DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Semoga harimu bahagia.



Gigit jari, lalu menatap jendela yang memperlihatkan rintik-rintik hujan, sembari merenungi garis kehidupan, tak sadar air mata pun jatuh membasahi pipi. Hati pun berkata, "Andai saja dulu tak mengenalnya, mungkin hal ini tak ku rasa.."


●Ayuna azalea●


¤¤¤


Nanda memimpin jalannya rapat dengan pikiran yang tidak fokus, semua tidak luput dari pengawasan Opa Danu. Berulangkali cucunya itu mengehela nafasnya, dan memejamkan matanya, seperti tengah memikirkan sesuatu.


Menatap ke arah meja yang berbentuk oval itu, Nanda mengerjapkan matanya tak percaya, bukannya menambah konsentrasi, pria itu justru merasa di hantui dengan bayang-bayang Yuna. Seolah Yuna tengah duduk di hadapannya, lalu memberikan senyum manisnya dan dua acungan jempol padanya sebagai tanda semangat tanda untuk dirinya.


"Nanda..."panggil Opa Danu, namun cucunya sama sekali tak bergeming.


"Nanda..."kali ini Opa Danu menaikan volume panggilannya, membuat Nanda tersentak dan segera sadar dari lamunannya.


"Opa maaf aku..."


Opa Danu bangkit menghampiri Nanda, "Duduklah tampaknya kau sedang tidak bisa konsentrasi, biar Opa yang menggantikannya.."ujar Opa Danu mengambil alih tugas Nanda.


Nanda hanya menurut dan mendudukan dirinya di sana, namun tetap saja pikirannya tidak berada di sana. Ingin sekali ia mengumpat kesal, namun ia mengurungkan niatnya tatkala menyadari saat ini tengah berada di hadapan banyak orang.


Tiga puluh menit berlalu rapat pun selesai, semua kolega pun berhamburan keluar. Kini tinggal tersisa Nanda dan Opa Danu di ruangan itu.


"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu nda...?"tanya Opa Danu memecah keheningan dan membuyarkan lamunan Nanda.


"Tidak ada.."jawabnya santai.


"Di mana Yuna, Opa tidak melihatnya. Apa dia tidak masuk, biasanya kalian berdua selalu bersama seperti dua serangkai yang tak terpisahkan..." ejek Opa Danu.


Nanda membuang mukanya, mengingat nama Yuna membuat ia kembali kesal lantaran wanita itu tiba-tiba memilih mengundurkan diri.


"Dia risent," jawab Nanda sembari mendengkus kesal.


Opa Danu menganggukan kepalanya sebelum kemudian ia terkekeh, membuat Nanda heran kenapa opanya justru terkekeh, apa ia tidak bisa melihat muka cucunya yang begitu kesal.


"Oh, jadi Yuna jadi risent, Opa kira dia hanya bercanda..."papar Opa Danu.


Nanda membulatkan matanya, "Jadi, Opa juga tau dia mau risent..?"tanyanya.


Opa Danu hanya mengangguk, "Udah tau lama malah. Kira-kira satu bulanan, dia meminta izin dengan opa untuk risent,"jawabnya santai.


Nanda mendengkus kesal, "kenapa opa tidak memberi tahu aku.."serunya dengan nada kecewa.


"Untuk apa ?"


"ya aku tidak akan mengijinkannya..."sahut Nanda


"Jangan begitu, kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk terus bekerja pada kita. Barangkali Yuna ingin mempunyai pengalaman yang berbeda, jadi biarkan saja.. Seorang pemimpin tidak boleh terlalu egois pada bawahannya..."saran Opa Danu.


"Tapi..."


"Apa kau merasa kehilangan dirinya..."tanya Opa Danu penuh selidik.


"Tidak.."jawabnya cepat.


"Baiklah, Opa tidak akan memaksa. Saran apa cuman satu tanyakan hatimu, seberapa berartinya Yuna untukmu. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari, saat melihat Yuna sudah bersanding dengan pria lain..."imbuh Opa Danu sebelum ia berlalu meninggalkan ruangan itu.


🌹🌹🌹


Yuna dalam perjalanan pulang ke kampung menggunakan bis. Jika dulu mungkin ia akan pulang menggunakan mobilnya, tapi sekarang berhubung sudah ia jual, ia harus pulang menggunakan angkutan umum.


"Selamat tinggal, Tuan. Semoga harimu selalu bahagia.."ucap Yuna sembari tersenyum getir. Sebelum bis bergerak meninggalkan kota itu. Yuna tidak menangis, ia merasa tidak ada hak untuk menangisi seseorang yang bukan miliknya. Ia hanya menyesali hatinya, kenapa harus jatuh pada pesona dan sikap baik atasannya itu, padahal sebelumnya Yuna sudah membuat benteng pertahanan diri, ia selalu mengingatkan dirinya tentang siapa dirinya.


Tidak banyak yang Yuna bawa hanya satu koper berukuran besar. Tadi, sebelum pergi ke perusahaan, Yuna sudah membereskan barang bawaannya lebih dulu. Ia tak sabar untuk segera sampai kampungnya, bertemu kedua orang tuanya juga kedua adiknya.


🌹🌹🌹


Nanda kembali mengenyahkan bayangan Yuna itu. Matanya kembali tertuju pada satu lembar amplop yang tadi Yuna berikan. Perlahan tangannya bergerak untuk mengambil amplop itu, lalu membukanya.


Nanda membaca kata demi kata, tak lama ia pun meremas kertas itu lalu melemparkannya di tong sampah.


Ia mengingat kembali kata-kata Opa Danu yang terakhir entah mengapa ia merasa sangat terganggu.


Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari saat melihat Yuna sudah bersanding dengan pria lain.


Mengingat kata itu entah mengapa membuat ulu hatinya terasa begitu nyeri, ada apa dengan dirinya. Lalu ia kembali membayangkan jika memang ucapan Opanya itu benar terjadi. Nanda menggelengkan kepalanya,


Tidak, aku tidak mungkin mencintainya kan. Aku hanya belum terbiasa saja akan ketidakhadirannya kan..Lagi dan lagi ia kembali menyangkal perasaaanya.


"Mungkin karena aku belum makan makanya semua terasa nyeri seperti ini..."serunya pada diri sendiri.


Segera Nanda mengangkat gagang telponnya meminta seseorang untuk memesankan makanan.


Lima belas menit kemudian, makanan yang ia pesan pun datang. Nanda membukanya dan memakannya.


Satu suap


Dua suap


dan..


Tidak lagi, Nanda menghentikan makanannya, ia mendorong piring di hadapannya. Rasanya terasa berbeda, biasanya ia akan makan dengan masakan yang Yuna buat, tak jarang pria itu akan meminta Yuna menyuapinya.


Nanda menghela nafasnya, kemudian ia bangkit dari kursinya. Ia memasukan kedua tangannya di saku celananya, lalu ia berbalik, berdiri menghadap jendela. Entah kenapa hari ini pikirannya begitu kacau. Bahkan ia tak dapat konsentrasi pada kerjaannya.


Ada apa denganku ? aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. gumam Nanda


Nanda sadar jika otak dan hatinya sedang tidak sinkron seperti ini, ia jamin ia tak akan bisa bekerja dengan baik.


Kembali ke kursinya, Nanda hanya mematikan laptopnya. Lalu mengambil kunci mobil dan ponselnya. Segera, ia keluar dari ruangannya.


"Lho Tuan, anda hari ini ada pertemuan..."Lea menghentikan ucapannya saat Nanda memberikan isyarat menggunakan tangannya.


"Batalkan, kau atur saja lain kali..."jawab Nanda cepat sebelum berlalu pergi.


"Tapi..."


Tidak menghiraukan bantahan, Nanda segera keluar dari perusahaannya, ia melajukan mobilnya ke tempat Yuna. Ia ingin memastikan sesuatu.


Namun, sampai disana ia tak menemukan keberaadaan Yuna. Pemilik kontrakan bilang Yuna sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu.


Nanda mendengkus kesal, pria itu kembali ke mobil miliknya. Ia mencari kontak Yuna, untuk menelponnya. Namun, tiidak bisa.


Nanda sadar, Yuna telah memblokir nomor ponselnya.


Nanda mengusap wajahnya, "Baru kali ini ada wanita yang berani memblokir nomorku dari kontak ponsel miliknya.."decak Nanda.


🌹🌹🌹


Sengaja, mau buat Nanda sadar dulu gitu😂😂. Maaf ya untuk part Nada dan Tristan pending dulu, aku lagi gak bisa halu tentang mereka. Mau ngasih konflik kasian juga kan, ntar readersnya pada kabur.


yuk, dukung author dengan like, komentar, hadiahnya ya


Tbc