
Hari terus berlalu tanpa terasa kandungan Nada kini sudah memasuki usia empat bulan, ia dan Tristan juga sudah menempati rumah peninggalan orang tua Tristan yang sudah di renovasi. Semenjak hamil Nada emang sudah tidak di perbolehkan kerja, maklum morning sickness yang di alami Nada begitu parah. Dan sekarang memasuki usai empat bulan ia sudah jarang merasakan mual. Vriska juga sering berkunjung pada siang hari ke rumah mereka, tak lupa Tristan juga mengerjakan seseorang lalu akan pulang pada saat waktu hampir petang.
Sampai detik ini Tristan masih merasa aman-aman saja, Nada belum pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh gitu dengan alasan ngidam.
Tapi malam ini Tristan mendadak merasa hawanya tidak enak, saat pulang kerja melihat istrinya bersandar di ranjang dengan wajah cemberut.
"Kenapa...?"tanya Tristan lembut.
"Aku bosan.."sahutnya
"Terus gimana ? apa kamu menginginkan sesuatu... Atau mau menginap di rumah mami.."ujar Tristan
Nada menggeleng, ia belum menginginkan apapun saat ini.
Tapi...
"Kalau aku menginginkan sesuatu apa kamu akan mengabulkannya.."tanya Nada dengan serius.
Tristan mengangguk, "Tentu, orang bilang kalau keinginan ibu hamil tidak di turuti nanti anaknya pas lahir jadi ileran.."jawabnya tentu saja jawaban Tristan membuat mata Nada berbinar bahagia.
"Aku tuh ingin..."
"Apa...?"tanya Tristan penasaran, meski dalam hati ia sudah ketar ketir berdoa muda-mudahan keinginan istrinya masih dalam tahap wajar.
Nada menatap serius wajah suaminya, "Beneran kamu turutin kan.."
"Iya..."
"Janji sayang.."
Nada mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas, "Tolong berdiri di sana.."pinta Nada menyuruh suaminya untuk berdiri menghadap dirinya.
"Mau apa sih Nad.."tanyanya mendadak ia merasa hawanya tidak enak, namun tak urung ia pun menuruti perintah istrinya.
"Aku ingin kau joged sambil nyanyi lagi Potong bebek angsa, terus mau aku rekam lumayan buat hiburan pas kau lagi gak di rumah..."
"Apa...??????"jawab Tristan spontan terdengar melengking di telinga Nada.
"Ih iya aku ingin kamu joged sambil nyanyi lagu potong bebek angsa terus aku rekam,.."ucap Nada tanpa dosa.
Glek.. Tristan menelan salivanya dengan susah, nyesel kan dia tadi janji sama istrinya.
"Tapi Nad.. gimana kalau keinginan di rubah gitu, minta jalan-jalan apa makan di luar gitu.."
"Gak mau.. Aku cuma pengen liat kamu joged sambil nyanyi lagu itu.."tutur Nada matanya mulai berkaca-kaca.
Tristan mengusap wajahnya, kan gak banget dia baru pulang kerja masih dengan jas yang melekat di tubuhnya dengan sempurna.
"Kalau kamu gak mau nurutin kemauan aku, aku bakal ngambek gak akan mau bicara dan mogok makan.."ancamnya
"huft..."Menghela nafasnya
"Baiklah aku turuti, tapi janji ya cuman untuk kamu gak boleh di uploud di sosmed atau di beri tahu pada yang lain.."seru Tristan
"Iya.."
Tristan mulai nyanyi sambil joged menggerak-gerakan pinggangnya membuat Nada tertawa terpingkal-pingkal sambil merekam di ponselnya.
Potong bebek angsa, masak di kuali
Nona minta dansa, dansa empat kali
Sorong ke kiri, sorong ke kanan
la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la
Sorong ke kiri, sorong ke kanan
La-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la
Begitulah Tristan terus bernyanyi sambil berjoged ria, Nada sambil merekam terus tertawa.
"Sudahlah Nad, aku capek. Ingin mandi.."ucap Tristan setelah selesai bernyanyi tiga kali sambil berjoged .
"Iya sudah, makasih ya.."sahut Nada dengan mata berbinar, sedangkan Tristan merasa lelah dan kesal.
"Ya sudah sana kamu mandi, aku siapin bajunya terus nanti kita makan..."ucap Nada
Tristan mengangguk sebelum kemudian ia berlalu ke kamar mandi.
πΉπΉπΉ
"Yuna.."panggil Nanda tanpa mengalihkan pandnagam dari banyaknya berkas laporan di hadapannya.
Yuna yang merasa di panggil pun bergegas berdiri lalu menghampiri atasannya itu.
"Ada yang bida saya bantu Tuan.."tanya Yuna.
"Minggu depan kita ada perjalanan bisnis ke Jepang selama tiga hari, kamu persiapkan perlengkapan saya juga kamu ya.."ujar Nanda sambil melihat ke arah Yuna sekilas.
"Baik Tuan.."
"Oya, jangan lupa makan siang saya Yuna.."ujar Nanda.
"Duh gimana bilangnya ya.."Gumam Yuna pada dirinya sendiri.
Jadi, Yuna sudah merencanakan ada kencan buta siang ini. Ia terpaksa melakukan kencan buta itu, lantaran Yuna bosan setiap di telpon orang tuanya selalu di tanya kapan mau ngenalin calon suami, jadi Yuna pikir tidak ada salahnya ia melakukan kencan buta lebih dulu.
Lagi di suruh nikah gak mau sih, gumam Yuna
Yuna mengambil makanan yang ia masak tadi lalu menghampiri Nanda.
"Tuan.."
"Oh makan siang ya.."tanya Nanda dengan semangat ia langsung membereskan berkas-berkasnya.
"Iya Tuan.."
"Sini ... Kamu masak apa hari ini..?"tanya Namfa
"Ada opor ayam, tempe goreng, juga sambal.."jelas Yuna
Yuna membuka bekalnya di hadapan atasannya itu.
"Nasi Yun.."pintanya
"Ini.."Yuna menyodorkan nasi beserta lauknya di hadapan Nanda.
Menarik nafasnya Yuna memberanikan diri meminta ijin atasannya itu.
"Tuan, mau minta ijin.."kata Yuna
"Ijin.."
"Iya saya ingin meminta pulang cepat hari ini.."
Nanda menghentikan gerakan sendoknya, "Ada urusan apa..?"
"Saya mau melakukan kencan buta.."ujar Yuna
Nanda langsung meletakkan gagang sendok yang sedang ia pegang, "Nggak.."jawabnya dengan cepat.
"Tuan..."panggil Yuna dengan nada memelas.
"Kalau saya bilang nggak tuh ya nggak, kamu mau saya hukum Yuna.."ancam Nanda
"Eh ya jangan dong Tuan.."Yuna memohon
"Nanti malam kamu lembur, saya gak menerima alasan kamu.."
"Ya jangan deh Tuan, saya minta maaf deh.."Yuna masih mencoba menawar pada Nanda. Padahal ia hanya meminta ijin kenapa berakhir dengan sebuah hukuman, salahnya di mana coba.
"Kamu mau saya tambah lagi hukumannya.."Namda kembali mengancam sekretarisnya itu.
"nggak lah Tuan.."jawab Yuna sekenanya, lalu ia melirik ke arah piring atasannya yang terlihat masih utuh.
Kenapa tidak di makan lagi? apa masakanku tidak enak ya..?pikir Yuna
"Lho kok Tuan gak jadi makan.."tanya Yuna merasa heran, karena tidak biasanya atasannya bersikap begitu.
"Saya gak lapar.."ucapnya datar, ia justru memutar kursinya menjadi memunggungi Yuna.
Hal itu membuat Yuna merasa bingung, perasan ia merasa sikap Nanda berubah semenjak Yuna meminta ijin untuk melakukan kencan buta.
Nanda memegang dadanya, entah kenapa saat Yuna meminta ijin padanya untuk melakukan kencan buta mendadak Nanda merasa ulu hatinya terasa sakit. Tidak mau berfikir tidak-tidak Nanda menggelengkan kepalanya.
Tidak mungkin aku cemburu kan, gumamya pada diri sendiri.
"Ngambek ni orang pasti.."bisik Yuna pada dirinya sendiri.
"Ehem.."Yuna berdehem namun Nanda masih tak bergeming dari kursinya.
"Bener udah gak lapar nie."tanya Yuna memancing, karena Yuna tau seberapa sukanya Nanda dengan masakan Yuna.
"Iya.."jawab Nanda singkat padat jelas dan cepat.
"Yah, sayang banget padahal masakan saya masih banyak. Ya udahlah saya beresin, terus saya bawa keluar, tadi Mas Arya juga ngajak saya makan siang, dari pada beli ini mubadzir mending saya makan berdua sama mas Arya.."balas Yuna dengan nada sedikit mengancam, emangnya Nanda doang yang bisa ngambek dan ngancam Yuna juga bisa dong.ckckck
Masih tak ada jawaban dari Nanda.
"Bener ya, ya udah saya pergi.."ucap Yuna lagi sambil bergerak melangkah pergi.
"Suapin.."pinta Nanda sukses membuat langkah Yuna terhenti.
Yuna tertawa kecil, sembari menggelengkan kepalanya. Bergegas ia kembali menghadap atasannya itu lalu menyuapinya. Anggap aja kali nyuapin bayi besar ya Yun, wkwkkw
"Jadi saya di suruh lembur.."tanya Yuna saat sudah selesai menyuapi atasannya itu.
"Heem, nanti malam kamu lembur masakin saya, terus kamu bantu saya cek laporan keuangan.."ujar Nanda sambil mengelap sudut bibirnya menggunakan tisu.
"Ya sudah, saya permisi. Mau ke toilet dulu.."ucap Yuna
Nanda mengangguk tanda mengijinkannya.
πΉπΉ
1200 kata panjang kanππ
Ayo dukung Ara dengan Komentar, Like, dan hadiahnya ya..
Tbc.