
Saat ini Brian sedang berdiri di samping ranjang Alula yang sudah di pindahkan ke kamar rawat VVIP. Tangan kanannya terulur mengusap lembut kepala Alula yang masih setia menutup matanya.
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat." Gumam Brian dengan mata yang tidak lepas memperhatikan wajah Alula yang masih terlihat pucat.
"Aku tidak suka melihat kamu yang seperti ini, tolong cepat sembuh ya."
Tiba-tiba ponsel yang ada di saku celana Brian berbunyi, membuat Brian menarik tangannya yang sedang mengusap kepala Alula dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
"Ck Aku baru ingat belum menghubungi Adam."
Brian segera menggeser tombol hijau di ponselnya setelah mengetahui bahwa Adam yang menghubunginya.
"Hallo Tuan Muda! Apa terjadi sesuatu dengan anda? Setengah jam lagi anda ada jadwal pertemuan dengan klien, namun anda belum sampai ke kantor."
"Saya baik-baik saja, hanya saja Alula sedang tidak sehat dan dia sedang di rawat di rumah sakit sekarang. Tolong atur ulang semua jadwal pertemuan minggu ini, sepertinya minggu ini saya akan fokus menjaga Alula."
"Baik Tuan! tapi sepertinya untuk tiga pertemuan penting, kita tidak bisa membatalkannya."
"Baiklah jika hanya tiga pertemuan saya akan mengusahakannya. Dan ya! Tolong kabari Rendi bahwa Alula tidak akan masuk sekolah hari ini."
"Baik Tuan!"
Brian segera menutup sambungan teleponnya dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Tangannya segera melepaskan jas yang melekat di tubuhnya dan meletakkannya di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Brian sedikit menggulung ke atas lengan kemejanya, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang Alula. Tangannya kembali terulur mengusap lembut bagian atas kepala Alula, untuk beberapa saat.
"Ah benar! Aku lupa belum menghubungi satupun keluarga Alula."
Brian yang baru teringat belum menghubungi keluarga Alula segera mencari ponsel Alula didalam tas ranselnya yang tadi Brian letakkan di sofa, namun Brian tidak menemukan ponsel Alula di dalamnya.
Brian terduduk di sofa dan nampak berpikir dimana kemungkinan ponsel Alula berada. Brian teringat sekitar 15 menit yang lalu seorang suster datang menghampiri dirinya dan memberikan pakaian sekolah Alula.
"Tuan kami telah mengganti pakaian pasien dan ini barang-barang milik pasien."
Mata Brian langsung beralih pada keranjang kecil berisi barang-barang Alula, yang tadi di berikan oleh seorang suster yang telah mengganti pakaian Alula.
"Sepertinya Aku menemukannya." Brian segera berjalan menuju keranjang kecil tersebut, yang ada di atas nakas di samping ranjang Alula.
Benar saja, Brian menemukan ponsel Alula didalam saku rok pakaian sekolah Alula. Brian mencoba membuka ponsel Alula, namun ternyata ponselnya terkunci dan harus memakai sidik jari Alula.
"Pinjam sebentar ya." Brian segera menempelkan jari jempol Alula untuk membuka kunci ponselnya.
Setelah kunci ponsel Alula terbuka, Brian segera mencari kontak seseorang yang paling sering Alula hubungi di panggilan keluarnya.
"Bi Uti? Sepertinya ini Bibi yang mengasuh Alula itu."
Brian segera menghubungi kontak dengan nama Bi Uti tersebut dan memberitahukan bahwa saat ini Alula sedang ada di rumah sakit.
Bi Uti yang saat itu baru kembali dari supermarket dan sedang membereskan barang belanjaannya, begitu terkejut setelah mendapat kabar dari Brian. Bi Uti segera bergegas menuju rumah sakit dan meninggalkan pekerjaannya saat ini.
"Apa yang terjadi pada Nona Alula? Semoga keadaannya tidak terlalu buruk."
Sementara itu Brian masih setia menemani Alula. Matanya tetap fokus memperhatikan wajah Alula. Tangan kirinya mengusap lembut kepala Alula, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan kanan Alula yang tidak terpasang infus.
"Alula..!" Brian beranjak dari duduknya saat melihat Alula membuka matanya.
"Kak Brian.." Lirih Alula yang sudah bisa menyesuaikan penglihatannya dengan jelas.
"Hm apa ada yang sakit?" Tanya Brian yang masih mengkhawatirkan kondisi Alula.
Alula menggelengkan kepalanya dan berniat untuk beranjak duduk, namun Brian dengan segera melarangnya.
"Jangan dulu duduk seperti itu, kondisi kamu masih sangat lemah, Begini saja." Brian segera menekan tombol yang ada di bagian samping ranjang Alula, membuat ranjang bagian atas Alula sedikit naik dan Alula bisa duduk bersandar dengan nyaman.
"Wuaa!" Alula sedikit berteriak dengan mata berkedip-kedip karena terkejut saat ranjang bagian punggungnya naik ke atas.
Brian terkekeh kecil melihat reaksi Alula yang begitu menggemaskan di mata Brian. Pasti Alula tidak mengetahui tentang hal ini pikir Brian. Brian mengusap lembut kepala Alula dan tersenyum manis padanya.
"Kak Brian.." lirih Alula.
"Hmm?"
Alula yang masih sedikit terkejut mulai memperhatikan hal-hal di sekitarnya. Matanya melihat tangan kirinya yang terpasang infus, kemudian melihat seisi ruangan yang bernuansa putih dengan beberapa furniture dan sofa yang terlihat sangat empuk.
"Kak Brian.. apa ini di rumah sakit?" Alula menatap Brian yang berdiri di sampingnya.
"Iya, apa kamu sudah merasa lebih baik? tadi kamu pingsan saat ingin pergi ke sekolah."
"Alula baik-baik saja kak, apa kak Brian yang mengantar Alula kesini?" Tanya Alula setelah menyadari kalau hanya ada Brian yang ada di ruang rawatnya saat ini.
"Tadi saat Aku melintas di dekat halte ada seorang pria yang menghentikan mobilku, pria itu meminta tolong untuk membawa seseorang ke rumah sakit dan ternyata itu kamu. Cepat sembuh ya Alula." Brian lagi-lagi mengusap lembut kepala Alula, membuat Alula mengangguk dan tersenyum manis pada Brian.
"Lalu pekerjaan kak Brian?"
"Tidak usah mengkhawatirkan itu, minggu ini pekerjaan ku tidak banyak hanya ada tiga pertemuan saja. Jadi Aku bisa ikut menemani kamu disini."
"Terimakasih kak Brian." Alula kembali tersenyum manis membuat Brian ikut tersenyum.
"Oh iya! Beberapa menit yang lalu suster membawakan makanan, suster menyuruh kamu segera makan setelah kamu sadar."
Brian segera mengambil nampan berisi makanan untuk Alula, yang sebelumnya di letakkan di atas meja yang ada di sudut ruangan.
"Di rumah sakit juga di sediakan makan ya kak?" Tanya Alula polos, membuat Brian yang sedang berjalan kembali ke arahnya terdiam untuk sesaat.
"Te.. tentu saja." Brian sedikit bingung dengan pertanyaan Alula.
"Ini pertama kali Alula dirawat rumah sakit kak, Alula baru tahu kalau fasilitas di rumah sakit bisa sebagus ini, kasurnya juga empuk." Alula menekan-nekan kasur yang sedang didudukinya itu.
"Dulu jika Alula demam Bi Uti selalu memanggil dokter ke rumah. Kalau Alula tahu di rumah sakit bisa senyaman ini, mungkin Alula akan meminta Bi Uti mengantar Alula ke rumah sakit saja." Sambung Alula, tangannya meraih remote tv dan langsung menyalakannya.
Brian yang sudah duduk di atas ranjang di samping Alula hanya tersenyum gemas, saat mendengar dan menyaksikan tingkah Alula yang terlihat konyol.