
Nanda memandang undangan pernikahan dari Darren dengen kening mengkerut.
Tuan Nanda dan Partner, tulisnya di kolom nama.
Partner siapa coba, karena saat ini ia benar-benar jomblo. Sejak kejadian ia masuk ke dalam rumah sakit, Nanda kini tidak pernah kembali mempermainkan wanita. Tentu saja ia harus menjaga image perusahaan opanya.
Nanda mengambil ponselnya di atas meja, lalu ia mulai mencari kontak Rena.
@Nanda
Ren, hari minggu apa kau ada acara.?
@Rena
Kenapa memangnya..?
@Nanda
Temani aku ke pesta pernikahan rekan bisnisku ya, bisa gak..
@Rena
Sorry Nanda, hari minggu aku ada jadwal praktik di rumah sakit. Kau tau kan aku sudah masuk kuliah lagi, jadi sekarang aku tidak ada waktu bermain.
@Nanda
Oke terimakasih
@Rena
Maaf ya..
Nanda meletakkan ponselnya, lalu ia kembali tersenyum kecut. Pikirannya menerawang pada sifat Rena, wanita itu memang telah mampu membuat hatinya terpikat, dia cantik, pintar, mandiri. Tapi Nanda juga harus sadar, seberapa kuatpun dia mengejar Rena, wanita itu akan selalu mempunyai seribu alasan untuk menjauhi dirinya.
Rena begitu berambisi dengan cita-citanya, hingga ia melupakan sebuah komitmen dengan pria. Baginya semua pria hanyalah teman, tak ada yang mampu menggugah hatinya.
"Tuan apa anda mengantuk. Perlukah saya buatkan kopi...."tegur Yuna saat melihat Nanda melamun.
"Tidak perlu..."sahutnya
Nanda melirik ke arah Yuna menilai detail penampilan Yuna.
"Ish enggak banget kayaknya, kalau aku ngajak dia.."lirihnya, sambil menggelengkan kepalanya.
🌹🌹🌹
Pagi ini Tristan kembali ke rutinitas biasa, ia menganggap kejadian kemarin sebagai angin lalu, biarlah semua berjalan layaknya air mengalir, ia tidak akan memaksa perasaan Nada. Tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tristan.."panggil Nada , ketika ia melihat Tristan masuk ke dalam ruangannya. Ia menghela nafas lega, tanpa sadar ia menarik sudut bibirnya ke atas .
"Kau sudah datang, tumben.."sahut Tristan tanpa melirik ke arah Nada, pria itu terus berjalan ke meja kerjanya.
"Kau tidak pulang semalam kemana..?"tanya Nada, ia berdiri di depan meja Tristan.
Tristan melirik ke Nada sekilas, "Rumah mama.."jawabnya cuek.
"Kenapa tidak memberi kabar,.."
"Aku pikir tidak penting untukmu bagaimana keadaanku.."serunya
"Sudahlah, kembali saja ke meja kerjamu. Kerjakan apa yang harusnya kau kerjakan.."sambung Tristan tanpa melihat ke arah Nada.
Nada memandang Tristan dengan sendu, ia merasa Tristan berubah, entah kenapa ia merasakan ada sesuatu yang hilang.
Nada kembali ke meja kerjanya, ia berusaha memfokuskan dirinya pada laptop di depannya, namun ia sama sekali tidak bisa konsentrasi. Ekor matanya terus bergerak melihat suaminya, Tristan masih tetap di meja kerjanya,.
"Tristan, aku...."
tok...tok..
"Masuk.."sahut Tristan..
Ucapan Nada terpotong kala ada bunyi ketukan di balik pintu.
Tristan tersenyum tipis, "Baiklah pi.. Jam berapa meetingnya di mulai.."
"Tiga puluh menit lagi, jangan lupa tempatnya di cafe Alumna ya. Dan ini berkas-berkasnya.."tutur Alan
"Baik pi.."
Alan menganggukan kepalanya, lalu melirik ke arah Nada kemudian ia mengernyitkan keningnya.
"Kau kenapa Nad, lemas gitu. Ada masalah.."tanya Alan, Tristan mengikuti arah pandang Alan melihat Nada.
Nada terkejut namun sedetik kemudian ia tersenyum, "No Papi, aku baik-baik saja."
"Apa kau sakit.."tanya Alan dengan khawatir.
"Baiklah, jaga kesehatanmu. Jangan sampai telat makan, kau mempunyai penyakit maagh.."
"Iya Papi, cerewet ih kaya Mami saja.."
"Papi lupa kan kau sudah bersuami, dia pasti selalu mengingatkanmu makan kan, soalnya kau suka lupa makan Nad, apa lagi kalau sedang galau.."ucap Alan
"Papi tenang saja, sudah sana nanti Mami menunggumu.."usir Nada dengan senyum di wajahnya.
"Baiklah, kalian mau berduaan. Papi ganggu ya.. Papi pergi dulu ya.."
Sepeninggal Alan, Tristan memandang Nada sejenak, benar jika di perhatikan wajah wanita itu memang tampak pucat, apa ia belum makan.
"Ayo Tristan, kita harus berangkat sekarang kan."seru Nada, wanita ia berdiri.
Tristan menganggukan kepalanya, "ayo.."
Tristan berjalan mendahului Nada. Nada meringis memegangi perutnya. Ia menatap nanar langkah Tristan yang begitu cepat, padahal biasanya Tristan akan menunggu dan berjalan di sampingnya, tapi sekarang pria itu seolah tak perduli lagi dengannya.
"Maafin aku Tristan, aku tidak tau perasaanku sebenarnya padamu. Aku masih sangat takut untuk kembali mempercayai pria. Beri aku waktu lagi.."lirihnya
Nada menghapus sudut mata yang basah, merasa sudah baikan. Nada berjalan keluar menyusul Tristan.
"Kenapa lama sekali..."tanya Tristan saat Nada baru masuk ke dalam mobilnya.
"Oh ya tadi aku toilet sebentar.."dustanya, Tristan hanya menganggukan kepalanya.
🌹🌹🌹
Sampai di restoran Tuan Peater sudah menunggu kedatangan mereka. Berbasa-basi sedikit, kemudian mereka kembali masuk dalam pembicaraan bisnis. Hingga tidak terasa mereka sudah menghabiskan waktu satu jam, kemudian di tutup dengan makan siang bersama.
"Tuan Tristan apa ini istri anda, putri dari Tuan Alan.."tanya Peater
"Iya Tuan.. Dia istri saya.."seru Tristan,
Entah kenapa mendengar Tristan memperkenalkan sebagi istrinya, ada perasaan hangat yang mengalis di hati Nada.
Di pertengahan makan, Nada tiba-tiba pamit ke toilet. Tristan pun mengijinkannya.
Usai beres dari toilet, Nada bermaksud untuk kembali ke mejanya. Namun tiba tangannya di tarik dan mulutnya di bekap oleh seseorang.
"aa..."jeritan Nada tertahan, karena dekapan tangan seseorang itu.
"Diam, ini aku Nad..."
"Liam.."ucap Nada terkejut
🌹🌹🌹
Dukung karyaku dengan
Like
komentar
hadiahnya ya
Tbc.