DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Mabuk



Nada berdecak kesal saat melihat pantulan dirinya di cermin terlihat jelas kissmark yang Tristan berikan di leher miliknya.


"Kenapa..?"tanya Tristan yang baru muncul dari kamar mandi, pria itu bergegas mengambil pakaian yang sudah di sediakan oleh Nada di atas ranjangnya.


"Kau mau apa..?"tanya balik Nada saat memutar tubuhnya menghadap Tristan.


"Gantilah Nad, masa mau makan.. yang benar saja.."


"Terus untuk apa di sini, ganti di kamar mandi..."perintah Nada


"Lama..."decaknya, tak menghiraukan perintah istrinya, Tristan segera membuka handuk yang melilitkan pinggangnya di sana.


"Tristannnnnnnnn....."teriak Nada kesal, ia langsung memutar tubuhnya membelakanginya, namun ia kembali mendapatkan pemandangan yang tak lazim. Nada melupakan sesuatu jika kini ia tengah berdiri di depan meja rias dengan kaca rias yang sangat lebar, tentu saja ia dapat melihat jelas bagaimana Tristan telanjang mengganti pakaiannya di sana dari pantulan kaca di depannya.


Sontak Nada menutup matanya mengambil tas miliknya melemparnya ke Tristan.


Brukkkk...


"Dasar mesum.."umpat Nada, ia berlalu keluar dari kamar, Tristan justru tertawa terbahak-bahak.


🌹🌹🌹


Sebuah ballroom hotel bintang lima terlihat megah dan mewah, berbagai hidangan tertata rapi. Sepasang pengantin pria dan wanita yang tampak sangat serasi. Dengan balutan gaun putih Calista tampak begitu cantik sedangkan Darren pria dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu terlihat semakin tampan dan menawan.


"Nda, kau baru tiba..."tanya Tristan sembari menggandeng Nada.


"Iya, nie.."


"Dengan siapa kau datang..."timpal Nada


"Yun.."Nanda tergelak saat tak mendapati Yuna di sampingnya.


"Pria seperti dirimu masa datang sendiri, kelihatan banget jomblonya.."ejek Tristan sebelum berlalu meninggalkan Nanda yang masih di landa kebingungan.


"Makanya cepat nikah.."timpal Nada


"oh..shit.. Sial. "umpat Nanda


"Ini semua gara-gara Yuna, di mana dia..."


..


Di sisi lain Yuna justru asyik duduk sambil menikmati berbagai hidangan yang tersedia, kapan lagi coba makan enak gratis dan sepuasnya.


"Yuna..."panggil Nanda dengan wajah kesalnya, ia menjatuhkan bokongnya di samping Yuna.


"Hallo Tuan..."sahutnya tanpa dosa.


"Kau kesini untuk mendampingiku lalu kenapa kau menghilang sendiri.."cecar Nanda


Yuna menghentikan makannya, "Saya lapar Tuan, nunggu anda keburu saya mati kelaparan. Mumpung ada makanan gratis apa salahnya saya makan."


Nanda menggaruk kepalanya, "Tapi kau bisa minta ijin dulu padaku Yuna.."


"Tuan, apa makanan di sini bisa di bungkus.."tanyanya tanpa menghiraukan ocehan Nanda.


Nanda tergelak, bungkus di kata warteg apa bisa bungkus.


"Mana bisa ..."ketus Nanda, sekretarisnya itu benar-benar membuatnya kesal.


..


Usai menyelesaikan makannya Nanda langsung menggandeng tangan Yuna.


"Tuan, saya belom minum.."seru Yuna


"Nanti saja.."sahutnya, Nanda membawa Yuna menuju ke pelaminan untuk mengucapkan selamat pada mempelai.


Yuna berkali-kali mencoba melepaskan genggaman tangan Nanda. Namun Nanda justru semakin mengeratkannya.


"Tuan lepas saya merasa tidak nyaman..."ucapnya,


"Tidak, nanti kau menghilang lagi.."


Apa dia tidak tau jika dia terus bersikap seperti ini, aku bisa mati jantungan.gumam Yuna


...


Usai memberi ucapan pada mempelai Yuna dan Nanda bergabung bersama Nada, Tristan, Davis dan Nadilla. Entah apa yang para pria ucapkan para wanita merasa muak, apalagi sedari tadi Nada begitu kesal melihat tatapan Nadilla pada suaminya Tristan, wanita itu menatapnya dengan tatapan memuja, membuat mood Nada buruk, di tambah ia sedang dalam keadaan pms. Nada menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu berpamitan ke toilet, alasan padahal ia sedang menahan rasa cemburunya.


Nanda dan Yuna di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang sedang hamil beserta seorang pria, sepertinya keduanya sepasang suami istri.


"Permisi Tuan Nanda.."sapa Wira


"iya Tuan, anda mengenal saya.."seru Nanda yang tengah mengobrol bersama rekan bisnis yang lain.


"Salam kenal Tuan Nanda dan Nona.."


"Yuna.."seru Yuna


Mereka saling berjabat tangan, "Tuan maaf sebelumnya. Istri saya sedang hamil, dia mengidam ingin mengelus pipi anda, bolehkah Tuan.."


Nanda menatap keduanya dengan bingung, "Memangnya anda tidak cemburu.? saya mah boleh saja. Keinginan ibu hamil memang terkadnag aneh.."


"Ya sudah silahkan.."


Felicia mendekat lalu mulai mengelus pipi Nanda, "Sudah cukup ayo.."seru Wira


"Terimakasih Tuan Nanda.."sambungnya


Nanda tersenyum dan mengangguk, Yuna masih terkikik geli.


"Kenapa kau tertawa..."tanya Nanda


"Tidak ada..."


"Tuan, saya ambil minum sebentar ya.."pamitnya.


"Ya habis itu kembali lagi kesini.. aku masih harus mengobrol dengan temanku.."seru Nanda


Usai mendapat ijin Yuna berlalu pergi ke bertender minuman ia memindai satu persatu berbagai minuman yang tersedia di sana.


"Yun.."panggil Nada yang baru tiba samping Yuna.


"Eh Nona.."


"Kau mau apa Yun.."


"Minum Nona, tapi saya bingung minumannya kok macam-macam apa tidak air putih atau teh hangat, apa es teh gitu..ujar Yuna


Nada tergelak, kemudian terkekeh, "emangnya ini warung makan..."


"Ayo Nona kita minum saya sudah haus sekali.."Yuna mengambil salah satu minuman yang sudah tersedia di sana.


Glekkk... Yuna mendesis, "Rasanya kok aneh ya.."gumamnya.


"Masa sih.."jawab Nada, ia sama penasarannya jadi Nada pun mengambil minuman yang sama persis yang di minum Yuna.


Glek.. Nada meneguk habis minuman itu satu gelas.


"Enak kan Nona, aku juga mau lagi..."Yuna mengambil kembali minuman itu.


"Aduh Yun, kenapa semuanya jadi berputar lalu jadi dua. Benar katamu minumannya emang enak aku mau lagi..."seru Nada sambil terkikik dan meminum lagi.


"Nona juga ada banyak, saya hitung ya satu empat lima tujuh..."


Keduanya sama-sama tertawa terkikik geli sambil mengoceh tidak jelas, mereka tidak sadar yang mereka minum adalah minuman beralkohol.


Wajah Nada berubah sendu, "Kau tau Yun, aku sedang kesal dengan Tristan, aku tidak suka dia terlalu tampan jadinya kak Nadilla terus menatapnya.."rancau Nada


"Apalagi aku Nona, aku juga kesal dengan Tuan Nanda, dia pria yang mesum..."


Sambil memijat menahan kepalanya,"memangnya kau pernah di mesumin.."


"Dia pernah mengambil ciuman pertamaku, Nona..."


"Yun, kepalaku kok berputar-putar ya, pusing.."


"Sama Nona.."


Dua pasang kaki tiba di hadapan Nada dam Yuna. Nanda dan Tristan terkejut.


"Nad.."


"Yuna.."


Nada berjalan sempoyongan ke arah Tristan, "Nah ini dia Yun, suamiku yang sok kecakepan"


Plak.. Nada menampar pipi Tristan dengan pelan, Tristan terkejut, "Aku tidak suka kau tebar pesona.."rancaunya kesal.


"Ku bungkus juga wajahmu pakai kantong plastik nanti.."


"Nad, kau salah minum.."tanya Tristan ia melihat ke arah beberapa gelas yang kosong.


"Lebih baik kita bawa mereka pulang saja Tristan, sebelum semuanya kacau. Aku pikir mereka mabuk.."ucap Nanda, ia memegang tangan Yuna.


"Lepas ih, dasar pria mesum.."rancau Yuna, tidak mau semakin bertambah malu akan ocehan Yuna yang makin klantur,.


Nanda langsung menggendong Yuna seperti membawa karung, Yuna menghentakkan kakinya kesal dalam gendongan Nanda.


🌹🌹


Niat mau up siang jadi molor, sorry readers ada sedikit kendala tadi😊


Jangan lupa


Like


Komen


Hadiahnya ya


Tbc.