
"Bagaimana? apa ada kabar terbaru tentang anak itu?" Ucap Seorang wanita paruh baya yang sedang memoleskan make up ke wajahnya.
"Nyonya Gadis itu sekarang tinggal di apartemen sendirian, kesehariannya juga tidak ada yang berbeda sama seperti biasanya."
"APA!! Tinggal di apartemen? sudah berapa lama hah? SUDAH BERAPA LAMA??" Wanita itu berteriak dan kini menatap tajam seorang wanita muda yang merupakan asistennya.
"Se.. sekitar satu bulan lebih nyonya." Asisten itu menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling meremas.
"Dengarkan aku Jeni, sekali lagi kamu telat memberikan kabar tentang anak itu.. aku tidak akan segan untuk memecat mu. Sekarang pergi dari sini."
"Baik Nyonya, saya berjanji akan bekerja lebih baik lagi Nyonya, Terimakasih untuk tidak memecat saya." Asisten yang bernama jeni itu beberapa kali menundukkan kepalanya, kemudian berlalu dari ruangan itu.
Sepeninggal asistennya Jeni, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan polesan make up tebal di wajahnya itu kini menatap kembali dirinya di cermin.
"Cih sekarang anak itu tinggal di apartemen ya.. ada baiknya juga, dua bulan lagi dia berulang tahun yang kedelapan belas tahun, aku harus memberikan hadiah yang sangat istimewa." Wanita itu tersenyum menyeringai dengan tangan yang kembali sibuk memoleskan make up di wajahnya.
"Lihat saja Diana.. aku akan menepati janjiku padamu, setelah anak itu berusia delapan belas tahun.. aku tidak akan pernah membiarkan anak haram itu hidup bahagia. Tapi sebelum itu, sebaiknya aku mengirimkan hadiah kecil untukmu."
......................
Setelah pulang dari sekolah beberapa saat yang lalu, Alula dan ketiga temannya yaitu Ayu Rendi dan Rafi tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Saat ini mereka berempat sedang berkumpul di sebuah cafe, untuk membicarakan tugas kelompok yang baru ditugaskan oleh gurunya.
"Oke! karena waktu mengerjakannya hanya tiga hari, jadi sebaiknya kita mulai mengerjakan dari hari ini juga gimana?" Alula memulai sesi kerja kelompoknya.
"Setuju!" Ucap Ayu Rendi dan Rafi serempak.
"Hari ini tugas kita adalah membuat susunan pertanyaan untuk narasumber, agar saat mewawancarai narasumber kita bisa menggunakan waktunya seefektif mungkin. Dan besok kita bisa langsung mewawancarai narasumbernya, lalu lusa kita buat laporannya." Sambung Alula mengusulkan kegiatan kerja kelompoknya.
"Oke!" ketiga temannya kembali serempak menyetujui usulan Alula.
"Tapi tunggu!" Sambung Rafi membuat ketiga temannya menatap kearahnya.
"Kenapa Rafi?" Tanya Ayu mewakili Rendi dan Alula.
"Masalahnya tugas kita kan mewawancarai pengusaha besar, lalu siapa yang mau kita wawancarai?" Tanya Rafi karena Alula tidak membahas siapa yang akan mereka wawancarai besok.
"Oh! Tante Diana saja! Mommy-nya Alula kan pengusaha besar." Ayu terlihat bersemangat tanpa menyadari ucapannya membuat Alula berwajah datar.
Sedangkan Rendi dan Rafi yang menyadari itu refleks menutup mulut Ayu dengan tangan mereka.
"Jangan Tante Diana! lebih baik kakak sepupu aku aja, ya kan Raf? hehe.." Rendi berbicara kepada Rafi dengan mata yang melihat ke arah Alula.
"I..iya lagipula Tante Diana lagi di Sydney, jadi sama kakak sepupu kamu aja Ren, yang tetangganya Alula itu loh hehe.." Rafi gelagapan mengiyakan perkataan Rendi.
"Alula maaf.. Aku lupa kalau kamu tidak suka jika membahas ibumu, sekali lagi Aku minta maaf Alula, Aku benar-benar menyesal." Ayu mengatupkan kedua tangannya.
Alula yang melihat Ayu memohon maaf padanya langsung tersadar. "Apa yang terjadi padaku? kenapa aku harus marah? jelas-jelas mereka tidak tahu apa-apa." Alula menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum pada Ayu.
"Aku tidak apa-apa Ayu, tidak usah meminta maaf. Aku yang seharusnya meminta maaf sekarang, karena Aku tidak mau melibatkan ibu ku untuk tugas kita." Alula menatap ketiga temannya bergantian.
"Tidak masalah Alula kita bisa mewawancarai kak Brian." Rendi tersenyum menepuk pelan bahu Alula. "Tapi Alula kak Brian pasti akan menolak jika hanya aku yang memintanya, bagaimana jika kamu juga ikut membantu membujuk kak Brian?"
"Tidak masalah, lagipula kak Brian orang baik pasti kak Brian mau membantu kita." Alula tersenyum meyakinkan ketiga temannya.
"Kalau begitu kita mulai membuat soalnya?" Ucap Rafi membuat ketiga temannya langsung mengangguk menyetujui.
Mereka berempat mulai berunding membuat susunan pertanyaan untuk tugas wawancara mereka, sepertinya tidak ada yang sulit bagi mereka berempat.
Tawa renyah beberapa kali terdengar membuat suasana kerja kelompok itu lebih menyenangkan, bahka mereka hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk membuat pertanyaan dan menyusunnya dengan baik.
"Akhirnya selesai juga." Ayu menutup buku tulisnya dan kini beralih pada jus strawberry miliknya yang tinggal setengah.
"Gak kerasa ya waktu kita di SMA cuma tinggal beberapa bulan lagi." Alula tersenyum menatap ketiga temannya bergantian. "Awalnya terasa aneh memiliki teman, tapi sekarang Aku bersyukur bisa ketemu kalian bertiga selama di SMA dan merasakan apa itu pertemanan."
Alula memang tidak pernah berteman dengan siapapun sebelum memasuki SMA, karena saat kecil sampai memasuki SMP Alula home schooling.
"Babang Rafi juga bersyukur bisa nemuin teman-teman yang benar-benar care kaya kalian, selama dua belas tahun Babang Rafi sekolah, cuma kalian bertiga yang benar-benar mau berteman tanpa menanyakan pangkat ayah terlebih dahulu."
"Ayu sama Rendi juga bersyukur bisa ketemu kalian berdua, Ayu kira cuma Rendi saja yang benar-benar tulus mau berteman baik dengan Ayu.. tapi ternyata kalian berdua juga tulus. Kalian bertiga selalu memaklumi dan memahami kecerobohan Ayu dalam berbagai hal, makasih ya teman-teman." Ayu tersenyum manis membuat ketiga temannya ikut tersenyum.
"Sekarang giliran Rendi." Ayu beralih menatap wajah Rendi yang duduk di sampingnya.
"Apa?" Rendi berpura-pura tidak mengerti apa yang Ayu maksud, membuat Alula dan Rafi tersenyum kecil.
"Rendi gak bersyukur ketemu kita bertiga?" Ayu menarik tubuhnya menghadap Rendi.
"Bersyukur." Ucap Rendi santai yang ikut menarik tubuhnya dan kini berhadapan dengan Ayu.
"Terus kenapa gak bilang bersyukur?" Kini mata Ayu dan Rendi sudah saling menatap satu sama lain.
"Tadi Aku bilang."
"Ishh.. bukan begitu Rendi, harusnya kamu bilang Aku bersyukur bla bla bla bla..." Ayu mengoceh di depan Rendi tanpa jeda, sedangkan Rendi hanya tersenyum menatap wajah Ayu yang ada di hadapannya. Rendi terlihat seperti seorang pria yang sedang mendengarkan pacarnya yang sedang merajuk.
"Sepertinya ada yang mulai terang-terangan." Alula berbisik di telinga Rafi membuat Rafi mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke arah Alula.