
Nanda meringis kesakitan saat ia hendak mendudukan dirinya, Yuna yang terlelap samar-samar mendengar rintihan Nanda pun membuka matanya.
Mengucek kedua matanya, Yuna beranjak membantu Nanda untuk menyandarkan punggungnya di ranjang dengan beralasan bantal.
"Terimakasih Yuna.."
"itu sudah tugas saya Tuan.."
Ceklek.. pintu terbuka seorang Doker cantik lalu di ikuti seorang perawat masuk ke dalam.
"Aku seperti melihatnya, tapi di mana.."gumam Nanda, mencoba menggapai memori yang ia lupakan.
Hingga Dokter itu mendekat terpampanglah name tag di pakaiannya, Dr. Rena.
"Bagaimana perasaan anda hari ini Tuan, apa ada keluhan.."tutur Dr.Rena
"Rena,.."lirih Nanda
Rena terkejut, "Anda mengenal nama saya."
"Tentu saja, dari..."Nanda menunjuk name tag Rena.
Rena terkekeh, "Oh iya aku lupa.."
"Tapi sebelumnya kita pernah bertemu kan, di cafs Yo ghourt,..".
Reno mencoba mengingatnya, "Oh iya saya ingat Tuan, maafkan saya saat itu tidak sengaja.."
"Tidak masalah.."
"Maaf saya harus segera memeriksa kondisi anda hari ini, setelah ini saya harus memeriksa pasien yang lain.."
Nanda mengangguk, dr, Rena mulai memeriksa kondisi Nanda secara inci.
"Apa ada keluhan.."tanya dr.Rena
Nanda menggeleng, "Rasanya sakitku langsung hilang begitu di periksa dengan dokter secantik dirimu.."
Dr Rena tergelak ia menggelengkan kepalanya, memilik paras ayu dan imut membuat pasien kerap sekali menggoda dan merayunya bagi Rena hal itu sudah terbiasa. Asalkan masih dalam kategori sopan dan menghargai dirinya, itu sudah cukup.
"Jika memang sudah tidak ada keluhan lagi, mungkin setelah cairan infus anda habis. Anda sudah bisa di perbolehkan pulang. Tidak ada luka dalam atau apapun, mungkin hanya rasa nyeri akibat luka lebam di tubuh anda saat ini. Saya akan memerikan obat pereda nyeri nanti.."tutur dr.Rena
Bukannya menjawab ucapan Dr.Rena, Nanda justru asyik menatap wajahnya, dasar playboy.
"Terimakasih dokter.."Bukan Nanda menjawab, melainkan Yuna.
Dr Rena hendak berpamitan, bersamaan dengan pintu ruang perawatan Nanda terbuka.
"Nanda.."panggil Alan dan Vriska begitu masuk.
"Paman.."seru Dr.Rena
Alan dan Vriska menoleh ke arah Rena.
"Kamu, Rena kan.."tanya Alan
"Iya paman, ini aku Rena.."
"Jadi dia putra paman.."Sambung dr.Rena
Alan mengangguk, " Dia Nanda. Bukankah dulu kecil kalian saling mengenal, kenapa kau bisa lupa.."seru Alan
"Nanda, dia Rena anaknya teman papa..."sambungnya
"Hai Rena.."sapa Nanda
Rena hanya membalasnya dengan senyuman tipis lalu ia berpamitan pergi.
Sepeninggal Rena, Vriska kembali menatap tajam Nanda,.
"aww sakit Mami ampun..."teriak Nanda merintih kesakitan saat Vriska menjewer telingnya.
"Tuan, Nyonya apakah saya sudah boleh pulang.."seru Yuna
"Pulanglah Yuna, makasih ya.."sahut Alan.
Sepeninggal Yuna, Vriska masih menatap tajam Nanda.
"Mami, ampun aku mengaku salah. Aku hanya bermain-main di sana.."
"Kau fikir kami anak kecil yang bisa kau bohongi Nanda.."cetus Alan
"Aku tidak macam-macam di sana, aku hanya.."
"Hanya apa.."tany Vriska dengan penuh tekanan.
"Sudah Papi katakan berhentilah memainkan perasaan wanita Nanda, belajarlah serius dengan satu wanita. Bila perlu kau langsung nikah saja.."ucap Alan.
"Aku tidak memainkan hati mereka Pi, aku hanya mengajaknya bermain.."
"Mana ada orang bermain di club, jika kau mengulanginya lagi, Papi akan mengatakannya pada Opa Danu.."
"Jangan.."
"Papi Rena itu cantik ya.."
Alan tersenyum, "Dia memang cantik dan lemah lembut, seperti..."
"Seperti siapa Pi.."desak Nanda
"Seperti Dinda mantan kekasih Papimu.."celetuk Vriska kesal, ia langsung menabrak punggung Alan dan pergi keluar.
"Ini semua gara-gara kau.."tunjuk Alan, ia buru-buru menyusul Vriska keluar.
"Papi jodohkan aku dengan Rena saja.."teriak Nanda, Alan yang sudah keluar tidak jadi mendengarkan ucapan Nanda.
⚘⚘
Pagi hari Tristan kembali ke apartemennya, di lihatnya Nada sedang berada di dapur membuat secangkir teh, namun pandangannya kosong.
"Nad.."
Nada telonjak kaget, "Tristan, kau baru pulang.."
"iya. Apa kau sudah sarapan.."
Nada menggeleng," Nanti, aku belum sempat untuk pesan.."
Nada melenggang pergi meninggalkan Tristan, ia mendudukan dirinya di sofa ruang tv.
"Aku membawakanmu sarapan, makanlah.."ucap Tristan meletakkannya di meja dekat Nada duduk.
Tristan berlalu ke kamar, saat sampai di kamar ia masih melihat secarik kertas yang semalam Nada berikan, ia mengambilnya dan membaca poin-poin perjanjian itu.
"Baiklah aku akan mengikuti permainanmu, aku berjanji akan membawamu ke perangkapku, saat itu terjadi kau bahkan tidak akan mampu untuk melepasku. Cinta, aku akan membuatmu berubah mencintaiku Nada."tutur Tristan.
Tristan keluar mendekati Nada.
"Nad.."
Nada melirik ke arah Tristan, "Ada apa.."sahutnya cuek
"Aku sudah memikirkan hal ini semalam aku akan menandatangani surat perjanjian ini. Tapi aku akan menambahkan beberap point di sini.."ujar Tristan.
Nada mengerutkan keningnya, "Baiklah.. Terserahmu.."
⚘⚘
Jangan lupa like, komennya..
To be Continue