DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Takdir dan garis Tuhan



Vriska dan Alan membawa putrinya untuk pulang ke rumahnya, sepanjang jalan Nada terus menangis menyesali semua yang terjadi. Sebelumnya ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, dan ia juga mencoba menyiapkan hatinya akan bentakan dan kemarahan Tristan. Tapi entah kenapa hatinya terasa sakit saat kejadian itu benar-benar terjadi.


Mungkin saja jika ia mendengarkan apa kata saudara kembarnya untuk tak merayakan ulang tahun suaminya kejadian ini tak akan terjadi, tapi entah kenapa Nada benar-benar ingin memberikan kejutan untuk ulang tahun suaminya, apakah itu bawaan bayi atau apa Nada tidak tau.


"Istirahatlah sayang.."seru Vriska membantu putrinya untuk berbaring di ranjang, Nada hanya terdiam menurut sambil menangis. Alan meletakkan sebuah kotak yang berisikan kado yang akan Nada berikan pada Tristan, di atas meja.


"Mami, apa Tristan akan memaafkanku.."lirih Nada dengan suara serak.


"Pasti, Tristan hanya butuh waktu sendiri saat ini. Percayalah dia tidak semarah itu padamu.."ujar Vriska sambil menghapus sudut mata putrinya yang basah.


"Tapi dia begitu marah, mami aku takut dia meninggalkanku..."Nada kembali menangis tergugu. Ia mengingat jelas raut wajah suaminya yang begitu marah, dan bagaiman teriakan Tristan yang begitu melengking di telinganya.


Stttt...Vriska meletakkan jari telunjuknya di bibir putrinya sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan bicara yang tidak-tidak, berfikirlah yang positif sayang..."tutur Vriska


"Tapi..."


"Nada tenanglah semua akan baik-baik saja, kau istirahatlah, tidak baik jika kau merasa tertekan untuk kandunganmu.."timpal Alan


Hiks.. hiks.. "Mami aku takut, aku sungguh takut Tristan meninggalkanku..."


Vriska kembali menarik Nada membawanya ke dalam pelukannya, sambil mengelus punggung putrinya.


🌹🌹


Nanda berdecak kesal saat ia merasa kehilangan jejak sebuah taksi yang di tumpangi Tristan.


"Sial.."umpatnya


Nanda menepikan mobilnya mencoba berfikir kemana Tristan pergi.


Apartemen..


Ya Nanda kembali melajukan mobilnya menuju apartemen Tristan, ia menaikan kecepatan mobilnya di atas rata-rata. Sampai di sana Nanda bertanya pada security yang berjaga, dan mereka mengatakan jika tidak melihat Tristan masuk ke dalam gedung apartemen itu.


Nanda mengusap wajahnya frustasi, ia kembali masuk ke dalam mobilnya, lalu menyandarkan tubuhnya.


Pantai..


"Masa iya dia ke pantai malam-malam ini.."gumamnya.


"Tidak ada salahnya aku mencoba,.."ucapnya sambil kembali melajukan mobilnya.


🌹🌹


Tristan memijat kepalanya yang terasa begitu pusing sesekali ia akan memandang hamparan luasnya laut di depannya, menikmati semilir angin malam yang menghembus hingga sampai tulangnya.


"Mama.. Papa.. maafkan aku..."lirihnya.


"Aku rindu kalian,, sangat..." Tristan mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke dalam pantai.


Derap langkah kaki seseorang terdengar di teling Tristan, namun ia mengacuhkannya.


"Kau di sini rupanya..."ucapnya Nanda


Tristan hanya meliriknya sekilas, "Untuk apa kau kemari, pergilah.."usirnya


Nanda tersenyum mengejek, "Cemen.."


Tristan terkesiap mendengar ejekan Nanda, ia maju hendak mencengkram Nanda.


Tristan melepaskan cengkramannya, "Tinggalkan aku sendiri, kau pergilah..."seru Tristan.


Nanda menghela nafasnya, lalu mendudukan dirinya di pasir "Kenapa kau pergi begitu saja, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Nada.."


"Untuk apa, ? aku tidak menyuruhnya untuk melakukan semua itu.."jawab Tristan


Nanda terkekeh, "Dia tidak bermaksud membuatmu marah, dia hanya ingin menciptakan momen yang bahagia, menggantikan sebuah momen yang bagimu merupakan momen buruk.."


"Kalian bisa bicara begitu, karena kalian tidak merasakan menjadi aku. Bagaimana rasa kehilangan orang yang paling kita cintai di momen yang harusnya membuat kita bahagia.."ujar Tristan


Nanda mengepalkan kedua tangannya menahan gejolak emosi yang ia rasa lalu ia tersenyum sinis, "Aku memang tidak merasakan apa yang kau rasakan, tapi apa segala yang kami berikan padamu tidak cukup Tristan untuk membuktikan bahwa kami sangat menyayangimu. Papi dan mami ku bahkan tidak pernah membeda-bedakan antara aku, kamu maupun Nada, mereka teramat menyayangimu. Meski aku tau keduanya tidak akan mampu menggantikan posisi kedua orang tuamu. Tapi Tristan apakah kau tidak percaya sebuah takdir dan garis kehidupan...?"ucapnya dengan lantang dan tegas.


Tristan masih terdiam tak bergeming ia tidak berniat untuk menjawab ucapan Nanda. Pikirannya kembali mengingat bagaiman Vriska dan Alan merawat dan memperlakukan dirinya layaknya anak kandungnya sendiri.


"Kepergian kedua orang tuamu adalah takdir semua sudah di gariskan Tuhan. Manusia di ciptakan juga untuk mati, kita semua juga akan tiada entah hari ini, besok atau lusa, saat itu pasti akan tiba. Tapi kita tidak akan tau kapan dan bagaimana Tuhan akan mengambil nyawa kita. Lalu pantaskan kau masih menyalahkan dirimu sendiri ? meratapi setiap hari di mana orang tuamu tiada ? Apa kau fikir mereka akan senang dan bahagia melihatmu seperti ini..?"sambung Nanda dengan tegas.


"Jawab aku jangan hanya diam, bodoh..."Nanda mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ada yang datang juga ada yang pergi Tristan. Kau itu tidak sendiri masih ada kami, keluargamu juga. Aku tidak memintamu untuk melupakan kedua orang tuamu, hanya saja cobalah untuk menerima semuanya dengan lapang dada, relakan mereka lalu cobalah meraih kebahagiaanmu bersama istrimu. Kau mencintainya bukan...? maka cobalah dengarkanlah penjelasannya. Barangkali ada sesuatu yang membuat ia begitu ingin melakukan hal itu.."


"Maksudmu..?"tanya Tristan


Nanda mengedikan bahunya, "Aku tidak tau, kalau kau ingin tau tanya saja pada istrimu.. Kau bilang kau sangat mencintainya, tapi anehnya kau lebih mementingkan egomu.."


"Ayo pulang... aku akan mengantarmu..."ajak Nanda


"Tunggulah tiga puluh menit lagi.."


"Menunggu apalagi bodoh.."sahut Nanda sembari bangkit dari tempatnya.


"Bawel sekali. Kenapa sedari tadi kau mengataiku bodoh.. kalau aku bodoh kau gila.."umpat Tristan.


"Karena kau memang bodoh.."cetus Nanda


"Brengsek..."Tristan bangkit langsung mendorong Nanda hingga terjatuh.


"Sial.."umpat Nanda


Keduanya justru asyik berguling-guling di atas pasir, hingga mencipatkan gelak tawa.


"Sudah lama bukan kita tidak pergi berdua, apalagi sejak kau menikah dengan adikku.."ucap Nanda.


Tristan mengangguk, "Kau rindu aku gitu.."


"ih jijik, aku masih normal..."


Tristan terkekeh,


🌹🌹


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Tbc