
Tiga tahun kemudian
Nada dan Tristan merasa bahagia akan perkembangan kedua putranya. Mereka juga sudah menempati rumah peninggalan kedua orang Tristan. Nada berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi ibu yang baik bagi kedua putranya, meski begitu Tristan tetap memperkerjakan seorang baby sister untuknya, hanya untuk berjaga-jaga bila mana Nada merasa lelah.
Satu kelemahan Nada sampai detik ini, ia tetap tidak pandai dalam hal memasak. Meski begitu ia tetap terus belajar, walau harus di bantu asisten rumah tangganya. Ia tetap berusaha memberikan makanan pendamping putranya dengan menu sehat, berbekal ponsel ia terus belajar membuat makanan yang bervariasi dan semaksimal mungkin. Beruntungnya, kedua putranya itu bukan tipikal anak yang pemilih dalam hal makanan.
"Bunda ini apa...?"tunjuk Daffa pada sebuah gambar, di mana ia tengah membuka sebuah buku yang memperluhatkan beberapa macam gambar binatang.
Daffi yang tengah bermain pun sontak merasa penasaran, ia ikut mendudukan dirinya di sebelah kakak kembarnya, ia ikut melirik di mana sebuah gambar binatang yang Daffa tunjuk.
"Dapi tau.."sahutnya dengan bangga.
Nada terkekeh, "oh ya, kalau gitu coba beri tahu Kak Daffa itu binatang apa sayang.."
"Olang lambutan..."jawabnya dengan bangga dan cepat, Nada tergelak.
"Betul kan Bunda.."sambungnya, ia mengerlingkan kedua matanya menatap sang Bunda, mencari kebenaran.
Nada tersenyum mengusap lembut rambut kedua putranya, "yang benar itu namanya orang hutan sayang.."
"Oh, olang hutan ya.."seru Daffa, Nada mengangguk mengiyakannya.
"Olang lambutan..."ucap Daffi
"calah dek, olang hutan.."Daffa mencoba membenarkan perkataan Daffi.
"Cuka-cuka aku lah, nyang punya muyut ciapa..?"sahutnya kesal, ia melipatkan kedua tangannya di dada, pipinya mengembung memperlihatkan betapa kesalnya ia. Nada jadi teringat Nanda, dulu juga ia dan kembarannya itu seperti itu hampir tiap hari berdebat dengan masalah yang sepele. Tapi, jika ada yang berani membuat Nada menangis, Nanda akan menjadi orang yang pertama yang tidak akan menerima.
"Dacar Dapa jelek..."sambungnya.
"Kamu juga Dapi jelek.."Daffa merasa tak terima, ia turun dari sofa lalu menunjuk Daffi, setelahnya melengos.
"kamu..."
"Kamu..."
Dan seterusnya terjadilah saling adu mulut.
"Ih Bunda Dapa nakal.."
"Dapi yang nakal.."
Nada berusaha melerai keduanya, "Diam sayang. Dengarkan Bunda baik-baik, kalian putra Bunda yang tampan, tidak jelek sayang. Kalian sama-sama tampan, wajah kalian bahkan sangat mirip. Jadi berhentilah bertengkar, Bunda pusing kalian tidak mau kan Bunda jadi sakit.."seru Nada dengan wajah memelas mungkin.
Daffa dan Daffi menggelengkan kepalanya, "No, Bunda tidak boyeh cakit,.."
"Kalau gitu ayo berjabat tangan saling minta maaf.."perintah Nada, keduanya melengos sama-sama gengsi.
"Daffa, Daffi ayo buruan, sebentar lagi ayah pulang lho..."sambung Nada.
Mendengar kata ayahnya akan pulang sontak kedua langsung saling berjabat tangan.
"Pintar..."seru Nada.
Tak lama terdengar deru mobil Tristan dari halaman rumah.
"Ayah..."teriak keduanya dengan girang, sontak keduanya berlari dengan cepat membuka pintu.
"Pelan-pelan, sayang nanti jatuh..."teriak Nada yang tak lama mengikuti langkah kedua putranya dari dalam. Sampai depan pintu ia melihat bahwa kedua putranya tengah menunggu ayahnya turun dari mobil.
"Hallo sayang..."seru Tristan begitu turun dari mobil, ia menghampiri kedua putranya.
"Ayah..."keduanya kembali berlari mendekat, Tristan memposisikan tubuhnya setengah jongkok untuk memeluk kedua putranya. Seakan tengah meleburkan rasa rindunya, Nada menggelengkan kepalanya, memang sudah satu minggu ini mereka tidak bertemu, karena Tristan harus melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
"Kami kangen ayah..."seru keduanya.
"Ayah juga kangen kalian lho.."sahutnya, ia melepaskan dekapan keduanya, lalu bangkit berdiri.
"Ayah bawa oleh-oleh lho buat kalian..."Tristan kembali membuka pintu mobil belakangnya mengambil dua paperbag yang berisi mainan, memberikannya pada kedua putranya, setelah dapat keduanya langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Jadi cuma Daffa dan Daffi doang ni yang dapat, Bunda enggak..."timpal Nada ia menyilangkan kedua tanganya di dada, dengan wajah di buat cemberut.
Tristan menaikan sebelah alisnya, tangannya terangkat untuk mengelus pundak istrinya, "gak dong, buat Bunda juga ada. Lebih spesial malah.."
"Benarkah...?"tanya Nada langsung mengubah aura wajahnya, ia mengangkat telapak tangannya, "mana...?"sambungnya.
Cup... Bukannya memberikan barang Tristan justru mengecup lembut bibir istrinya.
"Itu hadiahnya..."seru Tristan, lalu berlalu pergi meninggalkan Nada yang masih terdiam mematung di tempat sambil terkekeh. Sedetik kemudian Nada sadar telah di kerjai oleh suaminya. Bergegas ia masuk menyusul suaminya.
Melihat kedua putranya asyik bermain dengan di temani baby sisternya, Nada bergegas menyusul suaminya ke kamarnya.
"Ngeselin banget sih.."decaknya, begitu ia masuk ke dalam kamar.
Tristan melirik ke arah Nada, "apa sih sayang ? suami baru pulang bukannya senyum, ini malah cemberut.."serunya sambil melepaskan satu persatu atribut miliknya dari jam tangan, jas, dasi, terakhir kemejanya, hingga kini Tristan sudah bertelanjang dada.
Glek.. Nada menelan salivanya dengan susah, "gak pulang seminggu, tapi sama sekali gak bawa hadiah buat aku.."cetusnya, ia melengos memalingkan mukanya.
"Ayah ih..."rengek Nada, ia berjalan menghampiri suaminya sembari menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Sini sayang, nanti aku kasih tau.."perintah Tristan ketika sudah di ambang pintu kamar mandi, mendadak ia mempunyai ide cemerlang.
Tanpa curiga Nada pun menurut menghampiri suaminya.
Sretttt.... Brakkk....
Tristan menarik Nada ke dalam kamar mandi, lalu segera menutup pintunya.
"Ayah mau apa...?"tanya Nada dengan gugup.
"temani aku mandi, nanti baru aku beri hadiah..."
"Gak, aku mau keluar. Anak-anak belum tidur..."elak Nada.
"Sudah biarkan, ada Nanny ia bisa mengurusnya, sementara aku siapa yang bisa ngurus jika bukan kamu. Udah seminggu lho Nad, aku gak itu.. itu.."sahutnya, membuat Nada tergelak. Detik berikutnya terjadilah pergumulan panas, keduanya saling meluapkan rasa rindu yang seminggu ini terpendam. (kalian bayangin sendiri ya adegannya..hahha).
Dua jam kemudian Tristan membawa Nada keluar kamar dengan berbalut handuk di tubuhnya. Nada mengerucutkan bibirnya kesal, lantaran suaminya itu mengerjainya habis-habisan, ia bahkan merasa lemas kini.
"Ck kangen sih kangen Yah, tapi gak buat aku lemes gini juga.."seru Nada ia masih mengerucutkan bibirnya kesal.
Tristan terkekeh sembari memakai pakaiannya juga membantu istrinya itu berpakaian, "maklumlah sayang tubuhmu itu kan candu.."
Nada mencebik, "tapi kamu juga gak nolak kok.."sambungnya yang langsung membuat wajah Nada merona malu.
Setelah itu Tristan berlalu mengambil tas miliknya, lalu mengeluarkam sebuah kotak yang berisikan perhiasan begitu ia membukanya.
"Nah ini untuk Bunda..."serunya, Nada melihatnya berbinar bahagia. Sebenarnya bukan tentang jenis hadiahnya, bahkan jika itupun bukan berlian atau perhiasan Nada tetap akan menerimanya dengan senang hati.
"Cantik kan.."seru Tristan begitu selesai memasangkan sebuah kalung berlian di leher jemjang istrinya.
"Makasih ya..."Nada menghambur memeluk suaminya dengan erat pun Tristan membalasnya.
Krek..
"Ayah...Bunda.."panggil Daffa dan Daffi sontak Nada langsung melepaskan dekapn suaminya.
"Cedang apa...?" tanya keduanya polos, membuat Tristan menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Segera Nada mengalihkan perhatiannya keduanya dengan pertanyaan lain, mereka bilang jika meraka lapar dan ingin makan.
Segera Tristan dan Nada beranjak ke ruang makan mengajak kedua putranya untuk makan.
"Bunda, apa di lumah ini ada nyamuk...?"tanya Daffa polos sembari mengunyah makanannya.
"Enggak..."sahut Nada.
"Lalu, kenapa lehel bunda melah-melah...?"tanya Daffa lagi.
Sontak Nada dan Tristan saling melirik, Nada meraba lehernya, sementara Tristan memikirkan jawaban untuk putranya.
"itu...."
"Dapi tau, Bunda pasti di gigit zombie..."jawab Daffi dengan polosnya.
Uhuk....uhuk..
Tristan tersedak makanannya, bergegas ia meneguk minumannya.
Ya ampun aku di samain zombie.
Ia melirik ke arah Nada yang tengah terkekeh meledek dirinya.
"Benalkah Bunda.."tanya Daffa.
Nada hanya menganggukan kepalanya, "kalau gitu nanti malam ayo kita tangkap zombinya, bial gak gigit Bunda lagi..."sambungnya membuat Tristan tergelak.
🌻🌻
So sweet dan harmonisnya keluarga mereka ya, kan jadi kangen pak suami yang sedang jauh di sana, eh. I love u pull pak suami😂😂.
Gak janji kasih bonus chapter berapa, pokoknya kalau aku lagi pengen nulis tentang mereka ya aku tulis.
Kenapa aku tamatin? ya karena mereka udah bahagia, haha takutnya kebanyakan bab kesannya jadi bertele-tele dan pembaca bosen.
Tapi sejauh ini aku makasih banget sama kalian lho, atas supportnya, likenya, komentarnya. Karena kalian lah Ara bisa sejauh ini, sejak SMA aku emang hobi nulis sih.
Terimakasih yang sudah mau mampir membaca ceritaku yang receh ini, terimakasih sekali karena tak memandang viewrs ku yang tidak bisa berM-M'an, tapi sejauh ini Ara cukup senang dan puas kok.
Love u all.
Salam cintaku by
Ara