DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Hanya sekretaris



Yuna berjalan menghampiri Nanda yang tampak berdiri di pintu keluar Cafe dengan tatapan tajamnya, "Eh Pak boss..."sapa Yuna dengan senyum ramahnya.


Bukannya menjawab sapaan Yuna, Nanda justru melengos berjalan masuk ke dalam Cafe meninggalkan Yuna yang masih terdiam diri. Nanda mendudukan dirinya di salah satu meja dan kursi yang kosong.


Yuna berfikir mungkin atasannya itu mau makan siang, lalu ia melirik pergelangan jam tangannya, di mana waktu sudah menjukkan pukul 15.00 Wib.


"Makan siang, tumben ? masa jam segini Tuan Nanda baru makan siang..."gumam Yuna pada diri sendiri.


Yuna masih berdiri menatap atasannya itu, namun Nanda tetap tak mengindahkannya dirinya, tak memanggil seperti biasanya.


Bergegas Yuna membuka tas miliknya memeriksa ponselnya, "Ya ampun..."pekik Yuna terkejut begitu melihat tiga puluh panggilan panggilan tak terjawab juga beberapa pesan masuk di ponselnya dari Nanda.


Yuna memilih membuka pesan Nanda lebih dulu.


Yuna lagi di mana? bisa minta waktunya sebentar gak, datanglah ke apartemen masakin saya ya, saya belum makan siang.


Glek.. Yuna memilih menutup kembali ponselnya tanpa melanjutkan untuk membaca pesan dari Nanda semuanya. Ia kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. Entah mengapa perasaan bersalah menelusup dalam hatinya, ia merasa telah lalai mengurus Nanda.


Dengan senyum mengembang Yuna berniat menghampiri atasannya, sekedar untuk menemaninya makan siang mungkin.


Deg...


Terlambat, karena kursi depan Nanda telah di isi seorang wanita cantik. Seperti biasanya jika di luar Nanda memang selalu memikat hati bagi kaum wanita. Yuna menghentikan langkahnya seraya tersenyum kecut.


Harusnya aku sadar diri..! Aku hanyalah seorang sekretaris baginya..gumam Yuna.


Masih berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang masih tertuju pada pria tampan itu, Yuna masih berharap barangkali Nanda akan memanggil dirinya seperti biasanya. Namun, Nanda tetap mengacuhkannya.


Yuna memutar tubuhnya lalu keluar dari cafe dengan perasaan campur aduk, ia memilih menjalankan kakinya menuju kontrakannya tanpa memesan taksi seperti biasanya.


Apakah dia semarah itu padaku..?gumam Yuna sekali lagi sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri trotoar. Entah mengapa ia merasa jarak antara cafe dan kontrakannya begitu dekat. Yuna tidak menduga hal ini akan terjadi, bodohnya ia memilih mengadakan kencan buta di cafe depan apartemen atasannya itu, memuat suasana hati keduanya memburuk.


"Aku memang tidak bakat punya kekasih, kencanku bahkan jadi ambyar, suasana hatiku begitu buruk.."decak Yuna.


🌹🌹


Sementara itu Nanda yang masih terdiam duduk di kursi cafe, ia masih tidak mengerti dengan semua yang terjadi.


Melihat Yuna duduk mengobrol dengan pria lain sambil bergurau tawa membuat ulu hatinya terasa begitu sakit, pun dadanya terasa sesak. Ada apa dengannya ?


Maag..


Ya, mungkin rasa sakit yang ia rasakan karena ia mengalami maag, karena sedari tadi ia memang belum makan apapun. Ia hanya meminum susu putih saja sejak tadi.


Cemburu..? gak mungkin, pikir Nanda menggelengkan kepalanya.


Lima belas menit berlalu Yuna tak kunjung membalas pesannya, Nanda memilih untuk menghubunginya. Namun hasilnya tetap sama tidak di angkat. Entah mengapa perasaan khawatir mulai menyusup dalam hatinya. Ia mencoba kembali menghubungi Yuna, serta mengirimkan beberapa pesan tetap saja tak ada jawaban, bergegas Nanda mengambil jaket juga kunci mobilnya, dengan kecepatan tinggi Nanda melajukan mobilnya ke kontrakan Yuna.


Brak.. Nanda segera membuka pintu mobilnya dengan kencang, lalu mengetuk pintu kontrakan sekretarisnya itu, namun tak ada jawaban sama sekali.


"Yuna.." panggil Nanda sambil terus mengetuk pintu dengan kencang.


Tak ada jawaban, Nanda kembali mengambil ponselnya terus menghubungi Yuna, dan mengirimkan berbagai pesan padanya.


Tiga puluh menit berlalu tak ada jawaban sama sekali, Nanda merasakan perutnya perih karena belum makan apapun, ia berniat kembali ke mobil lalu melajukan mobilnya ke apartemennya, anehnya tiba-tiba saat melintasi Cafe depan apartemennya Nanda merasa ingin makan di sana.


Tidak apalah mungkin Yuna sedang sibuk, aku makan di Cafe saja, gumamnya pada diri sendiri.


Begitu masuk ke dalam Cafe tak menyangka ia mendapatkan pemandangan yang cukup membuat ia kesal. Nanda khawatir pada Yuna setangah mati, tapi wanita itu justru enak-enakan tertawa senang bersama pria lain. Entah mengapa kali ini Nanda merasa dirinya begitu bodoh. Masih dalam posisi terdiam di ambang pintu, Nanda terus memperhatikan keduanya, sampai pada akhirnya entah bagaimana Yuna dan pria itu memilih mengakhiri pembicaraannya, Yuna menghampiri dirinya, karena merasa kesal dan lapar Nanda memilih untuk mengabaikan sekretarisnya itu, dan berlalu masuk tanpa bertegur sapa.


"Hai, boleh kenalan.? Aku lihat kamu sendirian aja, mungkin saja kamu butuh teman.."ucap seorang wanita yang mendudukan dirinya di sebrang Nanda.


Nanda mengangkat alisnya menatap tajam wanita itu, sungguh ia tidak suka kehadirannya, "To the point aja, saya tidak kenal kamu. Jadi lebih baik kamu pergi, jangan ganggu saya.."ucapnya pada wanita itu.


Hal itu sukses membuat wanita merasa kesal, ia berdiri sambil menghentakkan kakinya, "Sombong..."umpatnya.


Nanda tidak memerdulikannya, mungkin jika sebelum mengenal Yuna, di saat pikiran lagi kacau seperti ini Nanda akan dengan senang hati memilih teman wanita, tapi entah kenapa semenjak ada Yuna ia sama sekali tidak tertarik-tarik dengan wanita macam itu.


Nanda meremas rambutnya kasar.


Dam'n it, aku tidak mungkin mencintainya bukan..umpatnya.


🌹🌹


Hari ini aku doble up, usahakan berikan komentar ya. Aku suka baca komentar kalian kok, gemes gitu dan buat aku semangat. Apalagi kalau di kasih hadiah, makasih banget😊. Yuna ama Nanda nya lagi marahan jadi gak banyak percakapam😂😂.


I love u sekebon tomat buat kalian deh😍😍


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Tbc