DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Apa kabar Yuna ?



Nilai seorang lelaki itu


Bukan terletak pada mukanya


yang menawan.


tapi..


Cara dia menghormati


seorang wanita


🌹🌹


Satu hari pelan-pelan berlalu, ketika fajar telah menyingsing di hari berikutnya. Vriska berjalan masuk ke kamar Nanda, membuka gorden jendela, membuat bias cahaya masuk, mengganggu aktivitas sang putra tidur.


"Yuna, sepuluh menit lagi, oke. Saya masih ngantuk.."ucapnya dengan suara serak.


Vriska menggelengkan kepalanya, lalu berjalan mendekat ke arah putranya, "Bangun.."


Namun Nanda masih diam tak bergerak ia justru menarik membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya. Vriska menarik selimut putranya lalu mencubit dan memukul Nanda menggunkan bantal yang ada.


"Bangun gak, buruan bangun."teriak Vriska yang menggema, membuat Nanda bergerak mengubah posisinya menjadi duduk lemas.


"lha kok mami aku kira...-"


"Kenapa...? di kira Yuna. Dasar bucin, bangun cepetan mandi, jadi pergi ke rumah Yuna gak, ntar keburu Yuna-nya di ambil pria lain, mampus kamu..."ejek Vriska sambil melipat tangannya di dada.


"Jelek banget doanya. Aku rebut balik lah, enak aja Yuna hanya milik aku.."sahut Nanda percaya diri.


🌹🌹


"Mau kemana...?"tanya Alan melihat Nanda turun dari kamarnya tapi tidak memakai pakain kantornya, pria itu hanya menggunakan kemeja polos berwarna Navy dan celana panjang.


"Mengejar cintaku lah..."jawab Nanda, membuat semua yang berada di meja makan tergelak, tak terkecuali Nada dan Tristan yang juga berada di sana.


"Baru nyadar gitu kalau Yuna berarti setelah dia pergi, kemarin kemana aja. Makan tuh gengsi.."ejek Nada


"Berisik, lagi ngapain sih pagi-pagi di sini numpang sarapan ya.."decak Nanda kesal.


"Udah gak cari ribut Nad, udah kamu makan aja.."sela Tristan,


Nanda bangkit dari kursinya, dan berpamitan pergi.


"Semoga berhasil, "teriak Tristan, Nanda hanya mengangkat jempolnya.


🌹🌹🌹


Ayuna Mart


Jadi, inilah hasil dari kerja keras Yuna. Kedua orang tuanya membangun sebuah bisnis-bisnis kecilan, sebuah toko sembako yang mereka beri nama Ayuna Mart, sebelumnya Yuna sudah memberi tahu untuk apa memberi nama toko itu dengan menggunakan namanya, kata kedua orang tuanya biar berkah.


Mereka hanya memperkerjakan dua orang karyawan saja. Yuna duduk termenung di kursi meja kasir, padahal hatinya sudah bertekad untu melupakan Nanda atasan-nya, namun entah kenapa otakknya seolah tak mau berhenti untuk memikirkan pria itu.


"Mbak, ini sudah. Jadi totalnya berapa..?"ucap seorang pembeli yang berdiri di hadapan meja kasir, membuyarkan lamunan Yuna.


Yuna menghela nafasnya lalu mulai bangkit dari tempat duduknya mulai menghitung belanjaan pembeli itu, setelah selesai transaksi keduanya. Yuna memilih keluar dari meja kasir itu, "Asih, kamu jaga kasir ya, saya mau keluar dulu.."pintanya pada seorang karyawan toko itu.


"Mbak Yuna mau kemana....?"


"Mau beli bakso, kamu mau...?"Yuna mencoba menawarinya.


Asih mengangguk, "Mau lah mbak, apalagi kalau gratis.."sahutnya sambil terkekeh kecil.


Yuna menggelengkan kepalanya, lalu memilih keluar dari toko itu mencari penjual bakso, saat pikiran dan hatinya sedang kalut ia pikir jika makan bakso dengan kuah yang pedas pasti nikmat otaknya langsung encer.


Saat sudah menemukan penjual bakso Yuna pun memesan tiga bungku bakso, sambil menunggu Yuna mendudukan dirinya matanya menatap arah jalan raya yang cukup ramai. Tak lama ia mengerutkan keningnya, saat melihat sebuah mobil melintas yang cukup ia kenali.


"Tuan Nanda.."gumamnya. Detik kemudian, Yuna menggelengkan kepalanya, berusaha menyangkal dan mengenyahkan pikirannya, di dunia ini jenis mobil milik atasannya itu banyak, jadi gak mungkin bossnya itu menyusul kesini.


"Mimpi kamu Yun.."gumamnya, Yuna memukul kecil kepalanya.


"Mbak Yuna kenapa..?"tanya sang penjual bakso.


Yuna tergelak menyadari tingkah bodohnya, wanita itu tersenyum canggung, "Nggak apa-apa pak, kepala saya lagi pusing.."dustanya.


"Oh ya udah, jadi ini baksonya.."ucap bapak tukang bakso itu menyerangkah tiga bukus bakso yang masih hangat terbungkus di kantong kresek.


Yuna segera mengambil uangnya, lalu membayarnya. "Makasih, pak.."


🌹🌹🌹


Nanda menghentikan mobilnya tepat di halaman sebuah rumah yang berwarna cat hijau daun, depannya terdapat berbagai jenis tanaman bunga, pintunya terlihat tertutup rapat.


Sebelum turun dari mobil Nanda memastikan keberadaan Yuna, ia menyapu setiap sudut halaman itu, namun tak juga menemukan keberadaan Yuna.


Bergegas Nanda turun, ia merapikan penampilannya, dengan gaya coolnya ia berjalan mendekati rumah itu, dan mengetuk pintu.


Tok... tok...


Ceklek... pintu terbuka dari dalam.


"Siapa ya..?"tanya sang pemilik rumah.


"Mohon maaf sebelumnya saya mau bertanya apakah ini rumahnya Ayuna azalea.."tanyanya dengan lembut dan sopan.


"iya benar, saya ibunya. Kamu siapa ya.."sahut seorang wanita paruh baya.


🌹🌹🌹


Yuna menelan salivanya dengan susah saat meluhat kepulan asap dan penampilan bakso yang terlihat menggugah selera. Ketika, ia bersiap memasukan satu sendok bakso ke dalam mulutnya.


"Mbak Yuna,.."teriak seorang anak kecil yang kira-kira baru berusia dua belas tahun, dengan keringat yang membasahi keningnya, anaknya itu membuka menghampiri Yuna.


uhuk... Yuna tersedak, segera ia mengambil minuman di depannya.


"Nino, ada apa sih teriak-teriak...?"decak Yuna pada kecilnya itu.


"Ayo pulang.."sahut Nino tanpa menjawab ucapan kakaknya itu.


"Nggak mau, mbak bosen di rumah mau di sini aja jaga toko.."


"Mbak Yuna, ada pria yang mau melamarmu, yakin ni gak mau ketemu.."goda sang adik.


Yuna menganga, "melamar.. Nino kamu serius, mbak mau di sini aja, pasti pria itu perutnya buncit, dan berkumis."Yuna bergidik ngeri.


Membuat dua karyawan toko yang ada di sana tertawa akam ekpresi Yuna.


"Ayo mbak buruan. Aku di suruh bapak sama ibu manggil mbak suruh pulang.."tanpa mai di bantah bocah itu terus merengek meminta kakanya pulang.


🌹🌹🌹


Sampai depan rumah Yuna segera masuk ke dalam tanpa mengucap salam, wanita itu mencak-mencak kesal.


"Ibu, Bapak, apaan sih manggil. Sudah Yuna katakan, Yuna belum mau menikah, Yuna gak mau di jodohin. Ganggu aja Yuna lagi makan bakso ngapain suruh Nino manggil segala.."cerocos Yuna tanpa henti, wanita itu belum sadar jika ada Nanda yang duduk di ujung sofa, masih memperhatikan Yuna.


Ibunya Yuna datang dari arah dapur membawa nampan yang berisi minuman, "Anak perawan datang bukannya ngucap salam malah marah-marah, gak sopan Yun.." tegurnya.


Yuna diam langsung mengambil segelas teh yang ibunya bawa, wanita itu memutar segera meminum sembari memutar tubuhnya.


Prul.... Yuna mengeluarkan minuman itu ketika melihat seorang pria yang tak asing baginya.


"Tuan..."lirihnya, namun Yuna segera menggelengkan kepalanya, ia masih merasa itu hanya halusinasi. Yuna memukul kecil kepalanya, membuat Ibu, Bapak dan Nanda heran.


"Aww sakit..."ringisnya kala ia mencubit lengannya sendiri.


"Apa kabar Yuna.."tanya Nanda pada Yuna.


Yuna menyadarkan diri, menatap Nanda dengan tatapan tak percaya jika yang ada di hadapannya kini adalah orang yang ia cintai, "Tuan, anda di sini sejak kapan..."


Nanda melirik arloji di tangannya, "Sudah tiga puluh menit yang lalu.."


"Yuna, duduklah temani nak Nanda. Bapak sama Ibu tak masuk dulu, Bapak belum selesai ngurus kebun, ibu juga harus masak.."tuturnya.


"Nak Nanda, kalian bicarakan dulu ya. Mengenai lamaran kamu, Bapak sama Ibu tergantung keputusan Yuna.."sambung Rojali yang merupakan bapaknya Yuna.


Nanda mengangguk tersenyum sopan, "Iya Pak, saya mengerti.."


Yuna masih tidak mengerti, lamaran siapa yang mau lamaran otaknya masih belum mencerna baik. Dengan pikirannya yang bingung wanita itu mendudukan dirinya di ujung sofa jauh dari Nanda.


"Jadi, gimana lamaran saya di terima gak Yun..."ucap Nanda to the point, membuat Yuna terkejut, lidahnya kelu tak sanggup menjawab, wanita itu memalingkan mukanya, berusaha menghindari tatapan Nanda.


🌹🌹🌹


Yuk, dukung author dengan like, komentar, hadiahnya


Tbc