
Sepeninggal Tuan Peater Tristan merasa gelisah, sudah dua puluh menit berlalu namun Nada tak kunjung kembali. Ada apa dengan istrinya, apalagi Tristan melihat wajah Nada yang pucat. Apakah terjadi sesuatu pikirnya.
Tristan bangkit dari tempat duduknya, ia bermaksud menyusul Nada ke toilet. Namun di pertengahan jalan ia terkejut mendapati Nada sedang di peluk seseorang. Rahang Tristan mengeras, kedua tangannya mengepal sempurna, Tristan memalingkan mukanya sesaat.
"Liam.."
"Sial, tidak akan ku ampuni dirimu.."umpatnya.
Melangkahkan kakinya, dengan rasa emosi Tristan mendorong Liam dengan kencang.
"Brengsek, lepaskan istriku.."teriaknya dengan emosi menggebu.
"Cih, istri. Kau yakin dia mencintaimu.."ejek Liam.
Ucapan Liam mampu membuat emosi Tristan bangkit, pria itu berjalan mendekat lalu memukul Liam.
Bugh.. bugh.. Keduanya saling baku hantam.
"Tristan , Liam ku mohon sudahlah, jangan seperti ini. Kalian menjadi tontonan orang.."teriak Nada
"Diam Nad.."teriak keduanya
"Akan ku beri pelajaran mantanmu ini.."
"Tristan jangan..."teriak Nada
Bugh.. bugh.. Tristan kembali memukul Liam, Nada terkejut,
"Tristan dia bisa mati.."ucap Nada,
Tristan bangkit melirik Nada sejenak, "Segitu khawatirnya kau padanya, kau masih sangat mencintainya, aku telah salah menilaimu.."ucapnya memandang Nada tajam.
Nada berusaha meraih tangan Tristan, namun Tristan menepisnya. Ia meninggalkan Nada begitu saja..
"Tristan..."teriak Nada, ia berusaha mengejar Tristan. Namun Tristan melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari resto, menuju mobilnya lalu meninggalkan Nada begitu saja.
"Tristan kenapa meninggalkan aku.."lirih Nada sambil menangis.
"Nad..."Liam berusaha mengejar Nada.
"Sudahlah Nad, dia memang tidak mencintaimu kan.."sambungnya, Nada tak bergeming.
"Nad, ayo kembali padaku. Kau masih mecintaiku kan..."ucap Liam lagi.
Nada memutar tubuhnya dan memandang Liam dengan tajam, ia mendekati Liam dan..
Plakk... satu tamparan mendarat di pipi Liam. Di susul dengan dorongan kuat yang Nada berikan membuat Liam tersungkur.
"Nad, kau..."pekik Liam terkejut.
"Kenapa..?"ejek Nada, Liam memandang Nada dengan terkejut, tidak menduga jika Nada akan menampar dirinya.
"Terkejut ?. Setelah apa yang terjadi, apa yang kau perbuat padaku. Kau masih menanyakan cinta. Apa masih pantas Liam..?"teriak Nada
Liam memandang Nada dengan sendu, tatapan penuh rasa bersalah.
"Nad, aku akan jelaskan semuanya. Saat itu benar-benar mendesak Perusahaanku yang di Italia mengalami kebakaran ,nyawa karyawanku dalam bahaya, aku tidak ada pilihan. Papaku juga mengalami serangan jantung Nad.."jelas Liam
Nada memalingkan mukanya, "Apapun alasannya kau telah melukai hatiku. Juga mempermalukan keluargaku Liam.."
"Nad, aku mohon maafkan aku... Aku masih mencintaimu Nad.."ucap Liam
Nada menggelengkan kepalanya, "Tapi aku sudah tidak mencintaimu.."
Deg.. Liam memandang Nada dengan rasa tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya.
"Kau bohong kan Nad. Tiga tahun kita menjalin hubungan, apa sebegitu mudahnya aku hilang dari hatimu.."cecar Liam
"Tapi Nad.."
Nada mengangkat tangannya, tanda menyuruh Liam diam.
"Kau sudah membuat pilihan saat itu Liam. Kau telah memilih kariermu di bandingkan dengan cintamu. Maka nikmatilah pilihanmu. Mungkin memang kita tak berjodoh.."jelas Nada
"Nad, apa sudah tidak ada sedikitpun cinta yang tersisa untukku Nad.."desak Liam
Nada menggelengkan kepalanya, "Tidak Liam. Aku pikir hubungan kita di mulai dengan baik, aku juga akan mengakhirinya dengan baik. Liam lupakanlah aku. Aku sudah memiliki suami, dia berhak segalanya atas diriku.."pinta Nada
"Nad, tapi ini sangat susah Nad. Aku masih sangat mencintaimu..."Liam menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa dia memperlakukanmu dengan baik Nad, apa dia mencintaimu.."sambung Liam
"Dia pria yang baik Liam..."Seru Nada, wanita itu kembali masuk ke resto untuk mengambil tas miliknya.
"Nad, bisakah aku memelukmu untuk yang terakhir kali.."pinta Liam
Nada menggelengkan kepalanya, "Tidak Liam, kau sudah memelukku tadi, aku rasa itu cukup.."
"Selamat tinggal, aku harap kau akan segera menemukan wanita yang lebih baik dariku. Karena kau juga pria yang baik Liam."ucap Nada, lalu melangkah keluar meninggalkan Liam.
Liam memandang kepergian Nada dengan sendu.
"Aku tidak yakin Nad, dapat menemukan pengganti yang lebih baik darimu."lirihnya Liam memghapus sudut matanya yang basah. Penyesalan memang selalu datang terlambat, andai waktu dapat di putar ulang ia tidak akan menyia-nyiakan Nada.
"Setelah apa yang terjadi kau masih menilaiku pria yang baik, tidak Nad aku ini pengecut.."gumamnya.
🌹🌹🌹
Nada menghapus sudut matanya yang basah.
"Aku sudah menyelesaikan masalahku dengan Liam. Sekarang aku harus menjelaskan semuanya dengan Tristan."gumamnya.
"Pak di percepat ya..."pinta Nada pada sopir taksi.
"Baik Nona.."
Lima belas menit kemudian Nada tiba di loby perusahaan, wanita itu mempercepat langkahnya menuju ruangan dirinya dan Tristan, kosong Tristan tidak ada di sana.
"Bukankah ini belum waktunya pulang, dia kemana.."lirih Nada.
Nada mengambil ponselnya menghubungi Tristan, tidak aktif. Ia keluar lagi menuju resepsionis.
"Nia, apa kau tau di mana Tristan. Dia tidak ada di ruangannya.."tanya Nada
"Nona, sejak Tuan Tristan keluar bersama anda dia memang belum kembali.."
"Baiklah, Terimakasih.."
Nada berlalu keluar, menuju mobil miliknya. Mungkin Tristan ada di apartemen, Nada akan menyusulnya.
🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
komen
hadiahnya ya
Tbc.