DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Do You Love Me??



Sesuai dengan permintaan Rendi tadi sore agar Alula ikut membujuk Brian agar mau diwawancarai, Alula yang saat ini sudah menyelesaikan makan malamnya bergegas menuju ke apartemen Brian.


Ding dong!


Brian yang kala itu baru selesai membersihkan tubuhnya sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, mendengar bel apartemennya berbunyi Brian langsung berjalan menuju ke layar interkom. Brian tersenyum mengetahui Alula yang berdiri di depan pintu apartemennya.


Brian segera mengatur rambutnya yang masih setengah basah sebelum akhirnya membuka pintu apartemennya.


"Selamat malam kak Brian." Alula tersenyum manis menatap Brian yang sudah membuka pintu untuknya.


"Malam Alula." Brian membalas senyuman Alula. "Ayo masuk." Ajak Brian yang di angguki oleh Alula.


Alula langsung masuk kedalam apartemen Brian mengikuti Brian yang sudah berjalan terlebih dulu, Alula langsung duduk di atas sofa di ruang tengah setelah Brian mempersilahkannya duduk. Mata Alula menelusuri setiap sudut apartemen Brian yang didominasi oleh warna abu-abu, sangat menjelaskan bahwa apartemen ini di tempati oleh seorang pria.


"Silahkan di minum tehnya Alula." Brian meletakkan secangkir teh di meja yang ada di hadapan Alula, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa di sebelah kanan Alula.


Dihadapkan dengan situasi seperti ini entah kenapa Alula merasa sedikit canggung. Mungkin karena ini kali pertama Alula memasuki apartemen tetangganya, atau mungkin Alula takut Brian menolak permintaannya.


"Terimakasih kak Brian." Alula mengambil cangkir teh tersebut dan meniupnya untuk menghilangkan perasaan canggung.


"Ada apa Alula? Ada yang bisa aku bantu?" Brian bertanya karena Alula terlihat sedikit canggung, tidak seperti Alula biasanya yang selalu berbicara tanpa rasa takut atau malu.


"Sepertinya Rendi belum memberitahu kak Brian, aish.. kenapa aku semakin gugup saat ingin berbicara." Batin Alula, Alula meminum tehnya setelah itu kembali meletakkan cangkir tehnya di atas meja.


"Mmm.. begini kak Brian, sebelumnya Alula ingin bertanya, apa kak Brian benar-benar pengusaha besar yang sukses?"


"Mmm Aku pikir bisa dikatakan seperti itu, ya meskipun aku hanya menjalankan perusahaan cabang ayah ku saja." Brian terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Alula.


Alula menggaruk keningnya merasa malu dengan pertanyaannya sendiri. "Mulut ini kenapa malah bertanya seperti itu."


"Maaf kak Brian.. sebenarnya Alula bukan ingin menanyakan itu, Alula ingin bertanya apa kak Brian bersedia di wawancarai? Alula Rendi dan kedua teman kita yang lain sedang ada tugas kelompok, kami harus mewawancarai seorang pengusaha besar." Alula memberi jeda ucapannya sebentar. "Jadi, apa kak Brian bersedia jadi narasumber kami?" Alula mengigit bibir bawahnya setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Aku kira ada apa, besok siang datanglah ke perusahaan Melvin, kalian juga harus mendokumentasikannya kan?" Ucap Brian membuat Alula menghela nafas lega.


"Syukurlah kalau kak Brian bersedia, Terimakasih kak Brian." Alula tersenyum, tangannya kembali mengambil cangkir teh yang ada di hadapannya kemudian meminum tehnya kembali.


"Wuaaa.. sia-sia saja aku gugup sampai seperti itu, ternyata semudah ini dan tidak sesusah yang dibayangkan. Haha.. benar-benar luar biasa, semua rasa gugup ku menguap begitu saja." Gumam Alula dengan terkekeh kecil membuat Brian yang memperhatikannya tersenyum gemas.


"Kamu gugup?" Tanya Brian yang masih tersenyum memperhatikan ekspresi Alula.


"Tadi sih sedikit gugup kak, soalnya kata Rendi kak Brian harus di bujuk, tapi ternyata.. hah! Rendi hanya membodohi Alula haha.." Alula meletakkan kembali cangkir tehnya yang sudah kosong.


"Mau aku buatkan teh lagi?" Tanya Brian yang melihat cangkir teh Alula sudah kosong.


"Tidak perlu kak Brian, lagipula Alula mau pamit pulang Terimakasih tehnya kak." Alula beranjak dari duduknya kemudian tersenyum manis pada Brian yang ikut berdiri untuk mengantarnya.


"Kalau begitu Alula pamit pulang kak, sekali lagi terimakasih."


"Iya sama-sama, ayo biar aku antar.."


......................


Keesokan harinya sekitar pukul sebelas siang.


Alula dan ketiga temannya sudah meminta izin kepada guru kesiswaan untuk keluar dari sekolah selama dua jam, karena mereka ada tugas untuk mewawancarai seorang pengusaha dan jadwal wawancaranya siang ini.


Mereka berempat pergi ke perusahaan Melvin dengan menggunakan taksi online, agar mereka berempat bisa sampai ke perusahaan bersamaan. Saat di perjalanan mereka juga sudah membagi tugas masing-masing untuk wawancara nanti.


Alula dan Rendi sebagai pewawancara atau orang yang memberikan pertanyaan, Ayu sebagai notulis atau orang yang mencatat dan merangkum hasil wawancara, Sedangkan Rafi bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan wawancara tersebut.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya taksi yang mereka berempat tumpangi sudah berhenti di depan gedung perusahaan Melvin. Adam yang sudah mengetahui tentang wawancara ini dari Brian dan Rendi, sudah menunggu mereka berempat di lobi.


"Kak Adaaam.. lama ya tidak bertemu." Ayu langsung memeluk tubuh Adam yang sudah merentangkan tangannya.


"Gadis kecilku semakin cantik saja setelah dua tahun tidak bertemu." Adam mengusap punggung Ayu yang berada dalam dekapannya.


"Cih! gadis kecilku.." Rendi mengalihkan pandangannya dari Adam dan Ayu dengan gumaman kecil yang hanya terdengar olehnya saja.


"Kamu kenapa tidak pernah main ke rumah? padahal kakak sudah hampir dua minggu loh pulang ke Jakarta." Adam mengurai pelukannya.


"Iya kak soalnya kata Rendi kakak sedang sibuk, jadi tidak boleh di ganggu dulu." Ayu bergelayut manja di lengan kanan Adam.


"Ahh.. iya kakak memang sedang sangat sibuk." Adam tersenyum kecil melihat ke arah Rendi yang terlihat kesal, begitupun dengan Rafi dan Alula yang sejak tadi hanya memperhatikan.


"Halo kak Adam, selamat datang kembali." Alula tersenyum manis menyapa Adam yang sudah beralih menatap ke arahnya.


"Ini dia! Jodoh Sang Tuan Muda! benar-benar sangat serasi. " Dalam hati Adam bertepuk tangan, Adam tersenyum menatap wajah cantik Alula.


"Kamu pasti Alula dan kamu.. Rafi." Adam menunjuk Alula dan Rafi bergantian.


"Iya kak, ternyata kakak masih mengingat kita berdua." Rafi tersenyum bahagia saat Adam kakak dari temannya yang baru beberapa kali bertemu dengannya dua tahun lalu, masih mengingat dirinya.


"Tentu saja Aku masih mengingat kalian berdua, kalian kan ikut mengantarkan aku ke bandara waktu itu."


"Huh..!" Rendi yang tidak bisa lagi menahan kekesalannya saat melihat Ayu yang masih setia menempel pada tangan kakaknya menghela nafas kasar, membuat keempat orang yang ada di hadapannya langsung melihat ke arahnya.


"Rendi kenapa? sakit?" Ayu segera beralih mendekati Rendi dengan raut wajah yang terlihat khawatir, saat menyadari raut wajah Rendi yang berubah tidak seperti biasanya.


"Tidak!" Rendi segera berlalu menuju lift dengan perasaan kesal.


"Rendi tunggu..!" Ayu segera menyusul Rendi dan berjalan beriringan dengan tangan kanan yang melingkar di tangan kiri Rendi.


"Dasar bocah.." Adam yang melihat tingkah kekanakan adiknya, hanya bisa menggelengkan kepala.


"Semakin terang-terangan La." Bisik Rafi di telinga Alula yang berdiri di sampingnya, Alula hanya tersenyum kecil mendengar bisikan Rafi.


"Mari Alula Rafi ikut kakak." Adam memandu Alula dan Rafi menuju ruang kerja Brian.