DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Baru Pemanasan



Dua minggu kemudian


Rencananya nanti sepulang kerja Tristan dan Nada mau pindah rumah ke rumah orang tua Tristan. Selama seminggu ini Tristan dan Nada tinggal di rumah Alan, itu permintaan Nada. Alasannya mau belajar masak bersama Maminya, tapi mau belajar masak gimana kalau Tristan selalu membuat ia bangun kesiangan dengan membuatnya lelah di ranjang.


"Jadi nanti sore kan..?"tanya Nada


"Hem.."


"Belanja dulu ya, di rumah pasti gak ada bahan makanan apa-apa..?"


"Yakin udah bisa masak..."tanya Tristan.


"bisa mah kalau paling bikin telor ceplok sama mie instan.."seru Nada.


Tristan terkekeh, lalu menarik tangan Nada untuk duduk di pangkuannya.


"Gak mau.."tolak Nada


"Kenapa..?"


"Kamunya lama-lama modus, cium-cium keblablasan.."cebik Nada , Tristan terkekeh.


"Gak lah, aku mau ke toilet. Setelah itu mau ke cafe bawah ya, mau beli minum. Mau nitip gak..?"sambungnya


Tristan menggeleng, "enggak..."


"Ya udah, aku keluar sebentar..."


🌹🌹🌹


"Yun.."panggil Nanda dengan kesal.


"Ya Tuan.."


"Saya mau di jodohin.."ucap Nanda


"Bagus dong Tuan, katanya pengen nikah.."


"Tapi gak dengan cara di jodohin juga Yun, udah kaya perjaka gak laku aja.."decak Nanda mengambil kertas kosong di depannya lalu meremas dan melemparnya.


Yuna terkekeh mendengarnya, Nanda berdiri berjalan ke arah sofa sembari melonggarkan dasinya, lalu melepas jasnya ia letakkan di atas sofa.


"Yun bikinin saya kopi...?"perintahnya.


"Iya,.."Yuna meninggalkan pekerjaannya sejenak, karena waktu juga sudah mendekati makan siang.


Lima belas menit kemudian Yuna datang dengan nafas ngos-ngosan.


"Ada apa? Mana kopinya Yuna..?"tanya Nanda


Yuna membulatkan matanya melihat ruangannya yang kaya kapal pecah baru di tinggal lima belas menit kertas kosong sudah berserakan di mana-mana, apa yang atasannya itu lakukan .


"Tuan ini lebih penting..?"


"Apa..?"


"Di bawah ada Tuan Alan menuju kemari."


"Kok bisa, ngapain Papi pakai kemari segala.."seru Nanda


"Enggak tau Tuan.."


Nanda mengambil kembali jasnya, lalu krluar sambil merapikan bajunya.


Dengan cekatan Yuna mulai menggulung lengan blouse nya, lalu membuka dua kancing atas blousenya agar memudahkan ia bergerak Yuna bergerak lincah merapihkan kertas-kertas di lantai akibat ulah atasannya itu, lalu membuangnya di tong sampah.


Krek.. Yuna merasa terkejut saat tiba-tiba pintu terbuka dari luar Alan dan Nanda masuk.


"Kamu masih di sini Yuna..?"tanya Alan menutupi rasa keterkejutannya melihat penampilan Yuna yang berantakan di tambah bulir-bulir keringat yang mengalir di dahinya. Indi pasti ulah Nanda. Belum lagi saat pertama bertemu Nanda tadi, putranya itu juga berjalan sambil merapikan kancing bajunya dan dasinya.


"Ya Tuan,"


Nanda menatap Yuna mengkode lewati matanya untuk menutup kancing bagian atasnya yang masih terbuka, juga keringat yang sedari tadi mengalir di dahinya.


Yuna menepuk jidatnya, ia melupakan hal itu.


"em kalau begitu saya permisi dulu Tuan.."


Sepeninggal Yuna, Nanda menyuruh papinya untuk duduk di sofa.


"Habis ngapain kamu sama Yuna..?"tanya Alan penuh selidik.


Nanda menggeleng tidak mengerti, "Pi..."


"Kamu habis main-main ya sama dia..?"tanya Alan lagi.


"Papi tau.."


"Ya ampun jadi dugaan Papi benar,"


"Sudah sejauh mana..?"sambung Alan.


"Baru sampai pemanasan Pi, janji deh gak ngulang lagi jangan bilang Opa ya.."


Sebenarnya yang di maksud Nanda, main-main ya bolos kerja, ngerjain dan jahilin Yuna gitu. Tapi Alan salah tanggap dia berfikir putranya ada main "Bercinta".


Tapi gak masalah Papinya berfikir begitu biar Nanda gak di jodohin.


"Kenapa gak pernah pulang..?"tanya Alan.


"Males Papi dan Mami ngomongin nikah terus.."


Alan terkekeh, "Memangnya kamu gak kepengen kaya Nada dan Tristan tuh, mereka udah bahagia kamu kapan..?"


"Begini aku udah bahagia Pi.."sahutnya.


"Bohong, definisi bahagia itu kalau udah nikah punya keluarga sendiri. Belum rasain sih kalau punya istri enaknya gimana.."ujar Alan.


🌹🌹


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Tbc.