DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Do You Love Me??



"Alula.. sudah dulu ya mengocehnya, sekarang sebaiknya kamu makan." Ucap Brian karena Alula tidak berhenti berbicara dan hal yang dari tadi dibicarakan oleh Alula adalah tentang fasilitas rumah sakit yang sangat baik.


Alula tidak tahu saja kalau fasilitas yang sangat baik ini hanya ada di bangsal VVIP saja dan itu perlu mengeluarkan uang yang cukup banyak, pikir Brian.


"Aa.." Brian menyodorkan sesuap bubur ke hadapan bibir Alula, Alula tanpa rasa canggung sedikitpun menerima suapan itu dengan senang hati.


"Anak pintar."


"Makasih kak Brian." Alula tersenyum kecil dengan mulut yang sedang mengunyah.


Beberapa saat kemudian Bi Uti yang sudah sampai di rumah sakit, langsung menuju ke ruang rawat Alula karena sebelumnya Brian sudah memberitahunya.


"Nona Alula!" Dengan wajah yang sangat khawatir Bi Uti menghampiri Alula yang sedang terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.


Brian yang juga terkejut karena kedatangan seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk kedalam ruangan Alula langsung berdiri di samping Alula.


"Bi Uti, Bibi kenapa?" Alula menautkan kedua alisnya melihat Bi Uti yang baru saja menerobos masuk ke dalam ruangannya.


"Bibi baik-baik saja Non, Nona Alula yang kenapa? apa ini karena ucapan Bibi semalam?" Dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir Bi Uti mendekati Alula dan memeriksa keadaannya.


"Tidak Bibi! Alula baik-baik saja, Alula mungkin hanya kecapean karena kemarin terlalu lelah saat latihan basket Bi." Alula tersenyum untuk menenangkan Bi Uti.


"Lalu bagaimana dengan diagnosa dokter Non?" Tanya Bi Uti yang masih sedikit khawatir meskipun Alula sudah menenangkannya.


"Mmm.. itu.. Alula juga belum tahu Bi." Alula melihat ke arah Brian yang berdiri di belakang Bi Uti.


"Bi Uti bisa kita bicara sebentar?" Brian akhirnya bersuara setelah beberapa saat terdiam.


"Kamu? apa kamu yang menghubungi saya tadi?" Karena khawatir Bi Uti baru menyadari kalau ada seorang pria yang dari tadi bersama Alula.


"Iya Bi, Saya Brian tetangga baru Alula di apartemen, bisa kita bicara diluar sebentar Bi?"


"Kenapa diluar kak? Alula juga mau mengetahui kondisi Alula." Alula menarik tangan kemeja Brian.


"Seperti apa yang kamu ucapkan pada Bi Uti tadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan Alula, kamu hanya perlu dirawat disini dulu dua sampai tiga hari, agar kondisi kamu kembali sehat seperti semula." Ucap Brian lembut menatap sayang mata Alula.


"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu saja kepada Bi Uti, bisa kita bicara diluar sebentar Bi?" Sambung Brian yang sudah mengalihkan pandangannya pada Bi Uti.


"Tentu saja Nak." Bi Uti mengerti kalau pria bernama Brian itu tidak ingin menjelaskan kondisi Alula dihadapan Alula.


"Alula kami akan berbicara diluar sebentar, kamu habiskan buburnya ya." Brian menyerahkan mangkuk bubur yang tinggal setengahnya ke tangan Alula.


Alula tidak berkomentar apapun lagi, dirinya hanya mengangguk dan tersenyum kecil, memperhatikan gerak gerik Brian yang berlalu dari hadapannya setelah mengusap lembut kepalanya.


"Huhh.." Alula menghela nafas setelah Brian dan Bi Uti keluar dari ruangannya.


Wajah pucat Alula yang sebelumnya dihiasi dengan senyuman senyuman manis, kini tergantikan dengan wajah datarnya yang tidak menampilkan ekspresi apapun. Matanya menatap kosong sebuah televisi yang sedang menyala di hadapannya.


"Ekspresi ini lagi, kamu sangat pintar menyembunyikannya." Batin Brian.


"Jadi bagaimana dengan kondisi Nona Alula yang sebenarnya Nak?"


Brian mulai menjelaskan pada Bi Uti tentang kejadian pagi tadi saat dirinya menolong Alula dan membawanya ke rumah sakit, kemudian tentang kondisi Alula saat ini yang mengalami Rumination, atau berpikir mengenai suatu hal yang dilakukan secara berulang-ulang, seperti terlalu mengkhawatirkan masa lalu. Sehingga memberikan efek negatif bagi kesehatan Alula.


Brian juga memberitahu Bi Uti kalau dokter menyarankan agar Alula dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari, agar dokter bisa memantau kondisi Alula dengan baik, terutama saat malam hari.


"Ya ampun.. ini semua salah Bibi." Bi Uti langsung terduduk di kursi tunggu didepan ruang rawat Alula, air mata mulai keluar dari mata Bi Uti setelah mengetahui kondisi Alula.


Brian yang melihat dan mendengar Bi Uti menyalahkan dirinya sendiri segera menenangkannya. Brian berjongkok di hadapan Bi Uti dan menggenggam tangannya.


"Bibi jangan berkata seperti itu, semuanya akan baik-baik saja Bi, kondisi Alula akan segera pulih kembali."


"Tapi tetap saja ini semua salah Bibi, seharusnya Bibi tidak memberitahu Nona Alula tentang kejadian di masa lalu.." Bi Uti terisak kecil dengan tubuh yang bergetar.


"Bibi, saya memang tidak tahu masa lalu seperti apa yang sebelumnya tidak diketahui oleh Alula, tetapi dengan mengetahui masa lalu itu bisa saja kesalahpahaman yang ada di pikiran Alula selama ini menjadi terjawab."


"Semalam Bibi memberitahu Nona Alula tentang kehidupan masa lalu ibunya dan dirinya, dengan harapan semoga saja Nona Alula tidak terlalu membenci ibunya setelah mengetahui semua itu, namun sepertinya Nona Alula tidak langsung mempercayainya dan membuatnya berpikir terlalu banyak."


"Sepertinya alasan Alula tidak tinggal dengan ibunya karena hubungan keduanya cukup rumit." Batin Brian.


"Bisa tolong bantu Bibi untuk menjaga Nona Alula? Bibi lihat kalian cukup dekat." Bi Uti menyeka air matanya dan menatap wajah Brian.


"Tentu saja Bi, Bibi tenang saja Brian pasti akan menjaga Alula." Ucap Brian yakin.


"Kalau begitu Bibi minta tolong, tolong temani Nona Alula sebentar, Bibi akan mengabari ibunya."


Brian mengangguk mengiyakan dan segera kembali ke dalam ruang rawat Alula. Alula masih sama seperti sebelumnya, wajahnya datar dengan tatapan kosong. Brian segera berjalan kearah Alula dan mengambil kembali mangkuk bubur yang ada di tangan Alula.


"Kak Brian!" Alula yang terkejut langsung menatap wajah Brian.


"Sepertinya kamu tidak bisa makan jika tidak aku suapi." Brian kembali menyuapi Alula yang masih sedikit terkejut.


Alula hanya menerima suapan demi suapan dari tangan Brian tanpa mengucapkan apapun lagi, begitupun dengan Brian. Mereka berdua sibuk dengan pemikirannya masing-masing, hingga bubur yang ada di mangkuk tersebut benar-benar habis.


Brian segera mengambilkan segelas air dan membantu Alula meminum obatnya, bertepatan dengan itu Bi Uti kembali ke dalam ruangan.


"Kebetulan Bibi sudah di sini Brian mau pamit Bi, ada beberapa hal yang perlu Brian urus."


"Begitu ya Nak, Terimakasih ya sudah membantu menjaga Alula, maaf kami jadi merepotkan." Ucap Bi Uti yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Bi, kalau begitu saya permisi dulu. Alula Aku pergi dulu." Brian mengusap lembut kepala Alula, kemudian berlalu dari sana setelah Alula mengiyakan dan berterimakasih padanya.