DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Menahan Diri



Sepanjang jalan Nada terus merancau tidak jelas. Tristan di buat tingkahnya kala menyetir mobil tapi tangan Nada sama sekali tidak bisa diam, wanita itu sibuk mengusap-ngusap dada bidang Tristan.


"Nad, kendalikan dirimu aku sedang menyetir.."ucap Tristan.


Nada terkikik geli, ia menepuk pipi Tristan "Kalau di lihat dari jarak dekat kau memang tampan, pantas Kak Nadilla terus memperhatikanmu.."


Tristan tergelak sembari mencoba menyingkirkan tangan Nada, "Kau cemburu..."


"Tentu saja..." wanita itu kembali menyenderkan tubuhnya kembali di kursi sembari memijat kepalanya yang terasa pusing.. Tristan tersenyum senang saat Nada mengakui perasaannya.


Usai memarkirkan mobilnya Tristan membuka pintu lalu memutar tubuhnya membukakan pintu Nada.


"Ayo Nad.."


"Gendong.."ucapnya sambil mengulurkan keuda tangannya, Tristan mengernyit bingung ini sangat jauh berbeda dari sifat Nada sehari-harinya.


Tristan berjongkok mempersilahkan Nada untuk naik ke punggungnya.


"Tidak mau, maunya gendong depan.."


Tristan menghela nafasnya, lalu memutar tubuhnya mulai menggendong Nada. Nada mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


Sesekali Nada akan meraba-raba dada bidang Tristan, membuat darah Tristan mendesir.


"Nad tanganmu.."serunya dengan suara parau.


Nada justru terkikik geli, sampai depan lift Tristan memencet tombol masuk,. Ada beberap orang di sana yang juga sedang menunggu pintu terbuka, para wanita sesekali akan menatp Tristan.


"Sayang, ayo cepat menunduk.."ucap Nada dengan manja. Tristan jadi geli mendengarnya, sangat jauh dari exspetasi.


"Cepat..."desak Nada


Tristan menunduk, cup.. Nada langsung menyambar bibir Tristan lalu **********. Tristan terdiam ia merasa terkejut akan apa yang Nada lakukan barusan.


"Aku tidak suka mereka menatapmu dengan cara seperti itu.."ucapnya usai melepas pangutan bibirnya, wajah Tristan merona malu menyadari di sekitar situ banyak orang.


"Ish, aku ingin mencongkel matanya satu persatu lalu ku berikan pada kambing..."decaknya dengan kesal.


Tristan tergelak sejak kapan kambing berubah makanannya.


Ting.. pintu lift terbuka, Tristan masuk masih membawa Nada dalam gendongan.


"Nona bisa minta tolong, tekankan tombol lima.."pinta Tristan pada salah satu penumpang lift.


Nada mendesis, "Ih kenapa kau bicara padanya, aku tidak suka kau bicara pada wanita lain.."cebiknya.


Tristan tidak menghiraukan ucapan Nada, ia terdiam. Lift meluncur naik, akhirnya Tristan telah sampai di lantai lima.


Berjalan menyusuri lantai sambil menggendong Nada, Tristan berkali-kali memalingkan mukanya saat Nada hendak kembali menciumnya. Merasa lelah Nada terdiam.


Dengan susah payah Tristan berusaha memasukan sandi apartemennya, akhirnya berhasil. Pintu terbuka otomatis, Tristan membawa Nada masuk ke kamarnya, lalu membaringkannya di atas ranjang.


"Tidurlah..."ucap Tristan ia menyelimuti Nada yang masih setengah sadar sedikit membuka matanya.


Tristan berlalu meninggalkan Nada, ia membuka jasnya , lalu melonggarkan dasinya. Membuka lemari mengambil kaos oblong milikmya.


Grepp.. sepasang tangan melingkar di pinggang Tristan, membuat ia terkejut.


Nada memutar tubuhnya di depan Tristan, ia membantu melepaskan dasi Tristan.


"Aku bisa sendiri, kau tidurlah.."Tristan menolak


"Diam.."


Usai melepaskan dasinya, Nada juga membantu Tristan membuka satu persatu kancing kemeja suaminya, lalu melepaskannya dan membuangnya secara asal. Nada meraba-raba dada bidang suaminya dengan gaya seksual. Tristan memejamkan matanya memahan diri untuk tidak menerkam istrinya saat ini juga.


"Ternyata tubuhmu memang bagus. Pantas banyak wanita yang tergila-gila padamu.."seru Nada ia membenamkan wajahnya di dada suami, lalu mengecupnya meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


"Semua yang ada padamu itu hanya milikku, mengerti.."


Nada tersenyum menggoda pada Tristan, lalu beralih menatap bibir suaminya, mengalungkan kedua tangannya Nada berjinjit lalu menyambar bibir Tristan dan menciumnya.


Tristan berusaha melepaskan diri dari Nada, namun sepertinya sia-sia, Nada bertindak begitu agresif. Sebagai seorang pria normal tentu saja hasrat Tristan lama-lama bangkit, ia lama-lama terbuai akan permainan bibir istrinya.


Keduanya saling mencecap dan *******. Tristan menggiring Nada ke ranjang lalu membaringkannya di sana. Nada masih setia meraba-raba dada bidang suaminya itu, nafas Tristan sudah memburu, kabut hasrat dan gairah sudah melingkupi pikirannya.


Tristan mengecup leher jenjang istrinya, membuat tanda kepemilikan di sana. Bukannya mendesah atau mengerang, Nada justru menguap rasa kantuk mulai hinggap di matanya, perlahan ia mulai memejamkan matanya. Bunyi nafas teratur menyadarkan Tritan.


"Nad,.."panggil Tristan, ia tergelak mendapati Nada malah tertidur lelap setelah membuat gairah suaminya bangkit.


"Sial, dia malah tidur.."umpat Tristan, ia meremas rambutnya frustasi.


Nada sama sekali tak bergeming meskipun Tristan menepuk pipinya.


Plak... Nada menggeliat menepis tangan Tristan.


Tristan mengumpat kesal ia bangkit dari atas tubuh istrinya, lalu berlalu ke kamar mandi. Secepat kilat ia menyalakan shower lalu mengguyur tubuhnya di sana.


🌹🌹🌹


Nanda melirik ke arah Yuna yang tengah memijat keningnya, mungkin wanita itu merasa pusing.


"Aku harus membawanya ke mana. Jika aku memulangkan ia dalam keadaan seperti ini, aku khawatir ada orang yang akan memanfaatkan kondisinya saat ini.."ucapnya.


"Dasar merepotkan.."umpatnya, Nanda membelokkan mobilnya ke arah apartemen miliknya tidak jauh dari perusahaan miliknya.


"Bukan membantuku dia malah menyusahkanku.."seru Nanda.


"Kepalaku pusing sekali apa aku akan mati.."rancau Yuna. Nanda tergelak melirik ke arah Yuna yang setengah terlelap. Kemudian ia kembali konsterasi menyetir kemudinya.


🌹🌹


Jangan lupa


Like


Komen


Hadiahnya


Tbc.