DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Do You Love Me??



Hingga suatu hari Diana bercerita tentang seorang pria yang ditemuinya di sebuah acara. Jika Bibi memikirkannya, Bibi selalu menyesal pernah menyetujuinya untuk berkencan dengan pria itu.


"Bibi..! Diana bertemu dengan seorang pria di acara makan malam minggu lalu, dan pagi tadi pria itu menghubungi Diana dan mengajak Diana berkencan malam ini. Bibi setuju tidak jika Diana berkencan dengannya..? lihatlah.. ini foto pria itu Bi."


Diana menunjukkan foto seorang pria yang ada di ponselnya. Saat itu Bibi tersenyum melihat wajah pria itu.


"Hmm.. pria ini tampan dan sepertinya dia bukan dari Indonesia?"


"Memang bukan Bi, dia seorang pengusaha asal Sydney yang sudah 2 tahun tinggal di Indonesia. Namanya William Nicholas, usianya saat ini 26 tahun Bi."


Melihat Diana yang tersenyum manis saat itu, membuat Bibi ikut bahagia. Saat itu Bibi berpikir tidak ada salahnya mengijinkan Diana pergi berkencan, lagipula pria itu terlihat baik dan tampan. Namun ternyata yang Bibi pikirkan tentang pria itu semuanya salah besar, Pria itu ternyata seorang penipu yang memanfaatkan seorang gadis yang tidak pernah berpacaran.


Hari itu mereka berdua mulai berkencan, semuanya terlihat baik-baik saja seperti biasanya. Bibi tidak pernah bertemu dengan pria itu, karena pria itu selalu beralasan sibuk jika Bibi mengundangnya untuk makan malam. Tetapi hari-hari Diana terlihat lebih menyenangkan, karena sering bertemu dan bertukar kabar dengan pria itu.


Namun suatu hari setelah dua bulan mereka berkencan, Diana tiba-tiba muntah-muntah dan wajahnya terlihat sangat pucat. Bibi pikir saat itu Diana kecapaian karena bekerja, sehingga Bibi mengajaknya pergi ke dokter untuk diperiksa.


"Tidak Bibi..! Diana tidak boleh pergi ke dokter."


"Kenapa nak? kamu terlihat sedang sakit, sebaiknya kita periksa saja ke dokter."


"Bibi.. apa Bibi tidak keberatan jika Diana meminta Bibi membelikan tes pack untuk Diana? sepertinya Diana hamil Bi."


"Apa!!"


Saat itu Bibi sangat terkejut mendengar permintaan Diana, Bibi tidak percaya Diana meminta Bibi membelikan sebuah benda seperti itu. Saat itu Bibi sangat khawatir karena Bibi pikir Diana sakit, namun setelah mendengar permintaannya Bibi sangat kecewa pada diri Bibi sendiri karena Bibi tidak bisa melindungi gadis itu.


"Kenapa kamu memberikan mahkota berharga itu begitu saja? Apa kamu tahu mahkota itu adalah hadiah terindah untuk suamimu kelak?"


"Bibi jangan khawatir.. William akan menikahi Diana satu bulan lagi, tepat sebelum William kembali ke Sydney. Kami berdua akan menikah sebelum orang-orang mengetahui keadaan Diana saat ini, Diana juga akan ikut dengan Willi untuk tinggal di Sydney setelah kami menikah."


"Iya Bi, Bibi tenang saja. Malam ini Diana akan menemui Willi dan memberitahu kabar bahagia ini hmm..."


Diana seperti biasanya selalu tersenyum meskipun saat itu kondisinya sedang tidak baik. Saat itu sebenarnya Bibi belum merasa yakin kalau pria itu benar-benar akan bertanggungjawab, namun Diana terus meyakinkan Bibi dengan wajah penuh keyakinan seolah sangat mempercayai pria itu.


Karena tidak ingin membuat Diana patah semangat, akhirnya Bibi mempercayai ucapannya.Saat itu Bibi berharap semoga saja yang pria itu katakan pada Diana bukan hanya bualan semata.


Diana pergi menemui pria itu sekitar pukul 8 malam, Bibi menawarkan diri untuk mengantarnya namun Diana menolak. Entah apa yang terjadi di sana saat Diana pergi menemui pria itu di apartemennya. Setelah kepergiannya, Diana tidak kembali selama dua hari. Bibi selalu mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak pernah aktif.


Saat itu Bibi mencoba berpikir positif, mungkin Diana akan menginap di apartemen pria itu untuk beberapa hari dan mungkin saja ponselnya kehabisan baterai. Tetapi rasa khawatir dan pikiran negatif juga semakin memenuhi isi kepala Bibi, bagaimana jika Diana di campakkan dan berani berbuat nekad. Atau bagaimana jika terjadi sesuatu di perjalanan, karena Diana pergi dalam keadaan tubuh yang sedang tidak fit.


Dihari ketiga saat Bibi berniat akan melaporkan Diana ke kantor polisi, tiba-tiba Diana datang dengan seorang gadis kecil yang memakai seragam sekolah SMP. Bibi langsung memeluk Diana yang terlihat sangat lesu dengan mata yang sembab, pakaiannya sudah lusuh dan rambutnya berantakan.


"Bibi.. seharusnya.. Diana.. tidak mencintai pria itu Bi." Diana berbicara dengan isak tangis yang memilukan, membuat Bibi semakin mengeratkan pelukan di tubuhnya.


"Willi tidak pernah mencintai Diana Bi.. pria itu hanya membodohi Diana.." Diana semakin terisak dengan kata-kata penyesalan yang tidak pernah berhenti dilontarkan olehnya.


"Kenapa Diana tidak pernah menyadarinya Bi.."


Suara Diana yang menangis pilu saat itu masih Bibi ingat sampai sekarang, tubuhnya yang bergetar hebat saat Bibi memeluknya masih bisa Bibi rasakan sampai saat ini.


Saat itu Bibi hanya bisa mencoba menenangkan dan menguatkannya. Bibi segera membawa Diana ke kamar setelah dirinya mulai tenang, membantu membersihkan tubuhnya dan segera menyuruh Diana beristirahat.


Setelah Diana tertidur, Bibi segera menemui gadis kecil yang datang bersama Diana tadi.


Sebelumnya Bibi telah menyuruh gadis itu untuk duduk dan menunggu di warung nasi Bibi.