DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Kau membuatku takut.



Beberapa bulan kemudian, kehamilan Nada kini sudah memasuki usia delapan bulan. Tristan menarik nafas lega di trimester ketiganya ini Nada jarang meminta-minta hal aneh. Sampai detik ini setiap di usg jenis kelamin anak yang satunya masih belom terlihat, jadi Nada dan Tristan memutuskan untuk menjadi kejutan saja.


"Kamu ingin anak kita laki-laki semua atau sepasang.."tanya Nada saat merebahkan dirinya di paha suaminya, matanya terus menatap televisi di depannya, tak lupa mulutnya tak henti terus mengunyah.


"Apa saja, yang penting dia sehat, kamunya juga sehat..."ujar Tristan lembut sambil membelai wajah istrinya.


"Aku pengennya sepasang..."seru Nada


Tristan hanya menjawabnya dengan senyuman, lalu mencondongkan wajahnya pada wajah istrinya.


"ets mau apa..?" seru Nada


Tristan mengangkat sebelah alisnya, lalu kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Cium.." jawab Tristan datar


"Gak boleh masih pagi.."


Jadi hari ini Tristan meliburkan diri atas permintaan istrinya.


"Aku bosen Nad, biarkan aku berangkat kerja ya.."pinta Tristan


"Ya gak boleh, kamu kan udah janji.."cebik Nada


"Pergi ke mall yuk.."sambung Nada sambil bangkit duduk.


"Ngapain...?"


"Beli perlengkapan buat twins.."


"Kan udah ada, kamu udah beli terus juga.."


"Ya aku mau lagi, ayo lah. Kita belanja untuk keperluan dapur juga.."


Sebenarnya untuk apa belanja keperluan dapur, toh biasanya yang belanja asisten rumah tangganya, sampai detik ini Nada juga belum bisa memasak selain bikin telur ceplok sama masa mie instan.


"Ayo lah pergi.."


"Kamu gak pegal jalan terus, perut kamu udah besar begitu Nad.."ujar Tristan


"Ya nggak lah, ayo..."


Tristan hanya mengangguk pasrah, menuruti kemauan istrinya.


🌹🌹🌹


Hari ini Nanda dan Yuna ada jadwal kunjungan ke pabrik.


"Yuna, sudah kamu persiapkan tuannya..?"tanya Nanda


Yuna mengangguk, "Sudah Tuan.."


Nanda paham segera mereka bangkit berjalan menuju mobil, dengan mobil yang di kemudikan Nanda.


"Tuan.."panggil Yuna


"Hem.."


"Boleh saya menanyakan sesuatu.."


"Apa Yun..? katakan saja.."seru Nanda


"Hutang saya yang dua ratus juta itu apa sudah lunas.."tanya Yuna hati-hati.


Nanda menghentikan mobilnya, "Kenapa menanyakan hal itu.."


"Hanya bertanya...?"


Belum sempat Nanda menjawab ponselnya berdering ada panggilan masuk dari Vriska, ia memberi isyarat pada Yuna untuk diam, Yuna pun paham.


"Ya Mi.."


"...."


"Kan aku sudah katakan, gak mau.."


"...."


"Akan ku pikirkan.."


Nanda kembali mematikan ponselnya, lalu menjalankan mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Yuna sebelumnya. Begitupun Yuna tak ingin lagi bertanya.


Sampai di pabrik Yuna dan Nanda turun mengitari ruangan itu.


Brukk... Yuna terjatuh akibat tersandung, ia meringis sakit.


"Gak papa Tuan, saya baik-baik saja.."ujar Yuna


Nanda mengangguk paham, "Tapi.."


"tidak apa-apa Tuan, saya akan duduk di sana ya. Saya merasa sedikit lelah.."tunjuk Yuna pada sebuah kursi yang tidak jauh dari tumpukan barang-barang.


Nanda mengangguk, "Baiklah, kau tunggu di sana saja.."


Sebenarnya Nanda merasa aneh, beberapa hari ini ia merasa sikap Yuna aneh, wanita itu seolah menjaga jarak darinya.


Yuna memainkan ponselnya sembari menunggu Nanda, dengan pandangan kosong. Sementara Nanda tetap berbicara pada kepala pabrik.


Brukk... bunyi terjatuhnya barang membuat Nanda menghentikan ucapannya, ia mencari sumber suara, matanya membulat sempurna, begitu tumpukan kardus itu jatuh tepat di mana Yuna duduk tadi, membuat ia terkejut segera Nanda berlari.


"Yuna..."panggil Nanda berulang kali, rasa takut cemas menjadi satu.


Sebuah tepukan tangan menyadarkan Nanda, "Tuan, itu Nona Yuna.."tunjuk kepala pabrik pada Yuna yang tengah berdiri menatap mereka dengan tatapan bingung.


Yuna mengernyitkan bingung, ketika mendapati tatapan semua orang menatapnya, "Ada apa.."


Bugh.. Yuna kembali terkejut tatkala Nanda tiba-tiba berlari memeluk dirinya dengan erat, Nanda memindai tubuh Yuna, "Kau baik-baik saja Yuna, kau membuatku takut. Aku fikir kau masih duduk di sana..."ucap Nanda


"Tuan saya baik-baik saja, saya habis ..." ia tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Nanda berlalu begitu saja, atasannya itu memarahi pekerjanya habis-habisan.


"Apa kalian tidak bisa bekerja dengan hati-hati, bagaimana jika barang-barang sialan ini terjatuh pada tubuh sekretaris saya, kalian mau tanggung jawab hah.."


"Saya tidak mau tau ya, kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi, sebelum bekerja periksalah sekitarnya lebih dulu.."


Yuna terdiam mematung dengan bibir yang terbuka untuk pertama kalinya ia melihat atasannya itu sangat marah.


"Sudah Tuan, saya baik-baik saja..."ucap Yuna memcoba menenangkan Nanda.


"Diam kamu Yuna, saya tidak bicara dengan kamu...."ucapnya dengan tegas.


Semua pegawai pabrik yang berada di sana hanya menunduk pasrah saat atasannya itu memarahi mereka habis-habisan.


Nanda menendang sebuah barang yang berserakan di lantai, sembari menatap tajam semuanya, lalu ia berlalu menghampiri Yuna.


"Kita pulang..." ujar Nanda sambil menarik tangan Yuna.


"Tapi Tuan kan..."


"Apalagi Yuna, saya sudah tidak mood, pikiran saya sudah berantakan..."ucap Nanda masih dengan raut kesal.


Akhirnya Yuna mengangguk pasrah mengikuti langkah atasannya ke mobil, sampai di mobil keduanya masih terdiam.


"Yun kita ke rumah sakit ya.."ucap Nanda


"Ngapain..?"


"Meriksa keadaan kamu lah.."


"Saya tidak apa-apa Tuan, tadi itu saya dari toilet. Saya baru pertama kali liat tuan marah-marah dan itu karena saya, saya jadi merasa gak enak.."ujar Yuna


Nanda mengusap wajahnya kasar, kenapa ia bisa lepas kendali begitu, "Saya tidak mau kamu terluka, karena saya butuh kamu sebagai sektetaris saya ya.." jelas Nanda


Yuna mengangguk menghela nafasnya mmebuang pandangannya ke luar jendela mobil, entah kenapa mendengar ucapan Nanda yang terakhir ia merasa kecewa.


Hanya karena butuh sebagai sekretaris.


Hingga sepanjang jalan Yuna memilih diam, tak mau berbicara, ia sedang menimang-nimang mencari keputusan yang tepat untuk ia buat.


🌹🌹🌹


Tristan merasa kesal lantaran Nada hanya mengelilingi stand-stand mall tanpa berniat untuk membeli.


"Nad, kamu ini gimana sih katanya mau beli perlengkapan twins.."decak Tristan dengan kesal.


"Aku berubah pikiran, gak mau beli cuman mau lihat saja.."


Bukankah begitu memalukan, untuk apa mampir ke stand jika tidak membeli.


"Kita supermarket aja yuk,,"ajak Tristan


"Baiklah.."


🌹🌹🌹


Dukung Author dengan Like, komentar, hadiahnya


Tbc