
Usai melakukan pertemuan dengan kliennya. Siang ini Nanda akan mengajak Yuna untuk berjalan-jalan.
"Aaaaa indahnya..."teriak Yuna girang sambil merentangkan kedua tangannya. Wanita itu terlihat sangat bahagia.
Terkadang Nanda juga heran, kenapa Yuna bisa begitu terlihat bahagia hanya dengan hal yang sangat sederhana.
"Kamu suka..?"tanya Nanda.
Yuna mengangguk, "tentu, saya ingin liat matahari terbenam dari sini.."
"Kamu tau gak ini tempat apa...?"tanya Nanda sambil melirik Yuna sekilas.
"Tau, wisata.."jawabnya, ya memang benar tempat yang mereka kunjungi adalah sebuah temlat wisata.
"Selain itu.."seru Nanda
Yuna mengedikkan bahunya, sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau lihatlah orang sekitarmu,.."ucap Nanda, Yuna mengikuti perintah atasannya, terlihat di sana banyak orang yang berpasangan.
"Selain tempat wisata, di sini juga tempat orang bulan madu..."ujar Nanda
Yuna mengangguk, "Gak heran sih, tempatnya memang bagus. Coba dekat saya ingin setiap hari kesini Tuan.."sahut Yuna.
"Kamu mau menginap di sini...?"tanya Nanda.
"Mau lah, apalagi kalau gratis.."jawab Yuna.
"Tapi biaya sewa penginapan di sini setara dengan dua bulan gajimu.."ucap Nanda sambil menahan tawanya, saat melihat raut wajah sekretarisnya yang mulai berubah.
"Mahal sekali.."lirih Yuna.
"Saya mau sih bayarin kamu nginep di sini, tapi ada syaratnya.."tawar Nanda dengan seringai liciknya.
"Apa Tuan..."tanya Yuna dengan cepat.
Nanda tampak berfikir, "temani saya tidur.."
Yuna langsung menatap atasannya itu dengan tajam, "Mending saya gak nginep di sini lah..." decak Yuna berjalan meninggalkan Nanda.
"Beneran nie gak mau..."goda Nanda lagi, sebenarnya Nanda hanya berbohong soal biaya sewa penginapan di sana, biayanya tak semahal itu. Untuk soal persyaratan itu juga ia hanya menggoda Yuna, mana mungkin ia tega melakukan hal senonoh itu pada sekretarisnya, bisa di gantung berdiri nanti sama opanya, Nanda hanya merasa senang melihat wajah kesal Yuna.
"Jangan menggoda saya lah.."cetus Yuna dalam mode galak.
Nanda tergelak, menalan salivanya dengan susah, melihat wajah sekretarisnya yang tampak mulai marah.
"Saya hanya bercanda Yuna,.."seru Nanda
"Tau ah saya kesal dengan anda.."cetus Yuna, kembali berjalan meninggalkan Nanda lagi. Namun sampai di tengah jalan Yuna menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita cantik yang terus memperhatikan atasannya itu, entah kenapa ia merasa kesal.
Yuna kembali berjalan mundur menghampiri Nanda, "Ayo buruan, gak usah tebar pesona Tuan.."seru Yuna.
"Kamu cemburu Yun.."tanya Nanda.
"Nggak lah.."dustanya
"Cemburu gak papa..."
"Orang saya bilang gak kok.."
"Cemburu itu tandanya cinta Yun.."tutur Nanda dengan santai. Dasar Nanda boss gak ada akhlak, gak liat apa muka sekretarisnya udah merona.
Yuna dan Nanda kembali berjalan mengelilingi tempat wisata itu, sampai akhirnya keduanya menghentikan langkah menunggu sunset tiba.
"Tuan.."panggil Yuna.
"Hem.."
"Liat deh sebelah sana,.."tunjuk Yuna pada seorang pria tampan.
"Kenapa..?"
"Pria itu sangat tampan, ayo dong Tuan bantuin saya kenalan dengannya. Tuan kan pintar bahasa jepang.."ujar Yuna.
Nanda mengangguk setuju. Lalu ia membawa Yuna mendekat ke pria itu. Yuna tersenyum manis padanya.
"Sumimasem.."(permisi), sapa Nanda dengan senyum indahnya.
"Hai, watashi wa anata o tasakeru koto ga dekimasu.."(ya, ada yang bisa saya bantu..) jawab pria itu.
Nanda melirik ke arah Yuna,
"Watashi wa tsuma to issho ni kyuka-chudesu, kare wa anata ni aita gate imasu" (saya sedang berlibur dengan istri saya, dia ingin berkenalan dengan anda..)
Pria asing itu mengulurkan tangannya pada Yuna.
"Yuna.."
"Hideyoishi.."
"kanojo wa ninshin shite ite, kodomo no kao o anata no kao ni shitai to omotte imasu.."(Dia sedang hamil , dan ingin anaknya seperto anda..)ujar Nanda
"Uwà , osejidesu. Itsumo shiawase ni naremasu yò ni."(wah saya merasa tersanjung, semoga kalian selalu bahagia), ujar Hideyoishi mengakhiri pembicaraan mereka sambil mentap Yuna dan Nanda dengan senyum sopannya.
"Dia bilang sampai bertemu lagi.."sahut Nanda sambil menyembunyikan tawanya.
Yuna mengangguk, "Tuan bilang tidak kalau saya tertarik dengan dia.."
"Sudah.."
"Apa katanya, dia tertarik dengan saya tidak.."seru Yuna lagi.
"Dia bilang, dia tidak suka wanita..."ujar Nanda dengan jahilnya.
"Maksudnya...?"
"Dia itu gay, suka sesama jenis.."tutur Nanda tanpa dosa.
Mulut Yuna sontak menganga sangking terkejutnya.
"Kamu waras suka sama orang gay.."sambung Nanda lagi.
"Ya waras lah, Tuan kira saya gila apa...?"decak Yuna.
Nanda terkekeh, "Kalau begitu buktikan.."
"Caranya...?"tanya Yuna penasaran.
"Kamu cium saya..."bisik Nanda
"Emangnya boleh..."tanya Yuna yang langsung di angguki Nanda.
Yuna sedikit ragu sih mau mencium atasannya itu. Nanda mengangkat alisnya, "Kalau kamu gak mau juga gak papa kok Yun, saya hanya ber-"
cup... Ucapan Nanda terhenti saat tiba-tiba Yuna sudah menciumnya, hanya sebuah kevupan singkat memang.. Namun mampu membuat Nanda terkejut, tiba-tiba ia merasa otaknya kosong, ada sesuatu yang menggelitik dalam hatinya. Udara di sekitarnya mendadak menjadi panas.
"Sudah, kan Tuan.."seru Yuna dengan senyum manisnya.
Wajahnya terlihat biasa, justru wajah Nanda yang terlihat kaku.
"Tuan.. Saya masih waras bukan..."panggil Yuna lagi.
"Oh iya...."sahut Nanda lirih.
Kenapa dia begitu polos, aku hanya menggodanya saja. Apa dia tidak berfikir jika ciumannya itu bisa memancing sesuatu yang lain, gumam Nanda mengusap wajahnya kasar.
🌹🌹🌹
Tristan merasa canggung, seharian ini Nada terus mengikutinya kemanapun ia pergi. Dia bilang hari ini ingin terus melihat wajah Tristan, saat Tristan mengatakan ingin libur saja, namun Nada tak memperbolehkannya ia ingin melihat suaminya bekerja di kantor. Tristan pikir Nada hanya akan ke kantor duduk berdiam diri di ruangannya, tapi itu salah karena Nada terus mengintili ia pergi.
"Nad aku pesenin makanan kamu makan ya.."ujar Tristan saat melihat Nada duduk terdiam di depannya dengan pandangan mata yang terus tertuju padanya.
"Em nanti saja, aku belum tau ingin makan apa...?"jawab Nada
Maksud Tristan menyuruh Nada makan agar ia dapat konsentrasi dalam bekerja kembali, jujur saja melihat Nada terus melihat ke arahnya dengan tatapan menggoda membuat ia tidak dapat konsentrasi lagi, pikirannya ambyar.
"Kita makan di Cafe bawah yuk, tapi aku ingin kamu nyuapi aku.."ucap Nada pada akhirnya.
"Pesen aja ya Nad, kerjaanku masih banyak.."sahut Tristan.
Nada mencebik, "Ya sudah, kalau gitu aku gak jadi makan.."
Tristan menghela nafasnya, "Ya sudah ayuk.."ucapnya sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Habis makan tapi pulang ya.."
"Kamu ngusir aku.."cebik Nada
"Maksudku biar kau istirahat Nad..."
"Aku kan sudah bilang mau ngikutin kamu seharian ini.."
"Tapi nanti aku masih ada pertemuan klien..."
"Aku ikutlah..."
Oh ya ampun, susahnya ngasih pengertian sama wanita hamil.gumamnya.
Pada akhirnya Tristan lebih memilih terdiam menuruti kemauan Nada.
🌹🌹🌹
Lagi sibuk, maaf telat update.
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc.