DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Banyak plusnya



Suara letupan kembang api di udara terlihat begitu indah. Nanda tersenyum bahagia, ia pun membalas pelukan Yuna, lalu mengelusnya secara lembut, tak lupa ia pun mengecup sekilas pucuk kepala Yuna, harum aroma shampo menyeruak dalam hidungnya, tak sadar darahnya terasa berdesir, ia menelan salivanya susah. Rasa ini selalu sama ia rasa tatkala ia berdekatan dengan Yuna.


"Aku ada sesuatu untukmu..."seru Nanda sembari melepas pelukannya, lalu ia menggukan jemari tangannya untuk menyelipkan rambut wanita itu dengan lembut.


"Apa Tuan..."sahutnya tanpa menutupi rasa penasarannya.


"Ck.."decaknya ia tak suka lantaran Yuna masih saja memanggilnya dengan sebutan Tuan.


"Hilangkan panggilan Tuan itu untukku.. Panggil yang lain, sayang juga boleh.."ujarnya, tak sadar ia telah membuat wajah Yuna merona, segera wanita itu membuang mukanya.


"Ck.. nggak mau. Takut anda baper..."jawabnya membuat Nanda tergelak.


Nanda bangkit dari tempat duduknya, lalu mengambil sesuatu di sakunya.


"Ini..."sebuah kalung berlian ia perlihatkan di depan Yuna.


Yuna menatapnya dengan pandangan tak berkedip, bukan karena ia merasa tertarik pada kalung itu, tapi ia ingat di mana kalung di beli.


"inikan..."ucapan Yuna terhenti.


Nanda tersenyum tipis, "iya, ini kalung ya waktu kau pilih saat kita pergi ke Jepang..." ia menghela nafasnya sebelum kemudian ia kembali berbicara, "Aku pakain ya.."sambungnya.


Yuna mengangguk, lalu Nanda memutari tubuhnya, ia melingkarkan kalung itu di leher Yuna, "I love you, Yuna..."bisiknya membuat wajah sang empunya merona.


"Me too..."jawabnya dengan gugup membuat Nanda terkekeh, ia melihat keadaan sekitar yang cukup ramai, Nanda menundukan kepalanya dan mencium pipi Yuna sekilas.


Cup..


"Kamu....."Yuna melototkan matanya pada Nanda namun pria itu hanya terkekeh tanpa dosa, tidak taukan jika perbuatannya itu menimbulkan debaran yang begitu kencang pada jantungnya.


Nanda kembali mendudukan dirinya di sebelah Yuna, pun demikian ia juga meraih jemari Yuna dan menggenggamnya erat, seakan ingin mengatakan pada dunia jika Yuna memang hanya miliknya.


"Mengenai niatku untuk menikah denganmu itu serius Yuna, kamu mau kan jadi istri juga ibu dari anak-anakku.."ucap Nanda lembut, Yuna menganggukan kepalanya.


"Langsung nikah, nggak mau pacaran dulu gitu..."tanya Yuna.


Nanda menggeleng, "Takut khilaf. Kayaknya dulu ada yang bilang jika pengen langsung nikah aja deh gak mau pacaran, udah bosen kerja.."ucapnya sengaja menyindir Yuna. Wanita itu membuang mukanya sembari mengerucutkan bibirnya.


"Nyindir ni..."decaknya kesal, Nanda terkekeh.


"Nggak gitu sayang.."sangkalnya tanpa sadar membuat Yuna kembali merona, Nanda menggaruk tengkuknya, "Maksudku, akan lebih baik jika kita langsung menikah. Karena aku nggak bisa jamin bisa nahan diri, eh."tuturnya lalu menutup mulutnya, menyadari Yuna kini telah melototi dirinya.


"Kan kalau udah nikah enak pacarannya banyak plusnya lho, gak dosa lagi."sambungnya sambil membuang mukanya, kini pikirannya sudah treveling kemana-mana, dasar mesum.


Yuna menganggukan kepalanya, "Ya sudah ayo nikah.."eh, kok jadi dirinya yang gak sabaran sih.


Nanda terkekeh, "Nanti sayang, sabar. Kamu itu punya orang tua begitupun aku, jadi aku juga harus melamarmu secara resmi, baru kita tentuin tanggal nikahnya.."


Yuna menganggukan kepalanya mengerti, setelah itu banngkit dari tempat duduknya, "Ayo.."


"Kemana..?"tanya Nanda bingung.


"Aku lapar, ingin makan bakso..."sahutnya, Nanda pun menurut kemana Yuna membawanya pergi, ke stand penjual bakso. Ia memesan dua mangkok bakso.


Setelah dua mangkok tersedia, Yuna pun meletakkan sambal ke dalam mangkoknya begitu banyak, Nanda sampai meringis.


"Jangan banyak-banyak nanti sakit perut..."seru Nanda khawatir.


"Gak banyak kok.."sangkalnya, padahal warna kuah bakso itu terlihat begitu merah pun biji-biji cabe sudah menggenangi mangkoknya.


•••


Yuna merasa bahagia, sepanjang jalan menuju rumahnya wanitu itu terus tersenyum bak remaja baru pertama kali merasakan jatuh cinta.


"Boleh nanya sesuatu gak..."tanya Yuna melirik Nanda yang sedang menyetir, pria itu hanya menganggukan kepalanya.


"kenapa..?"


Yuna menggeleng, tapi ia merasa penasaran jika tidak bertanya, rasanya juga masih ada yang mengganjal di hatinya ia ingin mengeluarkan unek-unek hatinya saat itu juga.


"Aku ingat lho semua kata-katamu, kau bilang tubuhku tidak berisi, aku tidak cantik mana anda pria yang menyukaiku. Hemm tapi kenapa tiba-tiba kamu mau menikah denganku, jangan-jangan biar bisa menindas aku ya..."cerocos Yuna, kini ia sudah menunjukkan betapa kesalnya.


"Karma kali ya...."jawab Nanda santai, ia hanya melirik wanitanya itu sekilas.


"ck.."Yuna membuang mukanya.


"Mau jawaban jujur apa bohong.."sambung Nanda.


"Jujurlah.."seru Yuna.


Mobil Nanda kini telah berhenti di depan rumah Yuna, Nanda menghela nafasnya, "Sebenarnya beberapa hal yang mungkin tidak kamu sadari. Semua yang aku katakan tentang fisikmu itu bohong, kau cantik kok, pintar, cerdas, kompeten sudah menjadi nilai plus untuk kamu, hanya satu kau terlalu mudah untuk saya jahili, tapi aku suka..."Nanda melirik Yuna sekilas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kau tau, sifat jahilku padamu itu sebenarnya merupakan bentuk pertahanan diriku. Karena jika aku tidak bersikap demikian, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku, seperti ini..."


Cup.. Nanda mendekati Yuna lalu membungkam bibirnya dengan ciumannya. Yuna terkejut, badannya terasa lemas layaknya jelly. Otaknya mendadak kosong, darahnya berdesir hebat, padahal ciuman itu hanya sekilas. Melepas pangutan bibirnya, Nanda menatap Yuna tersenyum tipis, jemarinya terangkat untuk mengusap lembut bibir Yuna yang terlihat membengkak sedikit.


"Keluar gih, masuk sana istirahat.."sambungnya, Yuna segera tersadar jika kini ia mereka sudah sampai.


"Kamu mau menginap di mana...?"tanya Yuna ketika ia akan membuka pintu mobilnya.


"Gampang..."


"Nginap di rumahku aja.."tawarnya.


Nanda menggeleng, "enggak, aku akan menginap di hotel. Tadi siang aku udah berkeliling gak jauh dari alun-alun tadi ada hotel, aku akan menginap di sana saja. Besok juga aku kan harus pulang.."


"Kok pulang sih.."seru Yuna kecewa.


"Pekerjaanku banyak yang aku tinggalin Yuna, apalagi kamu kan udah gak ada kamu, aku keteteran gak ada yang bantuin. Kasihan Opa Danu kalau aku terlalu banyak libur..."


Yuna jadi merasa bersalah, "Tapi..."


"Lusa aku akan datang lagi sama Mami dan Papi buat lamar kamu, oke.."ujar Nanda, Yuna mengangguk dan tersenyum tipis.


"masuklah, besok sebelum pulang aku pasti akan menemui kamu lebih dulu.."perintahnya.


"Maaf ya, gara-gara aku risent kamu jadi banyak kerjaan yang terbengkalai.."


"Udah gak apa-apa..."


"Aku sebenarnya gak mau risent, masih betah kerja. Cuman hanya itu pilihan yang tepat untuk ku saat itu, karena em aku..."


"Aku ngerti kok, kamu gak mau terperangkap denganku dalam hubungan yang gak pasti.."jawab Nanda tepat sasaran, membuat Yuna terkejut bagaimana bisa ia tau.


"Gak usah kaget gitu, kali. Ya udah untuk beberapa pekan kamu cuti aja dulu, nanti setelah nikah kamu boleh kerja lagi. Plus-plus malah, di rumah kerja di kantor kerja layanin suami.."seru Nanda sambil membayangkan kegiatan kerjanya di kantor sama istri, pasti asyik kan bisa modus, toel-toel dikit udah halal ini.


"aww.."Nanda meringis kala Yuna mencubit tangannya, "Dasar mesum, dah ah aku ngantuk mau masuk.."


"Namanya pria normal lah, ya udah sana.."sahutnya.


Segera Yuna membuka pintu mobilnya lalu turun dari sana, dan melambaikan tangannya sebelum kemudian ia masuk ke dalam rumah.


••


jangan lupa like, komentar, hadiahnya ya.


Tbc.