
...Terimakasih untukmu yang selalu mengerti....
...Kamu adalah jingga yang memberi warna pada senja,...
...Kamu adalah gemintang yang memberi cahaya saat gelap....
...TERIMAKASIH UNTUKMU....
●●
Hari terus berlanjut kebahagiaan terus mengukir dalam keluarga besar Alan. Nanda dan Yuna juga kini telah tinggal bersama di rumah yang terletak tidak jauh dari kedua orang tua Nanda. Yuna juga masih tetap bekerja sebagai sekretaris suaminya. Tentu saja, hal itu sangat menguntungkan bagi Nanda, ia bisa colek-colek istrinya kapanpun mau kan, eh.
Bugh... Nanda menjatuhkan tubuhnya di ranjang, kala rasa lelah menghampirinya, pakain kerja masih melekat sempurna di tubuhnya, pun dengan sepatunya yang belum ia lepaskan.
"Mandi dulu ih sana.."perintah Yuna pada suaminya, sembari berdecak kesal. Ia paling tidak suka lantaran suaminya baru menginjakan kaki di rumah langsung tiduran begitu saja.
"Nanti, aku masih lelah.."gumamnya dengan mata sedikit terpejam.
Tak ingin berdebat, Yuna hanya berdecak sembari berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Brakk... pintu kamar mandi tertutup dengan kencang, membuat kedua mata Nanda terbelalak, sontak ia mendudukan dirinya, lalu mengelus dadanya.
"Kenapa dari pagi dia begitu suka marah-marah, mirip macan betina yang sedang beranak...."serunya, detik berikutnya ia menutup mulutnya, jangan sampai umpatan yang ia lontarkan terdengar istrinya.
Nanda bergerak melepas sepatu miliknya, lalu menghampiri pintu kamar mandi, ia pikir jika mandi berdua dengan istrinya akan lebih hemat waktu sekalian sambil minta plus-plus, apa tuh ?.
Ceklek.. belum sempat ia memegang knop pintu kamar mandi, pintunya sudah terbuka sosok terlihat kepala Yuna menyembul di balik pintu.
"Ngapain...?"tanya Yuna dengan datar.
"Mau mandi.."jawab Nanda santai.
"Nggak boleh, aku dulu. Mas nanti saja, sekarang aku minta tolong, ambilkan aku pembalut di laci.."pintanya pada sang suaminya, yang masih tergelak di depan pintu.
Pembalut.. lirihnya.
"Kamu datang bulan..."detik berikutnya ia baru tersadar.
"Heem, buruan ambilin mas.."titahnya.
Sontak seluruh badan Nanda menandak melemas, membayangkan ia harus puasa selama seminggu lamanya. Kemudian, ia beranjak mengambilkan barang permintaan istrinya.
"Tega banget sih Na, kenapa harus datang bulan segala.."decaknya.
"Ya ampun mas, aku wanita normal jelas datang bulan, kalau kamu nikahi transgender ya gak akan datang bulan..."celetuknya dengan mode galak, ia menatap suaminya dengan tajam, setelah menerima barang yang ia minta.
Brak... Yuna kembali menutup pintu kamar mandinya dengan kencang.
Nanda mengelus dadanya, "pantas saja, sejak tadi ngomel-ngomel terus..."
•••
Nanda mengerucutkan bibirnya kesal, menatap semua keluarganya yang tengah berkumpul di halaman taman belakang, semua bersiap-siap untuk mengadakan barbeque.
Ada Vriska, Alan, Calvin, Oma Lita, Opa Danu, Oma Merlyn, Opa Brawijaya, di tambah dua biang kerok Tristan dan Nada, semua sudah memakai baju tidur, jangan lupakan beberapa asisten rumah tangga yang mereka bawa.
"Dasar calon ponakan gak ada ahlak, apa gak bisa begitu tengah malam gak gangguin orang istriahat.."dumelnya, ia menatap Nada dengan tajam.
Yuna mengelus lengan suaminya, "enggak boleh gitu lho mas, namanya juga orang hamil...", Yuna paham kenapa suaminya bisa begitu kesal, lantaran ia baru tidur satu jam yang lalu, kemudian di tengah malam begini semua keluarganya tiba-tiba, alasannya mau ngadain barbeque, mereka bilang itu keinginan Nada. Apa mereka tidak tau ? Nanda tengah kesal, sangat kesal lantaran harus puasa seminggu.
"Nah kamu sendiri paman gak ada ahlak, pelit banget cuman pinjam rumahnya doang, kamu ingin ponakan kamu tuh ileran..."sarkas Nada tak kalah kesal.
"Alasan aja.."
"Oma apa tuh, lihatin Kak Nanda tuh ngeselin banget huwaaa... hiks... hiks..."teriak Nada mulai nangis.
"Kamu apasih Nda, gak boleh gitu namanya juga orang hamil. Suatu saat kamu bakal rasain kalau Yuna udah hamil juga, pasti akan meminta sesuatu hal yang tak wajar.."bel Opa Danu.
"Gak akan, aku gak akan buat Yuna ganggu orang istirahat tengah malam kaya dia.."gerutunya, yang langsung mendapat cubitan dari suaminya.
Sementara yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya melihat dua saudara kembar itu terus ribut.
"Biar aku yang bakar ikannya.."Calvin menawarkan diri hendak bangkit dari tempat duduknya, ketika merasa semua peralatan sudah siap.
Nada menggeleng, "aku gak mau kamu, maunya Kak Nanda yang bakarin buat aku.."
Astaga...Nanda berdecak dalam hati.
"Suami kamu siapa sih, nyusahin aja.."seru Nanda kesal, namun melihat Nada yang hanya terdiam menangis ia tidak tega, apalagi melihat wajah permohonan Tristan, akhirnya ia bangkit dari tempat duduknya menuruti perintah Nada.
Kediaman rumah Nanda begitu ramai, Yuna terlihat begitu antusias berkumpul bersama mereka, berbeda dengan Nanda yang masih berdecak kesal.
Nada begitu menikmati ikan yang telah di panggang Nanda. Tristan mengernyit heran, "apakah seenak itu hem..?"tanyanya lembut sembari membersihkan sudut bibir istrinya yang terlihat berantakan.
Nada hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya, tak lama Tristan pun memberikan minum pada istrinya, Nada dengan sigap menerimanya, ia meneguknya hingga habis.
Merasa masih haus, Nada meminta suaminya untuk mengambilkannya lagi, Tristan menuruti perintah istrinya.
"Minumlah, aku harus ke kamar mandi lebih dulu.."seru Tristan setelah memberikan segelas air putih pada Nada, ia berlalu pergi ke kamar mandi, melewati keluarganya yang masih asyik berkumpul, bersenda gurau.
Prang.. bunyi pecahan gelas terdengar keras, membuat semua orang yang berada di sana mengalihkan pandangannya ke Nada.
"Nada..." ucap semua orang, kemudian mereka semua bangkit menghampiri Nada yang merintuh kesakitan pada perutnya.
•••
Like, komentar, hadiahnya
Tbc