DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Do You Love Me??



Sementara itu di ruang kerjanya, Brian sedang melakukan video call dengan ibunya Elin.


"Ternyata harapan Daddy mu benar-benar terkabul, gadis itu ada di Indonesia. Dan Mommy dengar dari Adam namanya Alula."


"Iya Mom.. tapi Brian belum berani mengungkapkan perasaan Brian."


"Kenapa? Seharusnya dia harus segera tahu agar dia tidak berhubungan dengan pria lain nak."


"Brian tidak mau terburu-buru Mom, Brian juga tidak mau merusak hubungan baik kita saat ini. Lagipula beberapa bulan lagi Alula akan melaksanakan Ujian Sekolah, Brian tidak ingin mengganggu konsentrasi Alula untuk belajar."


"Bagus, ternyata kamu sudah dewasa." Ucap Elin bangga membuat Brian yang mendengarnya tersenyum.


"Oh iya Mom, hari ini Alula Rendi dan teman-temannya akan mewawancarai Brian, Mom harus melihat seberapa cantik dan pintarnya jodoh Brian."


"Baiklah.. tunjukkan pada Mommy."


"Nanti setelah Mommy melihatnya, Mommy bisa langsung memutuskan panggilannya tidak perlu menunggu Brian selesai." Elin hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan anaknya.


Brian segera memposisikan ponselnya menghadap sofa di ruangannya yang nanti akan dipakai untuk wawancara.


"Tuan Muda Rendi dan teman-temannya sudah ada di sini." Adam langsung berbicara setelah memasuki ruang kerja Brian.


"Suruh mereka masuk."


Adam mengangguk dan kembali keluar ruangan untuk memanggil Alula dan teman-temannya. Adam tidak mengantar mereka berempat sampai ke dalam, karena Adam harus melanjutkan pekerjaannya.


Brian langsung mempersilahkan Alula dan teman-temannya untuk duduk setelah mereka berempat memasuki ruangannya.


"Rendi ternyata kakak sepupu yang sangat kamu idolakan itu benar-benar sangat tampan ya." Bisik Ayu pada Rendi sesaat setelah mereka mendudukkan tubuhnya.


"Sebelumnya kenalin kak, ini Ayu dan itu Rafi dan orang yang duduk di sebelah Rafi kak Brian pasti sudah mengenalnya." Rendi tidak menghiraukan bisikan Ayu, Rendi langsung memperkenalkan teman-temannya terlebih dulu sebelum memulai wawancara.


Ayu dan Rafi bergantian menyapa Brian setelah Adam memperkenalkan mereka.


"Selamat datang di perusahaan Melvin, kalian santai saja tidak usah merasa tegang. Setelah wawancaranya selesai, kalian diperbolehkan untuk melihat-lihat perusahaan Melvin." Brian tersenyum ramah.


Rafi Ayu dan Alula ikut tersenyum ramah pada Brian, mereka juga berterimakasih pada Brian karena telah di terima dengan baik di perusahaannya.


"Terimakasih kak, kalau begitu apa kita bisa langsung memulai wawancaranya?" Rafi mewakili ketiga temannya.


"Tentu saja."


Kegiatan wawancaranya dilakukan dengan sangat lancar, semua pertanyaan tersampaikan dengan baik begitupun dengan jawaban yang diberikan Brian. Semuanya berjalan sesuai dengan planning yang telah di rencanakan sebelumnya.


Sekitar 45 menit mereka berhasil menyelesaikan wawancaranya. Setelah semuanya selesai mereka berempat kembali berterimakasih pada Brian, kemudian berpamitan karena mereka harus segera kembali ke sekolah. Sebelum kembali ke sekolah, mereka masih memiliki waktu sekitar 15 menit untuk berkeliling di perusahaan Melvin.


Dan saat ini mereka sudah berjalan di lobi menuju ke luar kantor, semuanya berjalan dengan wajah cerah karena kegiatan wawancaranya berhasil.


"Ayu, Alula nitipin ponsel Alula ke Ayu gak?" Alula menghentikan langkah Ayu setelah menyadari kalau ponselnya tidak ada di sakunya.


"Enggak, bukan sama Ayu kali."


"Ada apa La?" Rafi dan Rendi ikut menghentikan langkahnya saat menyadari Ayu dan Alula tidak ada di samping mereka.


"Ini Raf kayanya ponsel Alula ketinggalan di ruangan kak Brian deh."


"Tidak usah Rafi! Alula saja, kalian bertiga tunggu disini sebentar Alula tidak akan lama." Alula segera berlari kecil menuju lift untuk kembali ke ruang kerja Brian.


"Alula, ada apa?" Adam yang baru saja keluar dari ruang kerja Brian, dikejutkan oleh Alula yang sudah berdiri di depan ruang kerja Brian.


"Kak Adam sepertinya ponsel Alula ketinggalan di dalam, Alula boleh minta tolong untuk mengambilkannya?"


"Ooh, Alula ambil sendiri saja ya.. kak Adam harus segera pergi, Brian ada di dalam kok tenang saja." Adam tersenyum kemudian segera berlalu dari hadapan Alula.


Alula segera mengetuk pintu ruang kerja Brian, membuka sedikit pintunya dan menyembulkan kepalanya ke dalam. Brian yang saat itu sudah kembali bekerja melihat ke arah pintu yang diketuk, Brian sedikit terkejut melihat Alula yang hanya menyembulkan kepalanya, namun di detik berikutnya Brian terkekeh gemas melihat tingkah laku Alula.


"Alula.." Brian bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah Alula.


"Kak Brian.. maaf Alula mengganggu, sepertinya ponsel Alula ketinggalan di sini." Akhirnya seluruh tubuh Alula masuk kedalam ruang kerja Brian.


Brian segera melihat ke arah sofa yang tadi diduduki oleh Alula, dan benar saja ada sebuah ponsel yang tergeletak di sana. Brian segera mengambil ponsel tersebut dan memberikannya ke Alula.


"Ponsel yang ini?"


"Iya kak benar itu ponsel Alula, makasih kak Brian." Alula segera menerima ponselnya. " Ya sudah kak, Alula pamit dulu Rendi dan yang lainnya sudah menunggu di lobi." Alula tersenyum manis menatap Brian yang berdiri di hadapannya.


"Pergilah hati-hati dijalan, jangan lupa buat laporannya dengan baik." Brian mengusap kepala Alula dengan senyuman di bibirnya.


"Siap kak! Bye kak Brian.." Alula segera berlalu dari ruang kerja Brian, meninggalkan Brian yang masih mematung di tempatnya dengan senyuman di wajahnya.


......................


Sementara itu di Sydney yang lebih tepatnya di mansion Dinata. Diana sedang menerima sebuah paket dari asistennya Devi.


"Asisten Devi ini paket dari siapa?" Diana memperhatikan kotak berukuran sedang yang sudah ada di tangannya.


"Identitas pengirimannya tidak diketahui Nyonya, jika Nyonya merasa terganggu saya akan membuangnya."


"Tidak perlu, siapa tahu saja ini dari Alula." Diana tersenyum dan mulai membuka kotak paket tersebut.


"Hah!" Diana langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat isi dari kotak tersebut, sehingga kotak tersebut jatuh begitu saja.


"Ada apa nyonya?" Devi segera menenangkan Diana dan menuntun Diana agar duduk di atas ranjangnya, karena saat ini mereka sedang ada di kamar Diana.


"Sebaiknya Nyonya minum dulu." Devi segera menyerahkan segelas air yang ada di atas nakas.


Setelah Diana sedikit tenang Devi segera mengambil kotak tersebut yang tergeletak di lantai, untuk melihat apa yang membuat Diana sangat terkejut. Devi juga terkejut setelah mengetahui isi didalam kotak tersebut, yang berisi foto-foto Alula yang dipenuhi oleh warna merah di setiap wajahnya.


Tiba-tiba ponsel milik Diana berbunyi dan menunjukkan nomor yang tidak Diana kenali sedang menghubunginya. Dengan tangan yang bergetar dan wajah yang memucat Diana menerima panggilan tersebut.


"Ha.. halo"


"Halo Diana ini Aku Ceren..!"


Deg!! Jantung Diana tiba-tiba serasa berhenti berdetak mendengar siapa orang yang menghubunginya.


"Aku hanya ingin memberi sebuah hadiah untukmu dan hadiah yang Aku berikan adalah sebuah pemberitahuan. Sebentar lagi Aku akan menepati janjiku untuk membuat hidup anakmu tidak pernah bahagia setelah berusia 18 tahun haha.. Aku bahkan sudah 3 tahun memantau anak itu dan sebentar lagi... semuanya akan segera dimulai."


Ponsel yang ada di tangan Diana terjatuh begitu saja setelah wanita yang diketahui bernama Ceren itu mengakhiri panggilannya begitu saja. Diana membeku di tempatnya dengan tatapan kosong.