
Pukul delapan malam Alan dan Tristan tiba di rumah Tristan. Membuka pintu mobil Alan melihat mobil Vriska masih terparkir di depan gerbang.
"Ayo Pi, masuk. Mami pasti masih di dalam.."ajak Tristan.
Alan mengangguk mengikuti langkah menantunya untuk masuk. Ketika membuka pintu keduanya terkejut mendapati Vriska tertidur di sofa.
"Mi bangun.."Alan menepuk kedua pipi istrinya.
Vriska menggeliat dalam tidurnya lalu membuka matanya, "Papi..."
"Gimana Nada, apa kata dokter..."tanya Alan
"Baik-baik saja, hanya kelelahan.."dustanya, ia melirik ke arah Tristan.
"Tristan karena kamu sudah pulang, kami pulang ya.."ucap Vriska
"Lho mi, aku belum liat Nada..."ucap Alan dengan cemas.
"Besok saja, kau gak kasihan Tristan perlu istriahat, Nada juga udah tidur. Ayo pulang..."Vriska merangkul tangan suaminya mengajaknya pulang.
"Makasih ya mi.."ucap Tristan
"Besok jangan suruh Nada kerja ya, biarkan dia istirahat.."tutur Vriska
Tristan mengangguk, setelah itu kedua mertuanya pun berlalu keluar.
"Tau gini aku gak usah jemput kamu lah..."celetuk Alan kesal sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Dih ngambek, gak boleh gitu pamali.."
Alan mencebikan bibirnya, "Aku lelah banget tau.."
"Ntar aku pijitin.."
"Pijit plus-plus ya.."jawab Alan, eh
Vriska mendelik, "Ngaco, udah tua. Ga ingat bentar lagi mau punya cucu juga.."
"Cucu maksudnya...?"
Vriska memukul kecil bibirnya ketika menyadari ia keceplosan.
🌹🌹
Tristan yang baru selesai membersihkan diri terkejut ketika mendapati Nada sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa ? bukannya tadi sudah tidur..?"tanya Tristan dengan lembut.
Nada langsung mendekati suaminya memeluknya erat.
"Tumben.."seru Tristan sambil mengelus punggung istrinya.
"Gak tau, ingin meluk kamu saja. Aku kangen banget, tadi pengen nyusul ke kantor tapi gak boleh sama mami.."cebik Nada begitu melepaskan pelukan dari suaminya.
"Kangen..? tumben biasanya kamu gak pernah ngomong gitu. Gengsi kali ya..."
Tristan berjalan ke arah meja rias, sedangkan Nada kembali berbaring di ranjang.
"Apa kata dokter..?"tanya Tristan
"Hanya kelelahan.."dustanya
Tristan mengangguk tak ingin bertanya lebih karena ia melihat raut wajah Nada memang sudah tak sepucat tadi pagi.
Lalu Tristan merangkak naik ke tempat tidur membaringkan dirinya di sebelah istrinya, sembari memeluknya.
"Sudah makan belum..?"tanya Nada sambil memainkan jarinya di dada bidang suaminya.
"Sudah.."
"besok jangan masuk kerja dulu ya..?"tutur Tristan
"Kenapa ?"
"Mami bilang, dokter menyarankan kau untuk istirahat.."ujar Tristan
"Baiklah.."
🌹🌹🌹
"Yun,..."seru Nanda sembari melirik arloji miliknya.
"Ya Tuan.."jawab Yuna tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop miliknya.
"Saya lapar..."
"Ya makan, itu bekalnya sudah di atas meja.."
Nanda mencebik, "Ya kamu siapin lah.." ucapnya sambil bangkit dari tempatnya lenuju sofa.
Yuna memutar bola matanya jengah lalu mengelus dadanya namun tetap saja wanita itu melakukan apa perintah atasannya.
"Masak apa kamu, Yun.."tanya Nanda saat Yuna sudah disampingnya.
"Ayam balado dan tumis sawi putih, tempe goreng.."jelas Yuna
"Sambalnya mana.."
"Gak ada, ayam dan sayurnya kan sudah pedas.."
"Yahh..."
"Makanlah Tuan, saya akan keluar, saya ada janji mau makan siang bareng mas Arya dan Lea, Tuan..."tutur Yuna
"Enggak boleh..."jawab Nana cepat
"Lho kenapa..."
"Kamu berani membantah saya...?"tegas Nanda lantang.
Yuna menggeleng.
"Tapi kenapa..."
"Banyak tanya, ? cepetan. Kamu harus di hukum.."
"Saya tidak merasa melakukan kesalahan..."bela Yuna
Nanda menarik tangan Yuna hingga menyebabkan Yuna jatuh tepat di pangkuannya. Yuna merasa terkejut...,
"Jadi kamu merasa tidak melakukan kesalahan, akan ku beri tau kesalahanmu..."ucap Nanda sambil menatap Yuna dengan tajam.
Jarak keduanya begitu intim hingga membuat lidah Yuna terasa kelu tak mampu menjawab. Nanda mencondongkan wajahnya lebih dekat pada sekretarisnya itu.
"Oh my god..."ucap seseorang di ambang pintu sontak Nanda mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu.
"Mami..."
"Nyonya.."
Sontak Yuna langsung bangkit dari pangkuan Nanda.
Vriska menggelengkan kepalanya, lalu berjalan mendekat dan menarik telinga putranya.
"Ish mami apa-apaan sih, sakit mi. Lepasin napa..?"teriak Nanda, sementara Yuna terdiam menunduk malu.
"Kamu ya, dasar tukang modus. Mami tau pasti kamu yang merayu-rayu Yuna.."
"Mami apaan sih, tadi tuh gak sengaja.."
"Oh ya, kalau tadi mami gak buka pintu entah apa yang akan kau lakukan pada Yuna.."
"Lagian mami ngapain sih kesini-sini.."seru Nanda sambil mengelus telinganya yang terasa sakit akibat tarikan maminya.
Plak.. Vriska menampar tangan putranya.
"Dasar anak gak ada ahlak, udah gak pernah pulang. Orang tua datang bukannya di tawari minuman.."
"Males, kalau di rumah mami dan papi nanya mulu kapan aku nikah. Ya udah mami mau minum apa..?"
"Gak, mami kesini bukan mau ketemu kamu. Tapi mami mau ada perlu ama Yuna.."
"Saya Nyonya..."tunjuk Yuna pada diri sendiri.
"Perlu apa sih mi.."
"Rahasia..."
"Dih gak aku ijininin kalau mami gak kasih tau.."
"Biarin, mami udah bilang opamu ini kok.."
"Tapi Yuna kan sekretaris saya mi.."
"Ayo Yuna, ikut saya ya. Saya minta tolong sama kamu.."
"Tuan, saya ijin ya. Tuan makan sendiri ya, saya gak bisa nyuapin..."jawab Yuna membuat Vriska tergelak
Plak... "Kamu modusin dia nyuruh nyuapin kamu segala,.."
"Ih mami gak... Yuna ngapain sih kamu kelewat jujur.."
"Sekalian aja kamu jadikan dia bini.."
Nanda tidak menjawab hanya nyengir tanpa dosa.
🌹🌹🌹
"Jadi apa yang bisa saya bantu Nyonya..?"tanya Yuna pada Vriska saat di perjalanan menuju cafe.
"Itu lho Nada mau membuat kejutan untuk suaminya yang ulang tahun, kamu mau kan bantu saya. Kita jemput Nada dulu ya ke rumahnya.."
Yuna mengangguk, "Tentu Nyonya.."
"Kamu emang manis banget, pantes aja Nanda betah modusin kamu. Nada juga bilang kamu orangnya asik makanya dia nyuruh saya untuk jemput kamu"
Yuna tersenyum kikuk, "Nyonya berlebihan.."
Vriska menggeleng, "Yuna udah punya pacar..?"
"Belom, saya belum ingin berfikir ke arah sana.."
Vriska mengangguk, "Kalau gitu mau gak nikah sama Nanda.."
Citt... sontak Yuna langung menghentikan remnya.
"Maaf Nyonya saya gak sengaja.."
Vriska terkekeh melihat wajah Yuna yang tampak gugup dan canggung, meski begitu wanita itu tetap bersikap profesional. Yuna kembali menjalankan mobilnya.
"Saya fikir Nanda menyukaimu.."
"Gak mungkin lah Nyonya. Kalau mengenai soal tadi yang anda lihat, saya tidak sengaja mau jatuh makanya...."
"bukannya Nanda yang menarik tanganmu.."
Yuna melirik ke arah Vriska sekilas lalu menghela nafasnya.
🌹🌹
kalau ada waktu senggang nanti saya usahakan up lagi.
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya