
Malam kian merambat naik, dua manusia yang berbeda jenis kelamin itu baru tiba di alun-alun. Gemerlap lampu yang menghiasi keindahan pasar malam, lalu lalang orang-orang berkeliaran di sana meramaikam suasana.
"Ya ampun, aku sudah lama tidak ke tempat seperti ini..."decak Yuna bungah, tak menutupi rasa bahagianya.
Nanda menghela nafasnya berat mengingat ucapan Yuna tadi sore saat Nanda mengatakan maksud baiknya untuk melamar Yuna, wanita itu bilang tidak percaya. Sayangnya belum sempat Nanda menjelaskan niatnya secara rinci, ada lagi yang mengganggunya. Menyesal, ia menyadari perasaannya setelah Yuna pulang ke kampung halamannya, karena setiap ia mau berbicara ada saja yang ganggu. Coba dulu pas Yuna masih bekerja dengannya, cukup tarik Yuna ke dalam pelukannya lalu bilang "I Love U.." ehh
Berjalan masuk ke area pasar malam, banyak pedagang-pedagang, area bermain. Nanda tidak pernah ke tempat seperti ini, tapi melihat kebahagiaan Yuna tidak apalah dia akan coba, lagi kelihatannya memang asyik.
"Yuna, makin cantik aja, kan abang makin suka deh.."goda salah satu pemuda yang sedang duduk di salah satu stand pedagang bakso.
Yuna hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang hampir tak terlihat. Nanda merasa tidak suka ada sesuatu yang mengusik dalam hatinya, mendengar rayuan pria lain untuk Yuna. Segera, ia memegang telapak tangan Yuna dan meremasnya erat.
"Aku tidak suka, ada pria lain yang menggodamu.."decak Nanda, wajahnya memperlihatkan betapa kesalnya ia. Mungkin lebih tepatnya ia sedang cemburu.
"Mereka hanya mengatakan aku cantik, tidak menggoda.."sangkalnya, Yuna apa kamu lihat saja wajah Nanda sudah menggertak kesal, kenapa dia tidak peka.
Tidak mau memperkeruh keadaan, Nanda segera membawa Yuna berjalan duduk di ujung, sembari melihat percikan kembang api di atas.
"Yuna..."Panggil Nanda lembut.
Yuna mengalihkan pandangannya ke arah Nanda, "Ya..."hanya satu kata yang ia keluarkan. Ia melihat kini Nanda tengah menatapnya dengan raut wajah serius.
"Tadi kamu bertanya bukan, ada apa aku datang kesini..?"tanya Nanda, Yuna menganggukan kepalanya tanda ia paham.
Nanda menarik nafasnya rasanya ia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk mengutarakan maksudku, "Tujuanku kesini adalah kamu..."ucapnya dengan lembut sembari menggengam jemari Yuna dengan lemut, matanya menatap Yuna penuh cinta.
"Aku..."tunjuk Yuna pada diri sendiri, jika biasanya ia akan menggunakan kata saya namun entah kenapa saat ini kata itulah yang keluar.
Nanda menganggukan kepalanya, "Ada apa ? apa Tuan mau meminta uang yang dulu Tuan pinjamkan pada ku...."Yuna tersenyum kecut, mengingat kini ia tidak mungkin mempunyai uang sebanyak itu.
"Ck..."Nanda berdecak kesal, apa wajahnya itu sudah mirip rentenir penagih hutang.
"Bukan..."jawabnya cepat.
"Lalu...??"Yuna semakin penasaran, kini wanita itu memberanikan diri menatap wajah Nanda dengan dalam.
"Yuna, apa kau mencintaiku...?"tanyanya Nanda dengan serius. Harusnya ia cukup bilang Yuna aku mencintaimu, tapi kenapa justru ia menanyakan perasaan Yuna lebih dulu, ya ampun kini ia merasa bodoh, sebelumnya ia tidak pernah segugup itu di depan seorang wanita, tapi entahlah dengan Yuna memang aneh kadang ia bisa terlihat lebih bodoh dan lebih pintar. Karena kata itu sudah terlanjur keluar, Nanda tidak mungkin menariknya kembali.
Yuna menelan salivanya, detak jantungnya berdetak kencang, segera ia melepas genggaman tangan Nanda, "tidak.."jawabnya sambil membuang mukanya. Sebenarnya Nanda itu bertanya apa menjebak sih, meski Yuna mencintainya dia bukan tipikal wanita yang akan mengutarakan perasaannya terang-terangan, genngsi dikitlah, masa hanya Nnada doang yang bisa..hihi.
"Yakin..."desak Nanda.
"Hem..."
"Kenapa tidak melihat kesini jawabnya..."seru Nanda memaksa, perlahan tangannya terangkat membelai pipi Yuna hingga menimbulkan rona merah di pipi wanita itu.
"Males, liat wajah anda jelek dan gak berubah..."sahut Yuna. Anda bener-bener ngeselin Tuan, gumamnya.
"Ayo hadap sini dan katakan sebenarnya..."desak Nanda.
Yuna menggeratakkan giginya, "Anda dengar, saya itu tidak mencintai anda.."ucapnya penuh tekanan, juga memberanikan menatap wajah Nanda.
"Tapi bagaimana jika aku yang mencintai kamu..."jawab Nanda serius membuat Yuna terkejut, kini sorot sepasang mata itu menatapnya penuh damba, halu lalang orang-orang yang lewat seakan tak ada.
"Mana mungkin, itu mustahil..."gumam Yuna ia tersenyum kecut, ia mengingat jelas rangkain kata yang selalu Nanda tunjukkan padanya. Kali ini ia tidak boleh membiarkan hatinya kenbali terlena. Apakah ada orang yang mengatakan kata cinta dengan seperti ini, tidak. Ini semua mimpi dan di luar nalar.
"Aku serius Yuna, jika tidak untuk apa aku datang kemari.."timpal Nanda kembali.
Yuna menggelengkan kepalanya, "Tidak... Apa alasan anda mencintai saya. Bagi anda saya itu hanya..."
"Apakah cinta itu butuh alasan..."Nanda memotong ucapan Yuna.
"Tentu..."jawab Yuna cepat.
"Baiklah aku akan mengatakan alasannya aku mencintaimu karena kamu. Aku menyukai dan mencintai dari apapun yang ada pada diri kamu, baik kelebihan dan kekuranganmu.."jelas Nanda.
Yuna masih terdiam seakan tak percaya "Tuan bercanda kan.."
"Apa aku terlihat bercanda Yuna..."
"Hampir satu tahun saya kerja dengan anda, sebelumnya juga anda banyak teman kencan wanita, jadi bagaimana aku tiba-tiba harus percaya. Ini bukan hanya trik supaya saya kembali bekerja pada anda kan.."cecar Yuna dengan lantang.
Nanda kembali membuang mukanya ke keramaian, "Baiklah, biarkan aku berbicara dan kau jangan menyela sampai aku selesai.."pinta Nanda, Yuna mengangguk kepalanya.
Sebelumnya Nanda menarik nafasnya pelan, lalu menggenggam tangan lembut, lalu menatap wajah Yuna dalam-dalam, "Yuna, aku mungkin bukan pria yang baik, tapi aku akan berusaha menjadi yang lebih baik untukmu. Usai kepergianmu dariku aku memyadari satu hal jika ternyata kau sangat berarti untukku. Yuna aku mencintaimu..."ucap Nanda serius menatap wanita yang terdiam di depannya penuh cinta.
Yuna memberanikan diri menatap wajah Nanda, berusaha mencari sebuah kebohongan namun ia tidak melihat apapun itu.
"A...ku..."
"Mengenai ucapanku tadi, aku serius jika mau melamarmu. Jadi, maukah kau menikah denganku....."sambung Nanda.
"Menikah..."lirih Yuna
Nanda mengernyit heran, lantas menganggukan kepalanya, meski dalam hati ia sudah takut jika Yuna menolak dirinya.
"Tapi kenapa harus langsung menikah, kenapa tidak pacaran dulu..."sambungnya membuat Nanda tergelak.
"Kamu mau aku modusin terus kaya yang udah-udah.."ujar Nanda.
Yuna terhenyak, "ehh... maksudnya.."
Nanda melihat sekelilingnya yang semakin ramai, "Jawab dulu Na, ucapanku tadi,.."seru Nanda gemas ingin sekali ia menarik Yuna ke dalam pelukannya, tapi ia menahan diri takut juga tiba-tiba Yuna marah dan menolak dirinya.
Yuna tampak berfikir menimang-nimang jawaban yang akan ia berikan pada Nanda, lalu melirik ke arah Nanda tanpa aba-aba dirinya segera memeluk Nanda dengan erat, "aku juga mencintaimu, Tuan..."lirihnya sambil menyembunyikan rona malu di dada atasannya itu, nyamannya. Ia sungguh merasa bahagia perasaan cintanya terbalaskan. Tadinya ia ingin mencoba untuk menolak Nanda sekedar menguji tapi ia memikirkan lagi, ia tidak mau berpura-pura seperti itu. Biarlah seperti ini, Yuna yakin Nanda orang yang tepat untuknya.
Duarr.. suara percikan kembang api terdengar dan terlihat jelas di udara, tampak begitu indah.
•••
Jangan lupa komentar, like, hadiahnya.
Tbc