
"Jadi di sini bersikaplah seperti pasangan kekasih pada umumnya.."perintah Nanda saat keduanya baru turun dari mobil.
"Ada syaratnya.."pinta Yuna
"Apa..?"tanya Nanda datar sambil mengernyitkan dahinya.
"Anggap ini buat lembur, jadi Tuan harus gaji saya..."tuturnya
Nanda terkesiap, "Kok jadi mata duitan sih Yun.."
Yuna terkekeh, "Bercanda Tuan..."
"Serius juga gak papa.."
"Gak lah, kemarin kan Tuan sudah belikan saya gaun juga perhiasan masa saya minta bayaran lagi..."ujar Yuna dengan senyum tipisnya.
Nanda mengangguk, lalu ia kembali terkejut saat Yuna tiba-tiba melingkarkan tangannya di lengannya. Ada desiran halus yang tak dapat Nanda jabarkan saat tangan sekretarisnya itu menyentuh lengannya.
Nanda melirik ke arah Yuna, bertepatan dengan Yuna yang mendongakkan wajahnya, hingga tatapan keduanya bertemu saling terkunci. Yuna memicingkan matanya.
"Ayo masuk Tuan, bukankah anda menyuruh saya bersikap sebagai pasangan.."tutur Yuna,
Nanda gelagapan, lalu tersadar"Oh iya.."
"Yuna..."
Panggil sebuah suara yang membuat langkah Nanda dan Yuna terhenti.
"Nada.. Tristan.."
"Nona Nada.."
Nada berjalan dengan cepat menghampiri keduanya.
"Nad, hati-hati jalannya. Ingat kau tuh lagi hamil.."celetuk Tristan.
"Oh iya aku lupa.."serunya sambil terkekeh kecil.
Tristan menggelengkan kepalanya, ternyata sifat ceroboh istrinya itu masih selalu ada.
"Ce ile gandengan tangan.."goda Nada, sontak Yuna langsung melepaskan tangannya dari lengan Nanda.
"Berisik, sana masuk.."decak Nanda kesal lalu melirik ke arah Tristan, lalu mengkode adik iparnya itu untuk segera membawa istrinya masuk.
Nada mencebikan bibirnya kesal, namun tak urung ia pun menuruti suaminya masuk.
"Ayo, masuk.."Seru Nanda, kali ini ia merangkul pinggang sekretarisnya itu.
"Em Tu..tuan tangannya.."ujar Yuna
"Kenapa ? bukankah kau sudah setuju untuk bersikap layaknya pasangan.."Nanda menaikan sebelah alisnya.
"Ta...tapi..... Baiklah.."sahut Yuna pasrah.
Kemudian keduanya berjalan masuk tampak pesta pernikahan itu di gelar mewah para tamu undangan pun berdatangan. Keduanya di sambut oleh Rava dan Dinda juga Disty dan Dika, lalu mereka berbasa basi sedikit.
"Jadi ini pacar kamu Nda..?"tanya Rava
"Dia sekretaris saya kok Om.."jawab Nanda
"Beneran cuman sekretaris aja.."goda Dinda
"Sekretaris tapi merangkap jadi calon istri ya Nda.."timpal Disty di sambut dengan gelak tawa Dika dan semuanya.
Nanda jadi salah tingkah lalu menggaruk tengkuknya, sementara Yuna merasa malu.
🌹🌹
Berbeda dengan Nanda yang sedang mengobrol dengan kedua orang tua mempelai, Nada dan Tristan justru sudah berdiri di hadapan pengantinnya. Terlihat Nadilla dan Davis menggunakan baju pengantin yang membalut tubuhnya keduanya tampak begitu serasi.
Nadilla terkesiap saat melihat Tristan berada di depannya, namun tetap saja pandangan pria itu padanya tetap datar tanpa expresi.
"Selamat ya Kak Nadilla, cantik banget sih. Kak Davis juga tampan, kan serasi banget berdua.."puji Nada
Tristan mencebik kesal ia tak suka lantaran istrinya malah memuji ketampanan pria lain di depannya.
"Makasih Nad.."seru keduanya
"Selamat ya Tuan Davis dan Nona Nadilla.."ucap Tristan menjabat tangan Davis.
Nadilla menghela nafas sejenak ia tak suka lantaran Tristan tetap memanggil dirinya dengan embel-embel Nona, tapi apa lah daya Nadilla juga sadar ia tidak akan memaksa seseorang, bagaimanapun ia tau luka yang dulu ia torehkan pada pria itu mungkin begitu dalam, dan sekarang ia pun tak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki semuanya. Apalagi sekarang Tristan sudah menjadi milik Nada, begitupun sebaliknya dia juga sudah menikah dengan Davis, ia akan belajar mencintai suaminya.
"Ayo Nad.."seru Tristan mengajak Nada untuk berlalu di sana, jujur saja ia mulai merasa tak nyaman dengan tatapan sendu Nadilla.
"Buru-buru amat sih, aku kan mau nyicipin hidangannya.."ujar Nada
Tristan terkekeh, "Ya udah ayo cicipin.."
"Suapin aku ya.."pintanya, Tristan mengangguk lalu keduanya menuju ke temlat hidangan.
"Tumben sih Nad, minta suapin segala.."Celetuk Nada
"Jadi kamu keberatan.."
"Ya gak lah.."sahutnya sambil kembali menyuapkan makanan pada istrinya.
"Kak Nadilla cantik kan...?"tanya Nada, mendadak Tristan merasa hawanya tidak enak, pertanyaan Nada seolah untuk menjebak dirinya.
Sebelum menjawab Tristan berfikir lebih dulu menimang jawabannya, "Cantikkan juga istri aku.."akhirnya ia mendapatkan jawaban yang tepat.
Cup.. Nada mengecup pipi Tristan tiba-tiba, membuat pria itu tergelak.
"Nad.."
"Gak ikhlas aku Kak Nadila lihatin kamu mulu, pengen banget ku masukin saku aja kamu.."ucapnya dengan cemberut.
Tristan mengusap wajahnya menggunakan satu telapak tangannya, "Ya udah kita pulang aja.."
"Jangan.."
"Kenapa..?"
"Aku masih ingin wisata kuliner.."
Tristan tergelak, "wisata kuliner.."
Nada mengangguk, "Iya dengan mencicipi semua hidangan di sini.. Ayo temani aku.."
Akhirnya Tristan menuruti perintahnya istrinya ia dengan setia berada di samping istrinya yang sedang mencicipi hidangan dari ujung kanan hingga ujung kiri.
"Nad, sudah ya. Nanti perutmu sakit banyak makan.."
"Aku kan makan bukan cuman buat aku, tapi buat tiga orang, aku dan anak-anak kamu, kasihan mereka masih pengen makan.."ucap Nada sambil mengelus perutnya yang terlihat masih rata.
"Tapi Nad..."
"Diam, jangan crewet ih.."serunya sambil terus mengunyah.
🌹🌹
Kalau komentarnya banyak, nanti aku up lagi
jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc