DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Do You Love Me??



"Asisten Devi.. apa yang harus Aku lakukan hmm..?" Diana terisak kecil dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan.


"Nyonya jangan seperti ini.. tolong berhenti menangis Nyonya, semuanya akan baik-baik saja." Dengan suara yang sedikit bergetar Devi mencoba menenangkan Diana.


"Dengar Nyonya, saya akan memastikan Nona Alula akan baik-baik saja. Kita bisa meminta Nona Alula kembali ke mansion atau kita bisa menyuruh Bi Uti tinggal di apartemen Nona Alula, dengan penjagaan yang ketat Nyonya hmm..?" Devi menggenggam tangan Diana untuk menguatkannya.


"Nona Alula juga dikelilingi oleh teman-teman yang sangat menyayanginya, semuanya pasti akan baik-baik saja." Sambung Devi, tangannya mengusap tangan Diana yang ada digenggamnya.


Dengan mata yang tidak berhenti mengeluarkan air mata, Diana menatap wajah asistennya yang sedang tersenyum meyakinkan.


"Nyonya harus tegar, jika Nyonya ketakutan dan menangis seperti ini.. wanita itu akan sangat bahagia." Devi menghapus air mata yang mengalir di wajah Diana.


"A.. aku bisa menghadapinya bu.. bukan?" Diana menggenggam erat tangan Devi.


"Tentu saja! sekarang Nyonya sudah memiliki segalanya, Nyonya sudah semakin kuat untuk melindungi Nona Alula."


"Terimakasih Asisten Devi, kamu.. Bi Uti.. dan kakakmu Arga.. kalian selalu ada untuk Aku dan Alula." Diana menatap sebuah pigura foto yang ada di dinding kamarnya, yang menampilkan foto dirinya dengan seorang pria tampan yang sedang menggendong Alula kecil berusia 2 tahun.


"Nyonya tidak perlu berterimakasih, jika bukan karena Nyonya saya tidak akan berdiri seperti ini sekarang." Ucap Devi membuat Diana tersenyum kecil.


"Sebaiknya sekarang Nyonya tidur, besok kita akan memikirkan cara untuk menghadapi situasi ini."


Devi segera membantu Diana merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya. Diana tersenyum kecil melihat Devi sebelum akhirnya memejamkan matanya. Devi mengusap pelan kepala Diana dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Kenapa cobaan untukmu tidak pernah berakhir, jika saja kak Arga masih hidup.. dia pasti akan memeluk dan melindungi kalian berdua." Gumam Devi dalam hatinnya.


Keesokan harinya Diana sudah terlihat lebih baik, tubuhnya sudah kembali segar seperti biasanya. Asistennya Devi dengan setia selalu berada di sampingnya dan menemaninya. Saat ini Diana sedang sarapan bersama Devi sebelum mereka berangkat ke kantor.


"Asisten Devi, apa Alula sangat dekat dengan pria yang tinggal di sebelah apartemennya?" Tanya Diana, membuat Devi menghentikan kegiatan makannya.


"Dari yang saya lihat dari rekaman cctv yang ada di apartemen sepertinya mereka langsung akrab dan cukup dekat Nyonya, bahkan pria itu membantu Nona Alula belajar."


"Apa pria itu dapat dipercaya? Bagaimana dengan Bi Uti, apa Bi Uti mengetahui sesuatu tentang pria itu?" Diana meneguk air putih yang ada dihadapannya kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi meja makan.


"Nyonya tenang saja saya sudah menyelidiki pria itu, dia seorang pengusaha muda yang mengurus perusahaan keluarganya dan sepertinya dia tidak ada kaitannya dengan Ceren. Kalau untuk Bi Uti, sepertinya Bi Uti belum mengetahui kedekatan mereka."


"Baiklah kalau begitu, Ah iya! tolong suruh Bi Uti menginap di apartemen Alula malam ini."


"Baik Nyonya, Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang Nyonya? apa kita akan segera kembali ke Indonesia?"


"Tidak Asisten Devi, Alula tidak akan menyukainya. Lagipula kita masih memiliki waktu sekitar 2 bulan sampai Alula genap berusia 18 tahun, jadi untuk saat ini Ceren pasti tidak akan bertindak.. perketat saja penjagaan untuk Alula."


"Baik Nyonya." Asisten Devi menganggukkan kepalanya.


......................


Alula Rendi Rafi dan teman-temannya yang lain baru saja selesai latihan basket.


"Rendi Rafi Alula langsung pulang duluan ya." Alula menghentikan kedua temannya yang ingin memasuki ruang ganti pakaian Pria.


"Gak mau nongkrong dulu La?" Rendi bertanya mewakili Rafi yang berdiri di sampingnya.


"Enggak dulu deh udah jam 5, Alula lagi gak mau pulang kemalaman."


Alula berlalu dari hadapan Rendi dan Rafi, Alula segera mengganti pakaiannya dan berjalan meninggalkan sekolah. Seperti biasanya Alula pulang menggunakan bus, dan menunggu bus tersebut di halte yang ada di dekat sekolahnya.


"Ren makan dulu ramen yuk?"


Saat ini Rafi dan Rendi sedang berjalan menuju parkiran sekolah untuk mengambil sepeda motornya.


"Boleh, tempatnya yang didepan aja." Ucap Rendi membuat Rafi mengangguk menyetujui.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai, mereka langsung memesan dan berbincang ringan sebelum pesanannya datang.


"Oh iya Ren ini, Sebelum pulang Ayu sempat nitipin ini." Rafi memberikan permen berbentuk kaki pada Rendi.


Mata Rendi langsung berbinar dan segera mengambil permen itu dari tangan Rafi.


"Thanks Raf." Rendi mengigit bibir bagian dalamnya mencoba menahan senyum.


Rafi yang melihat gelagat aneh dari Rendi mulai berpikir keras, sebenarnya apa yang istimewa dari permen berbentuk kaki itu pikir Rafi.


"Tunggu Ren! kok babang Rafi mencium gelagat aneh ya.." Rafi mengusap dagunya dengan mata yang lekat memperhatikan Rendi.


"Hmm..? maksudnya?" Rendi sudah tidak kuat dan akhirnya tersenyum menatap permen di tangannya, membuat Rafi meringis.


"Ren! Kenapa tiba-tiba tersenyum?" Rafi semakin kebingungan melihat tingkah Rendi. "Kamu menjadi gila karena Ayu memberimu sebuah permen? Ehheeiii... Ayu juga memberikannya pada ku satu Ren." Rafi menepuk meja dan meledek Rendi.


"Ohh.. baiklah." Rendi tersenyum sesaat pada Rafi, kemudian kembali memperhatikan permen yang ada ditangannya.


"Ishh.. dia menakutkan." Rafi sampai mengusap tengkuknya sendiri melihat tingkah Rendi yang menurutnya benar-benar sangat aneh hari ini.


Sementara itu di tempat lain Alula baru saja masuk ke dalam apartemennya. Alula segera mengganti sepatunya dengan sandal rumahan, kemudian meletakkan sepatunya di rak.


"Non Alula baru pulang." Bi Uti menepuk bahu Alula dari belakang


"Ya Tuhan!!" Alula sedikit berteriak karena terkejut.


"Hehe.. maaf Non Bibi mengagetkan ya." Bi Uti terkekeh melihat reaksi Alula yang terkejut .


"Ya ampun... Alula kaget tahu Bi." Alula mengusap dadanya untuk menghilangkan rasa terkejutnya.


"Bibi belum pulang? Ini udah hampir malam loh Bi?" Alula berjalan menuju dapur di ikuti oleh Bi Uti di belakangnya.


"Bibi mau menginap Non bolehkan?" Bi Uti kembali melanjutkan kegiatan memasaknya, karena beberapa saat yang lalu sebelum Alula pulang Bi Uti memang sedang memasak.


"Tentu saja Bi, Bibi Alula bersih-bersih dulu ya." Alula pamit pada Bi Uti setelah meneguk segelas air putih, Bi Uti hanya mengangguk dan tersenyum mengiyakan.


...*****Kenangan Manis*****...


10 tahun yang lalu


"Ini permen kesukaan Ayu buat Rendi." Ayu memberikan sebuah permen berbentuk kaki pada Rendi. "Kalau kapan-kapan Ayu ngasih permen ini lagi ke Rendi, berarti Ayu sedang merindukan Rendi." Ayu kecil tersenyum manis menatap Rendi.


Rendi hanya menatap wajah Ayu yang tersenyum manis dan menerima permen berbentuk kaki itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.