago kalau ngeles dia.


Yuna menganggukan kepalanya sambil ber oh ria, lalu memutar tubuhnya menghadap pintu.


"Eh mau kemana...?"tanya Nanda saat melihat Yuna justru kembali memutar tubuhnya bukannya berjalan masuk ke dalam mobil miliknya.


"Kunci pintu.."jawabnya


Usai mengunci pintu, Yuna berjalan masuk ke dalam mobil atasannya.


"Lho Tuan bawa sopir ..."tanya Yuna yang terkejut yang mendapati seorang pria paruh baya duduk di kursi kemudi.


"Hemm.."Nanda hanya menjawab dengan deheman sambil mendudukan dirinya di sebelah Yuna, lalu ia menutup pintu mobilnya. Keduanya duduk di kursi belakang, lalu sopir mulai melajukan mobilnya menuju tempat pesta.


"Kenapa...?"tanya Yuna lagi


"Lagi males nyetir.."jawabnya asal


"Tapi kan saya bisa nyetir.."


Nanda memicingkan matanya, "Kenapa kamu begitu keberatan saya bawa sopir ?. Tenanglah dia tidak akan mengganggu kita."goda Nanda sambil mencondongkan wajahnya tepat di wajah Yuna.


Yuna memalingkan mukanya ke arah jendela menghindari tatapan atasannya, "Ish pikiranmu itu lho Tuan.."cebik Yuna kesal. Nanda terkekeh lalu menarik kembali kepalanya ia sandarkan pada kursi. Rasanya sekarang menggoda Yuna itu adalah pekerjaan paling menyenangkan.


Dari pada banyak bicara, lalu atasannya itu menjawab dengan hal aneh lebih baik Yuna diam sambil melihat pemandangan jalanan melalu jendela mobil.


Ketenangan Yuna tak lama, tiba-tiba ia kembali terkejut saat Nanda meletakkan kepalanya di bahunya.


"Tuan kepala anda..."ucap Yuna


"Diam, pinjam sebentar bahumu pelit amat sih, saya lelah leher saya terasa pegal. Ini semua juga karena kamu.."ujar Nanda


"Lho kok saya..?"jawab Yuna tak terima.


"Tadi kamu udah biarin saya menunggu lama, jadinya semua badan saya pegal termasuk leher saya, jadi sebagai hukumannya kamu harus membiarkan kepala saya bersandar di bahu kamu.."ujar Nanda sambil menahan tawanya, ia tau saat ini dalam hati Yuna pasti lagi mengumpat dirinya. Bilang aja mau modus Tuan Nanda pakai cari alasan segala.


"Orang cuma nunggu sepuluh menit juga.."seru Yuna, meski kesal ia tetap membiarkan Nanda bersandar di bahunya.


"Sepuluh menit itu juga waktu saya yang berharga. Sebelumnya mana ada saya di suruh menunggu. Harusnya kamu beruntung, di tunggu seorang pria tampan seperti saya. Kamu gak ingat saya itu atasan kamu, dan kamu sudah buat saya menunggu itu benar-benar kurang ajar, masih untung saya cuma menghukumu kamu dengan cara ini.."tutur Nanda.


Yuna memutar bola matanya jengah lalu menghela nafasnya, "ya aja deh.."sahutnya pasrah.


Hening..


Keduanya kembali terdiam, sementara pak sopir yang di depan cuman mesam mesem ikut baper ya pak, anggap aja lagi nonton drama..ckck


Mobil berhenti pas di pertigaan lampu merah, lalu ada sebuah motor sport juga berhenti tepat di samping mobil Nanda, memperlihatkan seorang wanita cantik yang di bonceng seorang pria. Kebetulan kaca mobil dalam keadaan terbuka, Nanda menggunakan kesempatan itu untuk menggoda wanita itu.


"Hai.."sapanya dengan senyum manis menggoda sambil melambaikan tangannya, membuat wanita itu langsung merona.


Yuna menggelengkan kepalanya, "Dasar buaya darat.."umpatnya dalam hati.


Hal itu tidak berlangsung lama beberapa detik kemudian lampu lalu lintas kembali berwarna hijau, mobil pun kembali berjalan.


"Cemburu Yun.."tanya Nanda


"Gak lah, gak ada hak saya cemburu pada anda.."


"Cemburu juga gak papa.."sahutnya sambil terkekeh, *pengen banget sih di cemburuin Yuna..ckck


Tidak jauh beda dengan Nanda yang kesal karena menunggu Yuna. Hal itu pun berlaku untuk Tristan, ia bersungut kesal saat harus menunggu istrinya. Hampir satu lemari gaun Nada di keluarkan dan di coba semuanya. Sebelumnya Tristan sudah menyarankan tidak usah datang saja, tapi Nada tetap memaksa katanya tidak enak dengan tante Disty lagi pula ia juga ingin makan enak. Dasar Nada emang di rumah makanannya gak enak ya.


Kebetulan Alan dan Vriska saat ini sedang berada di luar kota jadi mereka tidak bisa datang.


"Masih lama ya Nad, aku ngantuk jadinya..."ucap Tristan


"lima menit lagi..."


Tristan mengusap wajahnya kasar, sedari tadi setiap di tanya pasti jawabannya tetap sama lima menit lagi.


"Udahlah ngapain harus cantik-cantik segala, biasa aja kaya biasanya.."tutur Tristan, jujur saja ia sudah jengah melihat gaun yang sudah berserakan di kasur lalu melihat Nada yang mematut di cermin tak kunjung selesai.


"Enak saja, aku harus tetap cantik dong. Kan aku mau datang ke pesta pernikahan mantan pacar suami aku, aku gak mau ya di sana kamu lirik-lirik dia.."decak Nada


"Ya udah sekalian aja gak usah datang, kan beres.. Sudah ku katakan dia bukan mantanku juga.."


"Tidak bisa dong, kita harus tetap datang.."seru Nada


Tristan meremas rambutnya, "Ya udah buru Nad, aku keburu ngantuk ni. Pusing aku liat kamu gak selesai-selesai.."


"Ih diam napa, sebentar lagi..."


Tristan sudah mulai menguap merasa lelah menunggu istrinya,.


Terakhir Nada memakai lipstik merah menyala di bibirnya.


"Sudah ayo berangkat..."seru Nada yang sudah selesai berdandan, dengan pilihannya jatuh pada gaun berwarna peach dengan motif bunga . Sedangkan Tristan memakai stelan jas berwarna coklat muda dengan di padukan kemeja putih di dalamnya.


Tristan menghela nafas lega, lalu bangkit dari sofanya, namun ia terkejut ia mendapati dandanan istrinya dengan bibir yang begitu menor.


"Ayo.."ucapnya menggandeng istrinya keluar.


Begitu turun dari tangga terlihat Bi Ningsih dan Calvin terkejut, "Kakak ih dandanannya norak.."celetuk Calvin


"Bodo amat,.."sahut Nada


"Sudah ayo.."sela Tristan tak ingin istrinya terus ribut dengan adiknya itu.


Tristan membukakan pintu mobil untuk istrinya, setelah itu ia kembali memutari mobilnya menuju kursi kemudi.


Klek.. Tristan mengancingkan seatbelt untuk istrinya, lalu ia mengambil satu lembar tisu di mobilnya.


"Sayang, lihat sini deh.."tutut Tristan dengan lenbut..


"Kenapa...?"sahut Nada


"Ada sesuatu di bibirmu, kemarilah biar ku bersihkan.."


Tanpa curiga Nada mencondongkan wajahnya pada suaminya, perlahan Tristan mulai menghapus rona merah di bibir istrinya.


"Nah begini kan malah terlihat cantik.."


"Ih kok malah di hapus.."cetus Nada kesal


"Pakailah lipbalm saja, jangan pakai warna seperti itu. Yang ada kau malah terlihat seperti wanita penggoda, kau boleh memakainya nanti malam saat di kamar berdua denganku, okey.."seru Trisan sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu mulai menjalankan mobilnya.


Nada bersungut kesal, namun tak urung ia pun menuruti apa kata suaminya.


🌹🌹🌹


Sorry telat up, tadi gak punya kuota😂😂 jadi harus nunggu pak suami kirimin dulu.


Ini Ara up panjang lho, ayo berikan komentar kalian untuk part ini..??


Di tunggu ya


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya.


Tbc.