DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Takut khilaf



Dua minggu kemudian


Kini, Yuna dan Nanda sedang duduk di pelaminan menerima berbagai ucapan selamat dari para tamu. Senyum terus tersungging di wajah keduanya, perasaan haru, bahagia bercampur menjadi satu.


Ya, sudah satu jam yang lalu keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Yuna tampak cantik dengan gaun putih yang membalut tubuhnya, hiasan yang natural, rambut yang di sanggul lalu di beri hiasan yang senada dengan bajunya. Lalu, di sandingkan dengan Nanda yang terlihat tampan dengan jas berwarna hitam di tambah dasi kupu-kupu.


Sedari tadi Nanda terus melirik ke arah Yuna membuat sang empunya merasa malu.


"Cantik banget sih istriku, kan jadi gak sabar.."bisiknya di telinga Yuna.


"Mau ngapain.."tanya Yuna penasaran.


"Makan kamu lah.."sahut Nanda, membuat otak Yuna langsung traveling kemana-mana. Sebagai wanita yang sudah dewasa, tentu saja Yuna paham apa yang suaminya ucapan tadi. Eh suami, Yuna jadi tersenyum sendiri, saat ini ia merasa tidak menyangka bisa menikah dengan pria yang ia cintai, tampan, mapan lagi.


"Gak usah di bayangin, nanti kita langsung praktik aja.."seru Nanda ia menaik-turunkan alisnya menggoda istrinya.


"Dasar omes..."decak Yuna, membuat Nanda melongo, istrinya itu suka sekali membuat teka-teki.


"Omes, apa itu.."lirih Nanda.


"Otak mesum..."jawabnya membuat Nanda tergelak.


Tak lama Nanda menyeringai wajahnya, akan ku tunjukkan seberapa mesumnya aku nanti padamu.


Di sudut ruangan tampak sepasang suami istri yang tengah menikmati hidangan. Nada tampak begitu cantik dengan perut bulatnya, tak lupa mulutnya tak henti terus mengunyah.


"Nad, udah makannya. Ayo kita beri selamat pada pengantinnya, memangnya kamu belum kenyang-kenyang ya.."ucap Tristan halus.


Nada mendelik tak suka, "Aku belum kenyang, kamu gak sadar aku makan buat tiga orang. Nanti saja fotonya, ntar makanannya keburu habis, kalau pengantinnya nanti-nanti juga masih ada.."cebiknya.


Tristan menghela nafasnya dengan sabar, kemudian ia melirik ke arah istrinya tak henti makan, pipinya semakin chuby, perutnya bulat, semuanya membesar, tapi ia seakan tak peduli mulutnya terus makan.


Jadi, untuk apa dia daftar jadi bridesmaid jika pada ujungnya hanya untuk makan, dia kira ini wisata kuliner apa, gumamnya.


Pada akhirnya Vriska yang menghampiri Nada untuk berhenti makan, lalu melakukan foto bersama.


"Nad, ayo foto bersama. Dan hentikan makanmu.."seru Vriska.


"Mami dan Papi duluan, aku masih belum selesai.."


"Ya ampun, apa kau tidak lihat badanmu bahkan sudah bengkak kenapa terus makan. Ingat, dokter mengatakan kamu tak boleh terlalu banyak makan. Ayo buru.."


"Tapi Mi..."


"Nad, kasihan lho orang tua Yuna mereka udah kelelahan, ayo cepat bangkit dari tempatmu.."tegas Vriska.


Nada bangkit dengan mimik wajah kesal, lalu menuruti perintah maminya. Tristan menggelengkan kepalanya.


•••


Pesta pernikahan telah selesai beberapa jam yang lalu, Nada duduk termenung sudut kursi, seperti tengah memikirkan sesuatu. Terkadang ia tersenyum, tak jarang ia juga menghelas nafasnya seakan ada sesuatu beban yang ia pikirkan.


"kenapa..?"tanya Tristan sembari mendudukan dirinya di sebelah istrinya. Nada mengerucutkam bibirnya, lalu menggelengkan kepalanya. Tersenyum tipis, Tristan mengangkat tangannya untuk membelai kepala istrinya.


"Seneng aja, liat saudaraku udah nikah dan menemukan tambatan hati yang pas. Aku cuman keinget pernikahan kita dulu,.."tutur Nada.


"Katakan, apa ada yang mengganggu hem..."tenyanya lembut.


"lihatlah bukankah Nanda dan Yuna terlihat bahagia di hari pernikahannya, tapi kita saat itu ah entahlah aku bingung mau menjelaskannya.."


"Lalu, apa kau menyesal telah menikah denganku saat itu.."kini Tristan bertanya sembari menatap dalam-dalam wajah istrinya.


Nada menggeleng, "Bukan begitu, hanya saja aku tidak menyangka takdir ini begitu lucu. Aku dulu begitu membanggakan Liam, ternyata jodohku ternyata dirimu, pria yang menurutku paling menyebalkan di muka bumi ini. Kisah cinta kita tidak semanis mereka, bahkan malam setelah pernikahan bukannya manis kita malah berantem, lucu bukan.."


Tristan mengangguk, "ikut aku..."spontan Tristan langsung memegang pergelangan tangan Nada.


"Kemana...?"sahutnya bingung.


"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu,.."


Akhirnya Nada memilih diam mengikuti langkah kaki suaminya membawanya. Dalam hati ia juga bingung, karena kini suaminya membawanya masuk dalam lift tak lupa ia menekan tombol lantai sepuluh.


Ting...begitu pintu lift terbuka. Bergegas, Tristan membawa Nada keluar.


Nada mengusap tengkuknya canggung, lalu melirik ke arah Tristan, mendadak ia jadi merasa salah tingkah.


"Ini, maksudnya apa...?"tanyanya sambil mendesis, mendadak ia jadi merasa bodoh.


Tristan menaik turunkan alisnya, ia tersenyum tipis melihat istrinya kini yang sedang salah tingkah, "Mau mengulang adegan manis yang terlewatkan saat kita menikau dulu..."tuturnya lembut.


Nada menelan salivanya susah, ia berusaha mentralkan suasana hatinya kini, jantungnya berdegub kencang, ia melangkahkan kakinya pelan-pelan menyusuri kamar itu, tak lupa ia juga membuka pintu balkon kamar.


"Bagus banget, kapan kamu siapin ini semua.."ucapnya saat ia kembali mendudukan dirinya di sebelah Tristan, di bibir ranjang.


"Tadi, dadakan sih. Em gimana, kamu suka gak.."tanyanya, ia tak melepaskan pandangannya dari wajah istrinya yang tampak malu-malu.


Nada salah tingkah, ia memalingkan mukanya, tangannya bergerak mengusap-usap seprei yang bertaburan kelopak bunga mawar merah.


"Suka.."jawabnya singkat.


Mengamati pergerakan istrinya, "kenapa malah di buangin bunganya. Kok gak lihat aku sih ngomongnya.."ujar Tristan.


"Malu, takut khilaf eh...." Nada sontak menutup mulutnya, sedangkan Tristan tergelak.


Tristan menggapai tangan Nada, menghentikan aktivitasnya lalu memutar istrinya untuk menghadapnya.


"M...ma..u.. ap..a..?"tanyanya gugup.


"Membuamu khilaf.."godanya, membuat kedua mata Nada membulat sempurna.


Kini, Tristan menatap wajah istrinya dalam-dalam membuat sang empunya malu, tangannya membelai lembut pipinya, lalu mendorong tubuhnya mendekat dan mengecup sekilas pipi istrinya.


"I love you, sayang...."hanya empat kata, namun mampu membuat jantung Nada berdebar kencang. Ia merasa darahnya berdesir hebat, tenggorokan tercekat seakan tak mampu berkata dan bernafas, seperti kehilangan pasokan oksigen, saat menyadari kini tak ada jarak yang mengikis keduanya, harum maskulin dari tubuhnya suaminya menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.


Saat ia akan membuka mulutnya untuk bertanya, kini ia kembali terkejut saat merasakan sebuah benda kenyal membungkam bibirnya. Ciuman yang awalnya hanya sebuah kecupan, kini berubah menjadi *******-******* yang menciptakan gairah pada keduanya. Saat kini, Nada tau apa yang akan terjadi selanjutnya, dia hanya diam pasrah dengan apa yang akan suaminya perbuat.


Melepaskan ciumannya, Tristan menatap Nada dengan penuh cinta yang di liputi gairah yang menyala.


"Bolehkan sayang..."di sela-sela gairahnya ia pun tak akan memaksa istrinya, karena ia sadar istrinya juga kini tengah mengandung mudah lelah. Melihat Nada mengangguk, bergegas Tristan melancarkan aksinya, membuka seluruh pakaiannya. Dan selanjutnya menuntun istrinya menggapai keindahan surga dunia.


•••


Ponsel Nanda bergetar saat mereka sedang makan malam bersama seluruh keluarganya. Ia membaca pesan dari Tristan.


"Sialan....."umpatnya


"Kenapa sih mas,..."tanya Yuna yang di sebelahnya terlonjak kaget mendengar umpatan suaminya, tak lupa semua mata kini memandang ke arahnya dengan tanda tanya.


"Maaf..."ucapnya salah tingkah.


Ia kembali makan dengan perasaan gondok, Sialan, pengantin lama itu udah mencuri start malam pertamaku.


Setelah selesai makan, keluarga Yuna juga langsung bergegas pulang dengan di antar sopir Alan.


"Ayo masuk kamar..."ajak Nanda yang langsung menarik tangan Yuna.


"Sabar napa nda, mami kan juga masih mau ngborol sama Yuna..."


"Gak ada, enak aja.."seru Nanda,


"Em mami aku..."Yuna jadi salah tingkah.


"Pergilah, mami juga lelah. Tadi mami cuma bercanda.."


Bergegas Nanda kembali menarik Yuna membawanya masuk ke kamarnya. Alan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan putranya yang seperti tidak sabar.


"Kayaknya aku dulu gak gitu-gitu amat.."sru Alan.


Vriska mencebik, "Kata siapa, lebih parah malah.." ucapnya membuat sang suami tergelak.


•••


Beberapa hari gak up, ada saudara meninggal. Anak juga sakit dari kemarin belum sembuh. Maaf ya guys.


Tamat apa lanjut ni, ?