DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Do You Love Me??



"Nona Alula.. mungkin Nona tidak mengingatnya, tapi percayalah saat Nona Alula bayi hingga usia Nona 4 tahun, Nona Alula adalah anak yang paling bahagia karena dilimpahi cinta dan kasih sayang yang sangat melimpah dari Nyonya Diana dan Tuan Arga."


"Nyonya Diana dan Tuan Arga sangat menyayangi Nona Alula dan selalu melindungi Nona, mereka berdua selalu ada di setiap pertumbuhan Nona."


"Apa Nona tidak mengingat sedikitpun memori Nona dengan Tuan Arga? Bahkan saat pertama kali Nona belajar berbicara, kata pertama yang diucapkan oleh Nona adalah Daddy."


Bi Uti mengusap air mata yang sejak tadi mengalir di pipi Alula. Alula sedikit terkejut saat Bi Uti menyentuh pipinya, karena dirinya tidak menyadari kalau matanya telah mengeluarkan air bening itu.


"Kenapa aku mengeluarkan air mata? Aneh sekali hehe.." Alula mengusap pipinya sendiri dengan bibir yang tersenyum getir.


"Nona baik-baik saja?"


"Tentu saja Bi." Alula memaksakan senyum, matanya melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 malam.


"Ternyata sudah tengah malam Bi, Alula akan tidur sekarang." Alula segera bangkit dan berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Bi Uti begitu saja.


Alula yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidak langsung memejamkan matanya. Pikirannya masih berkelana di masa lalu ibunya yang sedikit rumit.


"Entah semua itu benar atau hanya sebuah karangan.."


Alula mencoba memaksakan matanya agar terpejam karena setelah setengah jam tubuhnya berbaring di atas ranjang, rasa kantuk tidak juga mendatanginya. Yang ada malah kejadian di masa lalunya yang terus berulang-ulang.


Keesokan harinya Alula terbangun dengan kondisi tubuh yang kurang baik, wajahnya yang putih mulus terlihat pucat.


"Shh.. karena semalam susah tidur kepalaku jadi sedikit berat." Alula mengusap kepala bagian belakangnya.


Alula segera membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi ke sekolah.


Setelah keluar dari kamarnya, Alula tidak menemukan Bi Uti di dapur maupun di ruangan yang lain. Namun Alula menemukan secarik kertas di atas meja makan, yang terdapat tulisan tangan Bi Uti di atasnya.


"Ternyata Bi Uti pergi berbelanja."


Alula segera mengambil sepatunya dan mengenakannya. Saat tubuhnya kembali tegak setelah mengikat tali sepatunya, penglihatan Alula tiba-tiba menjadi buram dan kepalanya sedikit pusing.


Bagaimana tidak, sejak pembicaraannya dengan Bi Uti semalam, membuat isi kepala Alula dipenuhi oleh bayang-bayang kehidupan masa lalu ibunya. Sehingga Alula tidak bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan baik semalam.


Alula segera meneguk sedikit jus apel yang telah dibuatkan oleh Bi Uti untuknya, kemudian memijat pelipisnya sendiri untuk meredakan rasa pusing di kepalanya.


Setelah keadaan tubuhnya kembali membaik Alula segera menggendong tas ranselnya dan pergi ke sekolah.


Dengan tubuh yang lemas Alula berjalan pelan menunju halte Bus, pikirannya masih sama seperti sebelumnya yang dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu Diana. Keringat dingin mulai keluar dari pelipis dan kening Alula.


"Kepalaku berat sekali." Alula menghentikan sejenak langkahnya. "Aku harus kuat.. haltenya tinggal lima meter lagi."


Alula kembali berjalan namun baru tiga langkah kakinya bergerak, tubuh Alula sudah ambruk.


Orang-orang yang sedang berlalu lalang di sana segera berkerumun melihat kondisi Alula.


"Dek! Bangun dek!" Seorang wanita paruh baya mencoba menepuk pipi Alula untuk menyadarkannya, namun Alula masih tetap tidak sadarkan diri.


"Bisa tolong hentikan taksi atau mobil yang melintas, jika memanggil ambulans sepertinya akan lama." Ucap wanita paruh baya itu pada orang-orang yang sedang mengerumuni Alula.


Seorang pria segera membantu untuk menghentikan taksi, namun pagi itu tidak ada satupun taksi yang melintas di sana. Sesuai dengan ucapan wanita paruh baya itu, akhirnya pria itu menghentikan sebuah mobil yang melintas di hadapannya.


"Ada apa pak?" Kebetulan sekali pemilik dari mobil yang melintas tersebut adalah Brian, yang akan pergi ke kantornya.


"Ini Mas ada anak sekolah pingsan di sana, bisa minta tolong bawa ke rumah sakit?" Ucap pria yang menghentikan mobil Brian.


Brian segera mengangguk dan berjalan mengikuti pria tersebut menuju ke kerumunan orang-orang.


"Alula!" Brian begitu terkejut setelah melihat anak sekolah yang pingsan tersebut adalah Alula.


"Mas mengenal adek ini?" Tanya wanita paruh baya yang sedang menopang tubuh Alula.


"Iya Bu, dia tetangga saya. Kalau begitu biar saya sendiri saja yang membawa Alula ke rumah sakit."


Brian segera membopong tubuh Alula menuju mobilnya, setelah mendapat persetujuan dari wanita paruh baya itu. Brian berterimakasih terlebih dahulu pada orang-orang yang telah membantu Alula, sebelum akhirnya bergegas mengemudikan mobilnya dan membawa Alula ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian mobil yang di kemudikan Brian telah sampai di halaman rumah sakit. Brian segera membawa Alula ke UGD setelah diarahkan oleh suster.


Brian dengan setia berdiri tidak jauh dari ranjang Alula yang saat ini sedang di periksa oleh dokter.


Wajah Alula terlihat semakin pucat dan keringat dingin semakin banyak keluar dari tubuhnya, keadaan Alula yang seperti itu membuat Brian semakin khawatir.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Alula?" Lirih Brian dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Apa anda keluarga pasien?" Tanya dokter pada Brian.


"Saya tetangganya dokter, bagaimana keadaan Alula saat ini?" Brian bertanya dengan tidak sabaran.


"Tidak ada yang serius Tuan, namun pasien sepertinya mengalami Rumination."


"Rumination?"


"Rumination merupakan cara berpikir mengenai suatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang Tuan, seperti terlalu mengkhawatirkan masa lalu, atau bahkan membuat seseorang terus terjaga sepanjang malam memikirkan hal yang sama. Sehingga memberikan efek negatif bagi kesehatan pasien."


"Apa itu berbahaya?" Tanya Brian yang semakin khawatir.


"Tidak jika kita bisa mengatasinya Tuan, jadi sebaiknya pasien di hindarkan dari kejadian serta perasaan negatif yang pernah dialaminya di masa lalu. Saya sarankan sebaiknya pasien di rawat untuk beberapa hari, agar kami bisa memantau kondisinya."


"Kalau begitu siapkan ruangan yang terbaik untuk Alula, saya yang akan menyelesaikan administrasinya." Ucap Brian tanpa berpikir.


"Baiklah kalau begitu Tuan, silahkan ikuti suster untuk menyelesaikan administrasinya. Tuan tidak perlu khawatir, pasien tidak akan terbangun untuk saat ini karena saya sudah memberikan obat tidur agar pasien bisa beristirahat dengan baik." Ucap dokter tersebut yang mengerti akan kekhawatiran Brian.


Brian hanya mengangguk dan mengikuti suster yang mengarahkannya, untuk segera menyelesaikan administrasi Alula.