
Tristan dan Nada sedang melakukan meeting di sebuah restoran. Duduk bersebrangan dengan seorang dua pria berjas hitam, yang satu masih terlihat muda, yang satunya sudah terlihat berumur.
Tristan ingin menyelesaikan rapat itu dan membawa Nada pergi, sungguh ia tak suka saat melihat Digo, pria di hadapannya kini terus memandang wajah istrinya.
"Ehem..."
"Bagaimana Tuan Kevin dan Tuan Digo,..?"Tanya Tristan usai menjelaskan tentang poin-poin kerjasama.
"Mendengar tentang semua penjelasan yang anda, serta ide-ide yang anda tuangkan membuat saya tergiur untuk bekerja sama, bagaimana Digo..."tanya Kevin putranya.
Digo mengangguk mengalihkan matanya sejenak dari Nada, "Iya Pa..."
"Proyek ini akan saya serahkan pada putra saya,"sambung Kevin
"Nona Nada boleh saya minta nomor ponsel anda.."
Nada terkejut lalu melirik ke arah Tristan, lalu ia tersenyum menggeleng, "Maaf Tuan Digo untuk apa..?"
"Karena kita akan bekerja sama tidak ada salahnya bukan kita saling bertukar pesan..."tutur Digo.
Tristan mencebik kesal, lalu merogoh sesuatu dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja, "Ini kartu nama saya, jika anda setuju anda cukup hubungi nomor yang tertera di sana.. Istri saya tidak ada waktu untuk bertukar pesan dengan pria lain.."tegas Tristan memandang Digo dengan tatapan tak suka.
Digo terkejut mendengarnya, ia sungguh tidak tau jika mereka bersuami istri.
"Tuan Kevin kami permisi dulu, untuk langkah selanjutnya anda bisa hubungi saya.."ucap Tristan segera bangkit menarik tangan Nada membawa pergi.
Kevin menggelengkan kepalanya, "Apa kamu tidak bisa menjaga matamu,.."
"Papa aku beneran tidak tau jika mereka suami istri, aku pikir mereka hanya sekedar rekan kerja.."tutur Digo.
🌹🌹
Sepanjang jalan Tristan hanya terdiam dengan wajah yang di tekuk kesal.
"Kau kenapa sih...?"tanya Nada
Tristan meremas wajahnya kesal, apa Nada tidak menyadari perubahan suaminya itu karena apa, tentu saja ia cemburu saat ada pria lain menatap istrinya begitu intens.
"Tau ah.. besok-besok gak usah ikut lah kalau aku meeting dengan klien pria. Kau cukup di kantor aja.."cecar Tristan.
"Rasanya ingin ku colok matanya tadi saat menatapmu begitu intens begitu.."
Nada mengelus lengan suaminya, "Sabar, enggak boleh gitu. Dia terlihat terkejut saat kau mengatakan aku istrimu, mungkin tadinya karena ia tidak tau kalau kita suami istri.."
"Kamu belain dia.."
"Enggak cuman..."
Citt... Tristan menghentikan mobilnya begitu sampai di perusahaan, tanpa banyak bicara ia berlalu membuka pintu mobil masuk meninggalkan Nada begitu saja.
Nada mengelus dadanya, sembari menggelengkan kepalanya.
🌹🌹🌹
Tristan sedari tadi kembali bekerja namun matanya tetap tidak bisa fokus, ia selalu melirik ke arah Nada, lalu setelah tatapan keduanya bertemu Tristan akan membuang pandangannya ke sembarang arah.
Nada terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, merasa lucu akan tingkah suaminya yang sedang cemburu.
Tristan pura-pura kembali sibuk saat melihat istrinya beranjak dari tempat duduknya meghampiri dirinya. Ia ingin tau bagaimana cara istrinya merayu dirinya.
Nada melingkarkan kedua tangannya di pundak suaminya, "Marah ya..?"
Tristan tetap diam acuh, "Atau cemburu...."sambung Nada
Cup.. Nada mencium pipi Tristan. Melihat suaminya sama sekali tak bergeming Nada merubah posisinya, untuk duduk di pangkuan suaminya, tentu saja Tristan terkejut. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya.
"Lihat sini.."seru Nada, Tristan tetap terdiam tak menghiraukan ucapan istrinya.
"Jangan cemburu, dia tidak ada apa-apanya di banding suamiku ini kok.."tutur Nada, ia kembali memainkan jari-jarinya di dada bidang suaminya, membuat Tristan memejamkan matanya menahan sesuatu.
"Suamiku jauh lebih tampan dari dia.."sambungnya, Nada tersenyum menggoda sembari mengedipkan matanya sebelah.
"Aku harus apa biar kamu gak marah lagi.."sambung Nada pura-pura cemberut.
Tristan menunjuk bibirnya, "Cium.."
Nada mendelik, "Kan udah tadi.."
"Lagi, aku minta cium bukan cuman kecupan.."
Cup.. Nada mengecup kembali bibir suaminya, namun ia terkejut saat suaminya justru menahan tengkuknya untuk memperdalam ciumannya. Salah satu tangannya ia gunakan untuk meraba remot di atas meja, untuk mengunci pintu ruangan miliknya.
Ciuman itu terus menuntut semakin dalam, Nada lama-lama juga jadi terbuai. Ia terkejut saat mendapati suaminya sudah menyingkirkan blazer miliknya, "Jangan di sini...?"Nada menggelengkan kepalanya, ia tau kemana arah tujuan suaminya itu.
"Terlanjur Nad, kepalaku dah pusing. Kalau gak di keluarin.."jawab Tristan.
Nada mencebik kesal, "Tapi..."
"Kan kamu yang goda aku duluan, ya udah lanjutin.."
Saat Nada ingin membuka mulutnya, Tristan sudah membungkam kembali bibirnya dengan ciumannya. Ciuman itu terus menuntut dan berpindah ke leher jenjang istrinya meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Tristan menggendong istrinya membawanya ke sofa, ia kembali mencumbu istrinya di sana. Sementara satu tangannya terus bergelya di balik kemeja istrinya, lalu perlahan dengan cekatan Tristan membuka satu persatu-satu kancing baju Nada, lalu membuangnya asal. Nada juga melakukan hal yang sama membuka pakaian suaminya.
Tristan mencium setiap titik kelemahan istrinya, membuat Nada menggigit bibirnya menahan sebuah suara yang ingin ia keluarkan. Dan entah bagaimana kini keduanya sudah dalam keadaan polos. Nafas keduanya sudah memburu di liputi gairah birahi yang menggebu-gebu. Tristan menatap Nada dengan tatapan mendamba, bulir keringat telah membasahi keningnya. Dan untuk beberapa saat kemudian, akhirnya keduanya sama-sama terlena menggapai surga dunia yang memabukkan.
Tok..tok..
"Tristan, Nada..."
"Tristan itu suara Papi,..."seru Nada menepuk dada suaminya menyuruhnya untuk menyingkir dari atas tubuhnya.
"Diam Nad, tanggung..."Tristan kembali melanjutkan aktivitasnya, tak menghiraukan decakan Nada.
"Tristan, Nada kalau kalian lagi sibuk. Nanti tolong baca pesan dari papi ya.."sambung Alan
Hingga tidak lama kemudian keduanya sudah mencapai puncak. Tubuh Tristan ambruk di atas tubuh istrinya. Ia mengecup sekilas kening istrinya, lalu ia bangkit dari atas tubuh Nada sambil tersenyum senang.
Nada mencebik kesal, sementara Tristan terkekeh, "Udah gak usah cemberut gitu..."
"Udah tau di kantor masih aja makan aku.."
"Kan kamu yang mulai duluan, gak papa udah halal ini.."
"Tapi Papi.."
"Dia kaya gak pernah muda aja.."Tristan tergelak akan ucapannya sendiri.
"Udah pakai baju kamu, terus kita pulang..."sambung Tristan ia pun melakukan hal yang sama memakai pakaiannya kembali.
🌹🌹🌹
Jangan lupa
like
Komentar
Hadiahnya ya
Tbc.