DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Bujuk rayu ala Nada



Waktu menunjukkan jam istirahat makan siang. Melihat suaminya masih sibuk dengan beberapa berkas pekerjaannya, Nada berinisiatif untuk memesankan makanan lewat ponselnya.


Tristan melirik ke arah istrinya yang tengah mengotak-atik ponselnya, ia tidak menegur karena ia sadar ini sudah waktunya istirahat.


Tok.. tok..


"Masuk.."sahut Tristan tanpa mengalihkan tatapannya.


Seorang petugas resepsionis masuk membawakan bungkusan yang berisikan makanan.


"Nona, ini pesenan makanan anda..."seru Nia sembari meletakkannya di atas meja Nada.


"Makasih Nia.."sahut Nada


"Sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi.."pamit Nia undur diri.


Sepeninggal Nia, Nada melirik ke arah Tristan yang masih tak bergeming pandangannya dari laptop di depannya. Menghela nafasnya, Nada mulai membuka bungkusan makanan itu.


Berjalan ke arah suaminya, Nada meletakkan makanan itu di meja suaminya. Tristan sama sekali tak bergeming, pria itu hanya meliriknya sekilas tanpa berniat untuk bertanya.


"Sudah waktunya makan siang, ayo makan.."ujar Nada.


"Sebentar lagi, kau duluan saja.."jawab Tristan.


Nada mencebik kesal, lalu memutar tubuhnya ke sisi Tristan, sembari membuka kotak bungkusan makanan itu, kemudian mulai mengambil makanan itu dengan sendok di tangannya.


"Buka mulutmu..."perintah Nada,


Tristan melirik ke arah istrinya yang tengah menyodorkan sendok yang berisi makanan tepat di depannya.


"Apa...?"tanya Nada,


Tristan mengedikkan bahunya, "Tumben Nad.."


"Ayo buru ih, nanti aku berubah pikiran.."seru Nada


Tristan tersenyum tipis, lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan dari istrinya. Sementara tangannya dan matanya tetap fokus pada laptop di depannya, mulutnya tidak berhenti mengunyah makanan yang di suapi istrinya, hingga makanan itu habis tandas tak tersisa.


Mengambil tisu di atas meja, Tristan membersihkan sisa-sisa makanan di sudut bibirnya.


"Kau tidak makan..?"tanya Tristan melirik ke arah istrinya yang sedang membersihkan bungkusan makanan lalu membuangnya ke tong sampah.


"Nanti.."jawabnya.


"Kenapa...? Jangan telat makan Nad, maag mu bisa kambuh.."tutur Tristan.


"Tau kok.."


"Lalu.."Tristan menatap Nada yang sedang berjalan ke arahnya.


"Emmmm.."gumam Nada sembari kembali ke samping suaminya, lalu memegang pundak suaminya.


"Kamu pasti capek kan, aku pijitin ya.."seru Nada yang justru membuat Tristan bertambah bingung. Nada mulai memijat-mijat pundak suaminya.


Tristan mengusap wajahnya kasar, lalu membuang nafasnya, "To the point aja, kau ingin apa..?"tanya Tristan.


Nada menghentikan gerakan memijatnya, "Gak ingin apa-apa..?"


"Tapi gelagatmu mencurigakan Nad, aku tau ada yang ingin kau katakan.. cepat katakan, sebelum aku berubah pikiran.."


Nada tersenyum tipis, "Emm.. boleh gak aku pulang cepat hari ini.."


Benar dugaan Tristan wanita itu memang ada maunya, hist udah pandai merayu ya sekarang.


"Mau ngapain.."Tanya Tristan sembari menarik tangan Nada lalu mendudukannya di pahanya.


"Aku udah janji mau makan siang dengan Mami, lalu setelah itu aku mau belanja bareng. Aku udah lama juga gak pergi bersama Mami..", ujar Nada sembari menggerakkan jarinya di dada bidang suaminya, yang di balut kemeja abu-abu dan di padukan jas hitam. Tristan memejamkan matanya, apa Nada tidak sadar gerakan tangannya itu justru menggoda hasrat suaminya.


"Kalau aku beri ijin kau mau kasih aku apa...?"seru Tristan sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipi Nada lalu menyelipkannya di belakang telinganya.


"Kamu minta apa..?"tanya balik Nada, menatap suaminya.


Cup.. Tristan mengecup sekilas bibir istrinya, Nada melongo.


"Pinter banget nyari kesempatan.."cebik Nada kesal,


Tristan terkekeh, "Sambil menyelam minum air Nad.."


"Aku berangkat sekarang ya, Mami pasti sudah menunggu.."ucapnya sambil bangkit dari pangkuan suami.


Tristan segera mencegah dan menarik perglengan tangan istrinya, "Tunggu dulu, suamimu ini bahkan belom memberi ijin, boleh apa tidak. Main pergi aja.."


Nada menghentakkan kakinya kesal, "Jadi ceritanya gak di ijinin ni.."


Tristan menahan tawanya, "Kamu mau belanja apa..?"


"Apa ajalah.."


Tristan mengangguk sembari melirik ke arah istrinya yang tengah cemberut kesal, "Tamu bulanan mu dah selesai kan.."tanyanya to the point.


"Udah.. kenapa..?"sahut Nada dengan jengkel,


"Pergilah sana, jangan lupa beli lingeri ya.."serunya.


"Untuk apa...?"


"buat entar malam.. Untuk di pake kamu.."ujar Tristan


"Aku punya banyak baju tidur kok.."


"Bedalah Nad.. Pokoknya kamu harus beli.."


"Jadi pergi gak, ntar keburu aku berubah pikiran lho.."


"Ya lah..."


🌹🌹🌹


Hanumusa Resto


Nada dan Vriska sudah berjanjian akan bertemu di sana, dan kini keduanya tengah makan siang bersama.


Nada makan dengan lahap, membuat Vriska heran.


"Nad.."Panggil Vriska


"Hemm.."


"Makannya pelan-pelan napa Nad, kaya orang kesetanan begitu sih makannya.."ujar Vriska sembari menyerut segelas jus orange yang ada di depannya.


"Diam lah Mami, aku benar-benar lapar.."sahut Nada sambil mengunyah makannya.


Vriska memijat keningnya, "Nad, jangan-jangan kamu hamil ya.."


Uhuk.. uhuk.. sontak Nada tersedak dengan makanannya sendiri, lalu ia segera mengambil minumannya.


"Mami ngaco, ya gak mungkin lah.."elaknya dengan santai.


"Kok bisa.."


"Ya karena aku dan Tristan belum sampai tahap itu.."ucapnya,


Vriska terkejut mendengarnya, menyadari Maminya terdiam Nada menutup mulutnya, Sial keceplosan.


"Kenapa Nad. Kau menghindarinya, kamu tidak mau melayaninya, ingat Tristan itu tampan pintar, kalau sampai ia tergoda perempuan lain baru nanti nyaho kamu.."cerocos Vriska dengan kesal,


"Mami apaan sih, kami memang sengaja menundanya, dan akan melakukannya sampai benar-benar siap.."ujar Nada benar, meski ia tidak menceritakan permasalahan rumah tangganya sebelumnya.


"Kapan.."tanya Vriska tajam.


"Nanti malam.."eh keceplosan lagi kan.


Vriska menyeringai senang, "Baguslah, karena Mami sudah tidak sabar untuk menimang cucu.."


Belum apa-apa udah pengen nimang cucu aja ya Vriska, "Gak sabar pengen di panggil nenek.."


"Enak aja nenek, gak mau di panggil nenek.."


"Ya udah gak sudah punya cucu dulu.."seru Nada


"Mami mau di panggil Oci aja.."


"Oci.. apa tuh.."


"Oma cantik.."seru Vriska, membuat Nada tergelak.


"Berarti nanti Papi di panggil Onta ya..."sahut Nada


"Kok Onta sih Nad.."


"Kan Opa tampan.."ujarnya dengan santai.


"Terserah dia lah, panggil mbah juga boleh..."seru Vriska tertawa, sembari membayangkan muka Alan yang sedang kesal.


"Suka heran sih aku, Papi nemu istri kaya Mami tuh di mana gitu.."tutur Nada


"Kenapa memangnya..?"


"Mami aneh.."jawab Nada


"awwww.... "rintih Nada kala Vriska menjewer telinganya, "Dasar anak gak ada akhlak.."kata Vriska


"Ampun mami.. lepas.. malu-maluin tau.."


"Biarin..."


"Oke.. maaf Mamiku yang cantik. Em bagaimana kalau kita belanja, hari ini Nada yang traktir deh.."


Vriska langsung melepaskan tangannya, "Benarkah.."


Nada mengangguk, sembari mengelus-elu telinganya.


Usai membayarkan makanan yang mereka pesan, keduanya memutuskan untuk berbelanja. Vriska juga mengajak Nada untuk membeli lingeri, padahal Nada udah lupa tuh apa pesenan suami, tapi Maminya malah ngingetin.


Emang kalau udah rejeki Tristan mah gak akan kemana ya, eh.


🌹🌹🌹


Oke Fix, gak ada pelakor di novel ini. Tapi sempetin komen di setiap bab yang Ara up ya readers, biar Ara tambah semangat. Ara suka baca komentar-komentar kalian 😊.


Hari ini up doble, kasih hadiah buat Ara boleh gak ?


Janga lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Tbc.