
Yuna memberanikan diri melirik Nanda. Namun, ia terkejut saat melihat atasannya itu justru mengedipkan sebelah matanya menggoda Yuna.
Yuna mengambil bantal sofa yang berada di sampingnya lalu melemparkannya pada Nanda, bodo amat jika mau di bilang kurang ajar kan Yuna udah bukan lagi karyawannya.
Bugh..
"Yuna, kamu apa-apain sih..."decak Nanda kesal sambil menyingkirkan bantal dari badannya.
"Saya rasa anda kesambet setan roban tadi di jalan, omongan anda begitu klantur gak jelas.."sahut Yuna membuat Nanda tergelak.
"Mau kemana...?"tanya Nanda saat melihat Yuna justru beranjak dari tempat duduknya.
"Ambil minum, tadi minuman Tuan sudah saya minum kan, mau minta bapak buat doain juga siapa tau setan yang menempel di kepala anda langsung ilang.."tuturnya sebelum berlalu pergi masuk ke dalam dapur.
Nanda menggelengkan kepalanya, wanita itu benar-benar, memangnya ada yang salah apa dari ucapannya, bukankah omongannya terdengar jelas.
"Ini minumnya Tuan. Cepetan di minum ya...."Yuna meletakkan teh yang ia bawa. Nanda hanya menganggukan.
Yuna kembali mendudukan dirinya di sofa, "Tuan ngapain kesini segala, gak usah bujuk-bujuk saya kembali kerja ya, saya lagi menikmati enaknya jadi pengangguran..."tuturnya membuat Nanda tergelak.
"Memangnya kamu gak kangen ama saya..."tanyanya dengan percaya diri.
"Nggak..."jawab cepat sambil membuang mukanya, gak ketemu sehari aja tingkat kepercayaan diri mantan bossnya itu makin menjadi.
Nanda mengangkat alisnya, lalu mengambil teh buatan Yuna, "Gak kamu kasih macam-macam kan di minuman ini Na..."goda Nanda.
"Saya kasih sianida tadi, puas..."decak Yuna.
"Udah sana pulang, Tuan ngapain sih kesini. Ganggu ketenangan aja..."usirnya, padahal dalam hati juga ia senang melihat Nanda tiba-tiba di sini, setidaknya dapat mengobati rasa rindu yang mendera, tapi Yuna tidak mau memperlihatkan perasaan itu secara gamblang.
Nanda menghela nafasnya, lalu bangkit dari tempat duduknya menghampiri Yuna. Membuat Yuna canggung.
"Eh Tuan, mau ngapain..."ucap Yuna dengan gugup.
"Menurut kamu saya mau apa..?"goda Nanda makin menjadi ia duduk persis di sebelah Yuna yang hanya berjarak beberapa centi, membuat suasana menjadi canggung.
Jantung keduanya berdetak kencang, "eh jangan macam-macam saya teriak ni,"ancam Yuna.
"Teriak saja.."tantang Nanda.
"Tuan Nanda mau apa, minggir.. sa..saya.."ucapnya terbata, Yuna mencoba bangkit, namun Nanda segera menarik tangan Yuna hingga wanita itu jatuh terjerembab di dadanya.
Deg.. jantung berdetak dua kali lebih cepat, harum maskulin tercium menusuk dalam indra penciumannya. Yuna mendongakkan wajahnya hingga kini tatapan keduanya bertemu. Nanda merasa darahnya berdesir hebat, ada sesuatu yang menggelitik dalam hatinya, harum lavender dari tubuh Yuna seakan membuatnya mabuk kepayang. Apalagi ketika pandangan keduanya bertemu, dua pasang mata saling bertatapan, lidahnya kelu tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, seakan semua kata-kata yang sudah ia susun sempurna seperti ketika ia merayu seorang wanita langsung sirna begitu saja. Kini pandangannya justru jatuh pada bibir ranum Yuna, ia menatapnya penuh damba, seakan pria itu begitu ingin menyentuhnya. Tangannya masih melingkar sempurna di pinggang wanita itu, ia justru semakin mempererat pelukannya.
"Tuan..."panggil Yuna mencoba menyadarkan Nanda dari posisi sebenarnya, posisi yang terlihat intim jika di lihat orang lain pasti akan menimbulkan salah paham.
"Tuan lepaskan saya..."pinta Yuna sekali lagi.
"Sebentar saja Yuna, aku sungguh merindukanmu..."ucapnya dengan suara serak, pria itu justru mempertahankan posisi itu.
Deg... Yuna terpengarah, "Maksudnya..."tanya Yuna.
Kini Nanda melepas kedua tangannya lalu membingkai wajah Yuna, "Yuna sebenarnya tujuanku datang kesini, karena aku..."
Bruk... belum sempat Nanda melanjutkan ucapannya, terdengar suara benda terjatuh dari arah pintu tengah yang menghubungkan ruang makan dan ruang tamu. Sontak Yuna langsung buru-buru bangun dan menghampirinya.
"Raskha, Nino. Apa yang kalian lakukan..."teriak Yuna menggelegar pada kedua adik laki-lakinya, terlihat jelas raut wajahnya menggeram gelap dan merona, entah karena ia merasa kesal pada kedua adiknya yang mengganggu atau merasa kecewa karena belum mendengarkan ucapan Nanda sampai selesai.
Tidak jauh beda dengan Yuna, Nanda pun merasakan hal yang sama, tapi ia tidak berani marah bukan pada kedua calon adik iparnya. Eh, percaya diri sekali, bagaimana jika Yuna menolak dirinya. Ia merutuki dirinya kenapa begitu susah untuk menyatakan perasaannya.
"Bukan aku mbak, Ini lho Mas Raskha.."tunjuk Nino pada kakak laki-lakinya, yang bisa di lihat juga paling lagi menduduki bangku SMP.
"Ngapain pakai jatuh segala..."tanya Yuna
"Ngintip..."ceplos Raskha, "Maksudku, aku di suruh manggil Mbak Yuna sama pacarnya di ajak makan, Bapak sama Ibu masih di kebun belakang.."ujar Raskha.
Yuna melotot mendengar kata pacar, tak sadar ia melirik ke arah Nanda yang hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
"Kata siapa dia pacar mbak.."Yuna berdecak pinggang.
"Masa bukan pacar peluk-pelukan, aku sama Nino liat secara live lho tadi..."
"Tadi itu, mbak cuman..."
"Udahlah gak sudah di jelasin, untung Nino matanya aku tutup jadi gak liat kan. Mbak bagi duit dong.. Anggap aja uang tutup mulut..."ujar Raskha menodongkan tangannya.
"Gak ada, kamu kira aku bank apa. Udah tau mbak pengangguran, main minta duit aja.."sarkas Yuna.
"ehh jangan...."Yuna menarik tangan Raskha.
" mau buat apa sih...?"
", mau buat pergi ke alun-alun entar, mau lihat pasar malam, sambil liat kembang api..."
"Eh serius, mbak juga mau lah ikutan..."seru Yuna
"Gak boleh, mbak tuh udah tua jadi di rumah aja..."ujar Raskha, membuat Yuna berdecak kesal. Nanda yang mendengarnya terkekeh.
"Mana mbak.."Raskha kembali mengadahkan tangannya pada Yuna.
"Gak ada..."Yuna menyilangkan tangannya di dada.
Nanda memgambil dompet miliknya lalu mengeluarkan uang yang berwarna merah beberap lembar, "Ini, cukupkan..."seru Nanda memberikan empat lembar uang yang bergambar presiden RI pertama itu pada kedua adiknya Yuna.
"Cukup, sangat cukup.. Makasih kakak ipar..."seru keduanya sambil menerima uang itu dengan cepat, lalu melenggang pergi begitu saja.
"Tuan apa-apaan sih, ngapain pakai ngasih-ngasih uang pada kedua adik saya begitu banyak..."cecar Yuna.
"Gak papa Na, dari pada nanti mereka ngadu ke orang tuamu kamu. Kamu mau, aku sih gak masalah paling juga di suruh nikahin kamu doang.."jawab Nanda terkekeh.
"Ish mimpi..."serunya.
•••
Yuna mengajak Nanda makan di rumahnya.
"Aku gak di ambilin ni.."seru Nanda.
"Ish punya tangan juga.."decak Yuna, namun akhirnya ia pun juga beranjak mengambilkan makanan untuk Yuna.
"Nih..."Yuna menyodorkan piring uang berisi nasi, sayur, dan lauk.
"Makasih..."sahut Nanda.
"Habis makan Tuan pulang ya,..."ucap Yuna, membuat Nanda tersedak.
uhuk.. uhuk.. Bergegas Yuna mengambil air minum lalu memberikannya pada Nanda.
"Gak mau, aku masih ada misi yang harus aku selesaikan dulu..."jawab Nanda.
"Misi apa sih, Tuan mau nyari tanah di sini buat di bangun cabang perusahaan gitu, saya saranin jangan deh, bisa di demo nanti anda.."seru Yuna.
Nanda hanya terdiam mendengarkan ocehan Yuna, sambil terus memasukan makanan itu ke mulut dengan lahap, Yuna sampai bingung melihat atasannya itu makan seperti beberapa hari tidak makan.
"Tuan seperti tidak pernah makan saja sih.."ucap Yuna.
"kok tau sih, aku emang semenjak kamu keluar dari perusahaan gak makan dengan benar, gak ada yang masakin sih.."jawab Nanda.
"Makanya cari istri lah..."
"Ini lagi usaha..."jawabnya enteng.
Yuna tergelak mendengarnya namun ia masih tidak mengerti maksudnya, "Jadi gimana, mau kan jadi istri aku.."
"Apaan sih, gak jelas. Tuan jangan bercanda..."
Nanda meletakkan sendok di atas piringnya tanda ia telah selesai makannya, lalu menatap intens wanita yang ada di hadapannya,"Yuna, saya itu..." ucapan Nanda terpotong karena Yuna langsung bergegas pergi meninggalkannya setelah mendengar teriakan ibunya dari belakang rumah.
"Yuna, jangan lupa angkatin jemuran di samping rumah. Udah mendung tuh nanti keburu hujan..."teriak kanjeng Ibu sebelumnya.
Nanda menyugar rambutnya dengan kesal, "Gagal lagi.. gagal lagi. Perasaan susah banget cuman mau bilang cinta aja banyak yang ganggu."ucapnya.
Gak bisa begini, aku gak mau pulang sia-sia. Aku harus cari cara lain, buat ngungkapin semua niat aku...gumamnya.
••••
Sabar ya bang Nanda, nie authornya sengaja mau buat kamu kesal dulu😂😂.
Yuk terus dukung karyaku dengan like, komentar, hadiahnya, bagi vote boleh😊😊 makasih
Tbc