DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Lebih Nikmat



Pukul sepuluh malam Nada merasa lapar ia bangkit dari tidurnya, di lihatnya Tristan duduk di sofa masih berkutat dengan laptop yang menyala. Ada semacam perasaan kagum dari Nada melihat kegigihan Tristan dalam bekerja, namun ia buru-buru mengenyahkan segala pemikirannya.


Tidak, dia tidak sebaik yang aku kira. Dan aku sangat membencinya. Lihat saja akan ku singkirkan dia dari kehidupan keluargaku.umpatnya


Nada tidak sadar jika Tuhan mampu membolak-balikan hati manusia, bagaimana jika saatnya tiba hatinya justru terperangkap pada pria itu.


Melihat kepergian Nada, Tristan hanya meliriknya sekilas tanpa berniat untuk mengikutinya.


Prang...


Bunyi pecahan piring terdengar ke indra pendengar Tristan, pria itu segera mematikan laptopnya dan buru bangkit menuju dapur.


"Nad, apa yang kau lakukan.."tanya Tristan, pria itu terpekik kaget saat melihat pecahan piring di lantai.


Nada tidak menghiraukan pertanyaan Tristan, wanita itu sibuk membereskan pecahan piring,


"aww.."rintihnya, kala sebuah pecahan piring itu berhasil melukai jari manisnya juga pecahan kecil yang menancap di sana, ia tidak peduli wanita itu kembali membereskannya.


Tristan menarik paksa Nada, "Kau bodoh apa gimana, sudah tau terluka kenapa masih di lanjutkan. Ikut denganku.."


Tristan mendudukan Nada di kursi ruang makan tidak jauh dari dapur kemudian ia berlalu pergi, tidak lama pria itu kembali membawa kotak p3k. Tristan menarik paksa tangan Nada untuk obati.


"Aku bisa sendiri.."elak Nada, ia berusaha menolak bantuan Tristan. Baginya ia bisa melakukan apapun sendiri, hem dasar wanita sombong emang.


"Diam, atau ku patahkan sekalian tanganmu.."ancam Tristan dengan sorotan mata yang tajam, Nada tergelak lalu menelan salivanya dengan susah.


Nada memilih diam di bandingkan harus berdebat dengannya, cukup saat di kantor tadi Nada selalu adu mulut dengannya. Nada melirik ke arah Tristan, pria itu terlihat sangat hati-hati mengobatinya.


"Aww.."rintihnya kala Tristan mencabut pecahan piring yang kecil di jari manisnya.


"Sakitkah.."tanya Tristan lembut, pria itu mendongak menatap Nada sejenak, hingga tatapan keduanya beradu. Entah kenapa Nada merasakan sesuatu di dadanya, sedikit berdebar seperti ada sebuah kupu-kupu yang meloncat di dadanya. Tristan mengangkat sebelah alisnya saat menyadari Nada sedari tadi menatapnya.


"ehem.."dehem Tristan menyadarkan Nada.


"Sedikit..."sahut Nada canggung.


Tristan menganggukan kepalanya ia kembali fokus mengobati jari Nada.


"Sudah selesai.."seru Tristan ia bangkit dari tempatnya.


"Terimakasih.."entah sadar atau tidak Nada mengucapkan kata itu, Tristan hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


"Apa yang kau lakukan tadi di dapur.."tanya Tristan.


"Aku lapar, dan berniat..."


"Memasak, memangnya kau bisa..."tanya Tristan


Nada menggelengkan kepalanya, Tristan terkekeh kecil.


"Kau menertawakanku.."celetuk Nada


"Sudah tau tidak bisa untuk apa nekat, bisa habis peralatan dapur jika kau masak.."tukas Tristan


"Karena tidak bisa aku harus belajar..."bela Nada pada diri sendiri.


Tristan menganggukan kepalanya, "Baiklah kalau kau ingin belajar ambilah kursus masak saja. Sekarang tunggulah di sini biarkan aku yang masak.."


"Tapi..."


Tristan berlalu mulai memasak, melihat Nada yang sudah lapar Tristan memilih memasak pasta. Dari meja Nada mengamati Tristan memasak, sesekali ia terkikik kecil saat melihat penampilan Tristan yang tengah memaki apron.


"Aku terlihat seksi kan, jangan terus melihatku. Aku takut kau terpesona padaku.."ucap Tristan


wuek.. Nada menjulurkan lidahnya, membuat Tristan terkekeh.


"Seksi kalau di lihat dari ujung monas pakai sedotan.."ucap Nada, membuat Tristan tergelak.


"Sembarangan.. begini juga banyak wanita yang suka padaku.."seru Tristan sambil menuangkan pasta yang telah jadi ke dalam piring.


"Paling juga hanya Kak Nadilla yang suka padamu.."sahut Nada, Tristan tediam saat Nada kembali menyebut nama wanita itu.


"Dan selanjutnya giliran kau yang suka dan cinta padaku.."ucap Tristan


"Dunia boleh berubah tapi hatiku tidak akan pernah berubah untuk mencintai atau menyukai dirimu.."tegas Nada


"Hati manusia siapa yang tau sih Nad, kita lihat saja nanti.."ejek Tristan,


Tristan membawa pasta itu ke hadapan Nada,


"Makanlah, karena berdebat itu juga butuh tenaga kan. Aku takut kau pingsan saat kau sedang berdebat denganku, tidak lucu bukan.."sambungnya, sebelum Nada kembali membuka mulutnya Trsitan sudah menimpalinya.


Nada terdiam ia mengambil sendok dan garpunya dan mulai melahap pasta itu. Tristan duduk di sebrang Nada dengan tersenyum melihat Nada makan dengan lahap.


"Kenapa hanya membuat satu, kau sendiri juga lapar kan.."tanya Nada


Tristan menggeleng, "Tidak.."


"Sedari tadi kau terus melihatku makan, sepertinya kau juga menginginkannya. Ambilah sendok dan garpu lagi, lalu makanlah..."seru Nada yang sebenarnya sedang menutupi rasa gugupnya.


"Bolehkah.."tanya Tristan antusias, Nada menganggukan kepalanya. Tristan bangkut dari tempat duduknya sambil tersenyum smirknya, ia mendekati Nada dan memajukan wajahnya.


"K...kau mau apa..."seru Nada dengan gugup.Tristan semakin memajukan wajahnya.


Cup.. Tristan mengecup bibir Nada juga **********, membuat Nada melototkan matanya, ingin berbicara tapi bibirnya sudah di bungkam habis oleh bibir Tristan.


Tristan mendorong masuk lidahnya menyapu langit-langit isi bibir istrinya, Nada mengumpat kesal saat ingin menolak tubuhnya justru merespon dan menikmati apa yang Tristan lakukan.


Tristan melepas pangutan bibirnya, nafas keduanya beradu terlihat ngos-ngosan, layaknya habis lari maraton, Tristan menatap wajah Nada yang terlihat memerah, pandangannya beradu, tangannya kanannya terangkat untuk membelai bibir Nada yang terlihat sedikit membengkak.


"Bukankah jika makan berasal dari bibirmu langsung terlihat lebih nikmat.."goda Tristan,


Nada membulatkan matanya, "Kau..." , menyadari Nada emosi Tristan segera berlari pergi..


"Terimakasih, aku bisa tidur nyenyak malam ini.."teriak Tristan dari jauh, tak lupa pria itu tertawa.


"Sinting.."umpat Nada, melihat pasta di depannya yang masih menyisakan setengah piring, menjadi tidak nafsu bayangan aduan bibir dengan Tristan kembali terlintas, tanpa sadar wanita itu memegang bibirnya.


"Tidak.. ini salah. Aku tidak mungkin menyukainya bukan..."dustanya, ia berdiri dan berlalu ke kamar, anehnya kali ini merasakan gugup yang luar biasa saat hendak membuka pintu, perlahan ia memitar knop pintu itu, di lihatnya Tristan sudah tertidur lengkap. Nada menghela nafas lega, jika tidak pria itu akan mengejek dirinya pasti.


🌹🌹🌹


🌹🌹Hai-hai Ara kembali, novel sebelah udah tamat, Ara akan usahakan mulai up rutin di sini..🌹🌹


🌹🌹Jangan lupa like, komentarnya, hadiahnya ya.. Ara tunggu..🌹🌹


To Be Continue.