DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Bimoli



Pagi ini merupakan pagi pertama Nada dan Tristan menempati rumah peninggalan Sera dan Chandra. Rumah yang terletak di perkomplekan, itu memang tidak semewah rumah orang tua Nada ataupun apartemen milik Tristan, tapi Nada merasa nyaman di sana. Rumah itu hanya terdiri dari satu lantai dengan tiga kamar yang sudah di fasilitasi kamar mandi dalam, ruang tamu, ruang televisi, lalu dapur. Bagian depan ada garasi yang mungkin hanya bisa muat satu mobil, di depannya juga terdapat tanaman-tanaman bunga yang cantik yang terawat, selama tidak di tempati Tristan menyuruh seseorang untuk membersihkan rumahnya sekaligus merawat tanaman-tanaman kesayangan mamanya itu.


Pagi ini Tristan baru pulang joging keliling komplek sendiri, sembari menunggu Nada sedang membuat sarapan, entah apa bentuk dan rupanya nanti.


"Eh Mas Tristan, baru pulang jogging ya..."sapa seorang wanita dengan pakaian glamor serta dandanan tebal dengan membawa tentengan.


"Iya tante Windy..."sahut Tristan merasa tak enak hati


Wanita itu cemberut ketika Tristan memanggil dirinya tante, "Kok tante sih manggilnya.."


"Kamu tuh ganteng pisan, baru pindahan ya.. Jadi betah di rumah ada pria tampan di komplek sini...."sambungnya memberikan sekotak bolu yang ia bawa tadi.


Nada yang saat itu sedang menyirami tanaman di depan rumahnya merasa kesal mendengar obrolan-obrolan gaje tante itu.


"Sayang.. Udah pulang joggingnya..."Panggil Nada tiba-tiba ia bergelayut manja di lengan Tristan.


"Kringetan gini sih.."sambungnya sambil menghapus keringat di wajah suaminya menggunakan handuk kecil yang bergantung di leher Tristan. Entah kenapa Tristan merasa akan ada aura tidak enak.


"Ini siapa..? adiknya mas Tristan ya.."ucap Windy,


"Hai kenalin saya Windy, tetangga sebelah. Calon pacarnya mas Tristan.. Oh ya mas Tristan kebetulan saya lagi tadi bikin bolu, di jamin enak lho ini spesial buat mas Tristan dari Windy yang cantik.."ucapnya dengan nada menggoda memberikan sekotak bolu buatannya.


Wuek.. Nada rasanya ingin muntah mendengarnya. Nada langsung mengambil bolu di tangan Windy.


"Eh kurang ajar, itu buat mas Tristan bukan buat kamu.."


"Kalau tante mau kasih kue ini buat mas Tristan sama aja bukan, toh saya juga istrinya.. Hati dan tubuhnya juga milik saya, apalagi cuman kaya ginian.."ucapnya sembari membuka kotak kue itu, dan memakannya langsung di hadapan Windy.


Wuek.. "Kuenya gak tante,..."


"Ngarang kamu, mana mungkin kamu istrinya. Mimpimu ketinggian, masa selera mas Tristan gadis kaya kamu, dekil kucem gak ada cantik-cantiknya, masih mending saya cantik, bohay, seksi.."celetuk Windy


Nada meradang emosinya langsung mencak-mencak, ia membuang kue itu lalu menyingkap lengan baju tidurnya, karena saat ini ia memang masih mengenakan piyama tidurnya.


"Dasar wanita ganjen, sini hadapi aku.. Berani sekali kamu goda suamiku..."tantang Nada dengan emosi,


"Nad, udah ayo kita masuk saja. Tante mendingan pergi saya juga tidak anda di sini, dia memang istri saya...."pinta Tristan ia merasa lelah dan lapar ingin segera sarapan.


"Kamu apaan sih, sana minggir. Biar ku beri pelajaran bibit-bibit wanita penggoda seperti dirinya.."


"Ayo sini..."tantang Windy.


Nada mendorong Tristan di hadapannya, lalu maju menjambak rambut Windy dengan kencang..


"awwww.. sakit dasar wanita sialan.."celetuk Windy.


"Apa lho wanita penggoda.."


Keduanya terus berkelahi hingga sampai pada akhirnya beberapa warga datang lalu memisahkan keduanya.


"Dasar Bimoli.. awas kamu ya.."teriak Nada kesal, lalu menghentakkan kakinya kesal meninggalkan halaman rumahnya. Windy juga sudah di suruh kembali ke rumahnya.


🌹🌹🌹


"Nad, kamu masih marah sama aku, maaf ya aku tuh gak tau kalau kejadiannya bakal begitu...."tanya Tristan saat di meja makan.


Nada cemberut, "Aku tuh sedang kesal, aku belum puas untuk memberikan pelajaran pada wanita bimoli itu, kenapa sih warga harus datang, aku sudah lama juga tidak berantem.."


Tristan tergelak, "dari tadi kamu tuh sebut dia bimoli apa artinya sih Nad, aku tuh gak ngerti.."


"Bibir monyong lima centi, emangnya kamu tuh gak lihat pas dia ngomong bibirnya di maju-majuin gitu, bikin kesal saja ingin ku potong rasanya tub bibir.."celetuk Nada


Tristan memijat kepalanya, mengingat kejadian tadi tentu saja ia cukup terkejut melihat watak istrinya yang bar-bar. Bagaimana ia bisa menarik menjambak rambut Windy.


"Awas saja kalau kau sampai tergoda dengannya, akan ku sunati dirimu.."sambungnya sambil menancapkan garpu di tangannya tepat di atas telor mata sapi yang ia buat dengan sedikit gosong hingga merubah warnanya menjadi sedikit gelap.


Glek.. Tristan menelan salivanya dengan susah.


"Enggaklah sayang, aku udah cinta mati kok ama kamu.."godanya.


"Cih gak mempan, aku sedang kesal denganmu.."


"Cemburu.."


"Nanya lagi... Buru lah ayo berangkat.."


"Lho gak jadi sarapan..."tanya Tristan.


"Gak mood...."


"Tapi Nad..."


"Masakanku sama sekali gak bikin nafsu, semuanya rasanya asin... "lirih Nada sambil menghela nafasnya kecewa, jujur saja semua tak sesuai expspetasinya.


Tristan tersenyum lalu mengelus rambut Nada, "Duduklah kembali, tunggu lima belas menit. Aku akan masak untukmu,.."


Nada melihat arloji di tangannya, "Tapi Tristan ini sudah..."


"Aku tidak mau membiarkanmu berangkat ke kantor tanpa sarapan Nad..."ucapnya pria itu sudah berdiri di kompor bersiap untuk memasak.


🌹🌹


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Tbc.