
Sudah satu minggu berlalu setelah pernikahan Nanda dan Yuna, keduanya tidak melakukan perjalanan bulan madu ke negara manapun. Yuna hanya memintanya untuk membawa ke tempat wisata yang berada di dekat kampungnya saja. Hal yang sederhana, tapi mampu membuat wanita itu tersenyum bahagia.
Tapi, tentu saja semua itu tidak gratis, Nanda dengan sikap jahilnya selalu memanfaatkan suasana dan membodohi istrinya untuk melayaninya di atas ranjang, dasar begitulah otak mesum tak mau rugi. Sebagai istri yang baik tentu saja ia menurut, toh begitu ia juga menikmati,eh.
Hari ini, Yuna memintanya untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya lebih dulu, sebelum sang suami membawanya pulang ke kota. Ia ingin membereskan perlengkapan yang akan ia bawa di rumah suaminya nanti.
Ceklek..
Nanda masuk ke kamar dengan pakaian yang sudah rapi, terlihat ia sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk putih kecil di tangannya. Ia melirik ke arah istrinya yang sama sekali tak bergeming, wanita itu terlihat sibuk beres-beres memasukan pakaian ke dalam kopernya. Padahal Nanda sudah mengatakan tidak usah di bawa, tapi Yuna tetap saja kekeh ingin membawa.
"Na.."panggilnya lembut.
"hem.."
"Bagaimana kalau rumah orang tuamu di renovasi saja. Jadi, nanti setiap kamar langsung di beri kamar mandi dalam saja..."ucapnya.
Yuna menghentikan aktivitasnya, "kenapa..?"
"Aku malu Na, setiap mandi mesti keluar kamar. Di lihat Ibu lagi masak, aku keluar dari kamar mandi Bapak sama Ibu senyum-senyum gitu.."decak Nanda.
"Punya malu juga kamu mas..."ejeknya.
"Ya ampun, kamu fikir urat malu suamimu ini udah putus apa.."decak Nanda kesal.
"Mungkin.."jawabnya makin berani dia, membuat Nanda tergelak, "buktinya, kemarin pas di pantai kamu cium-cium aku di depan umum gak malu.."sambungnya.
"Itu kan beda, biar semua pria yang lihatin kamu dengan mata mesumnya itu tau bahwa kamu cuma milik aku.."sangkalnya, ia menunjukkan dadanya sendiri menggunakan jari telunjukknya dengan bangga.
"Terus apa bedanya..."
"Tau lah, kamu kok makin ngeselin sih.."nah kok jadi Nanda yang sewot, lihat saja wajahnya sudah di tekuk gitu.
Ngambek deh tuh orang, gumam Yuna.
Yuna tetap terdiam melanjutkan aktivitasnya memilih pakaian yang akan ia bawa, membuat Nanda semakin kesal, bukanya di rayu malah di cuekin.
Ck, Nanda berdecak kesal, ia menghampiri ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan keras.
Bugh... pretak.. brakkk....
"Mas..."jerit Yuna, ia melihat suaminya sedang meringis kesakitan, lantaran ranjang yang ia tiduri kini roboh, apa mungkin karena Nanda terlalu keras menjatuhkan tubuhnya.
"Kamu gak apa-apa kan mas.."tanya Yuna dengan mimik wajah khawatir, Nanda mendengkus kesal, bahkan terlihat jelas jika kini ia sedang menahan sakit di punggungnya, tapi istrinya masih bertanya kamu gak apa-apa, ck dasar gak peka.
"Sakit tau.."jawab kesal, setelah ia berhasil kembali berdiri.
"Kamu ngapain sih rusakin ranjang tidur aku,.."Nanda melotot tak percaya, di tengah rasa sakitnya istrinya justru marahin dia hanya karena ranjangnya ia robohin lantaran tak sengaja.
"Bukan aku, salahin aja ranjangnya yang memang udah expired, udah tau ranjang jadul ngapain sih masih di pakai, jaman gini kok masih pakai ranjang kayu gitu Na, udah rapuh pula, bahaya tau..."sarkas Nanda kesal sambil meringis sakit.
"Bahaya.. maksudnya..?"lirih Yuna
"Untung ranjangnya robohnya sekarang cuman aku doang yang jatuh, coba kalau robohnya nanti pas kita lagi ehem-ehem.."ujar Nanda membuat Yuna tergelak, apakah di otak suaminya itu tidak ada hal lain selain mikiran hal begituan, bahkan keduanya hampir setiap hari melakukan hal itu.
Bugh... Yuna memukul pinggangnya suaminya.
"Aww... sakit Na, kamu ngapain sih kdrt begini. Pinggangku tuh sakit, bukannya di obatin malah di pukulin.."dengus Nanda.
"Itu bayaran, karena otakmu selalu mesum. Lagi sakit saja pikirannya hal begituan terus..."seru Yuna, namun tak urung ia merangkul tangan suaminya dan mendudukannya di kursi. Yuna beranjak menarik laci mencari salep untuk mengobati punggung suaminya yang tampak memar.
"Buka bajunya mas..."titah Yuna.
Yuna menggelengkan kepalanya, "pikiranmu itu mas ngeres terus,.."cetusnya kesal, ia langsung menyingkap pakaian belakang suaminya lalu mengoleskan salepnya.
"awww sakit sayang, kasar banget sih. Orang mah dielus-elus, bukannya di tekan-tekan,.."seru Nanda.
Yuna hanya terdiam tanpa berniat menjawab ucapan suaminya.
"Terus kita tidur di mana sayang..."tanya Nanda.
"Lantai.."jawab Yuna datar, Nanda tergelak.
"Kamu beli ranjang baru na, yang besar terus yang bagus juga.."
"Iya nanti kalau suamiku udah ngasih duit.."serunya, membuat Nanda terdiam seketika, ia mengingat memang ia belum ngasih uang pada istrinya.
"Nanti aku kasih, lupa malah kasih kamu kartu.."ucapnya sambil tergelak.
"Iyalah, otakmu isinya cuma mikirin gaya baru buat produksi anak aja.."jawabnya membuat Nanda melongo.
"Kok tau sih, kalau gitu ayo kita praktekin gaya baru, aku punya gaya lumba-lumba lho.."godanya, sekarang pria itu sudah menarik istrinya ke dalam pangkuannya.
Kedua mata Yuna membulat sempurna tak percaya, ia memukul dada suaminya lalu beranjak dari sana.
"Gak ada, hari ini libur. Aku lagi marah sama kamu mas, udah rusakin ranjang aku..."
"Aku kan gak sengaja.."
"Lagian punggungmu tuh sakit, masih sempat-sempatnya mikir begituan. Kan kamu sendiri yang bilang malu keluar mandi, entar pagi-pagi mandi lho, kamarku juga tidak kedap suara emangnya kamu gak malu sama Bapak dan ibu dan adik-adikku.."ujar Yuna kesal.
Tok.. tok...
Mendengar suara ketukan pintu membuat Yuna beranjak ke arah pintu dan membuka.
"Ya Bu.."serunya, setelah pintu terbuka.
"Tadi Ibu dengar bunyi suara barang jatuh itu apa ya.."tanyanya.
"Tempat tidur aku roboh bu,.."ujar Yuna santai, sementara Ibunya Yuna melongo otaknya berfikir yang tidak-tidak, ia menggelengkan kepalanya.
Dasar pengantin baru, sangking semangatnya kali ya ranjang kok sampai roboh..gumamnya.
"Ya sudah ayo kita makan, ajak suamimu juga.."seru Ibunya Yuna.
"Ya Bu..."
Sepeninggal ibunya, Yuna mengajak suaminya untuk makan. Sekaligus Nanda akan meminta ijin untuk membawa istrinya pulang ke rumahnya besok pagi.
Makan malam berlangsung, terlihat Nanda sesekali meringis sakit pada punggungnya. Semua tak luput dari tatapan kedua orang tua Yuna.
"Jadi, nanti kita tinggal di rumah bukan di apartemen.."tanya Yuna setelah makan malam berakhir, keduanya kini tengah tiduran di kamar, beralasan kasur tanpa ranjang.
Nanda tidur menghadap Yuna, ia tidak bisa telentang lantaran punggungnya sakit, "Iya, rumahnya dekat kok dengan rumah Mami. Kalau bosan kamu bisa main kesana.."
"Aku kan masih pengen kerja.."
"Apa maumu aja lah... Sekarang elusin punggung aku lah Na, sakit dan pegal banget tau.."tuturnya.
Tbc