DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Buah kedondong



Masih ada waktu beberapa jam sebelum Nanda dan Yuna balik ke Indonesia. Jadi, Yuna meminta Nanda mengantarkannya untuk membeli beberapa oleh-oleh.


"Apa yang ingin kau beli..?" tanya Nanda penasaran.


Yuna mengalihkan pandangannya ke dari ponsel miliknya, " Oleh-oleh, adikku minta di beliin sepatu di sini.."


Nanda mengangguk segera membawa Yuna ke pusat perbelanjaan.


"Pilihlah yang kamu mau, saya akan ke toilet sebentar," perintah Nanda sebelum berlalu meninggalkan Yuna.


Sepeninggal Nanda, Yuna pun memilih-milih pakaian juga sepatu, ia masih menimang-nimang melihat harga yang tertera di sana memang lumayan mahal.


"Sudah.." tanya Nanda mengejutkan Yuna secara tiba-tiba.


Yuna terdiam, "Belom, saya bingung pilih yang mana.. Kita balik aja ke Villa ya Tuan,.." kelakar Yuna.


"Lho kenapa..?" tanya Nanda bingung sambil berfikir menatap Yuna sekilas.


"Saya gak jadi..."


"Pilih yang kamu suka, untuk adikmu juga. Biar saya yang bayar, anggap aja ini bonus karena kamu udah nemenin saya beberapa hari ini.."ujar Nanda


"Itu kan memang pekerjaan saya Tuan.." jawab Yuna


"Banyak bicara, cepat pilih dan ambil yang kamu, kalau kamu masih banyak bicara saya akan cium kamu di sini.."ancam Nanda, sontak Yuna langsung menutup bibirnya.


Tidak, atasannya itu tidak boleh menciumnya lagi, bisa-bisa Yuna akan mati tak dapat tidur beberapa hari, seperti kemarin saja saat ia mencium atasannya itu, semalaman Yuna tidak dapat memejamkan matanya, bayangan kecupan singkat di bibir atasannya itu malah selalu terlintas. Padahal sebelumnya Yuna dan Nanda juga pernah tak sengaja melakukan hal itu bukan, tapi yang dulu dan sekarang terasa berbeda. Ada sesuatu hal aneh yang tak dapat Yuna mengerti.


Usai mendapatkan barang yang Yuna mau Nanda mengajak Yuna ke sebuah toko perhiasan.


"Yun coba pilihkan satu kalung yang menurutmu sangat bagus.." perintah Nanda


Yuna mengangguk, meski dalam hati bingung untuk apa Nanda membeli kalung. Mungkinkah untuk calon istrinya, yang ia dengar jika Nanda akan di jodohkan, atau bisa jadi buat adik kembarnya, atau maminya.


Yuna menggelengkan kepalanya, entah kenapa membayangkan Nanda bersama wanita lain rasa sesak mulai muncul di hatinya, mungkinkah ia mulai mencintai atasannya itu. Tidak, jika hal itu terjadi semua salah.


Dalam diam Yuna tetap menuruti perintah atasannya itu memilihkan sebuah kalung berlian cantik.


Usai mendapatkan apa yang Nanda mau, keduanya berjalan menunu Villa untuk bersiap kembali pulang ke Indonesia.


Yuna masih terdiam membuang pandangannya ke arah jendela, terkadang ia juga mengotak-atik ponselnya.


"Kau mau menghubungi siapa..?"tanya Nanda


"Tidak, tuan.."elaknya, Yuna merasa heran perasaan ia sudah menyimpan kontak Arav di ponselnya tapi kenapa ia cari tidak ada.


"Yun, kamu pernah jatuh cinta gak.."tanya Nanda tiba-tiba.


"Pernah..."


"Dengan siapa..?"


"Bapak saya lah.."eh, jawaban apa itu.


"Punya kriteria punya idaman gak Yun.."tanya Nanda


Yuna merasa aneh atasannya itu kenapa jadi banyak tanya, "Gak nyari pacar, saya tuh pengen langsung nikah aja. Jadi kalau udah nemu yang nyaman, maunya langsung nikah, saya juga bosan kerja terus.."


"Jadi kamu bosan kerja sama saya.."cecar Nanda tergelak.


"gak tau.."elaknya,


Pada akhirnya keduanya sampai di Villa, segera Yuna membereskan barang-barang dirinya dan Nanda. Dua jam lagi keduanya akan menuju bandara.


🌹🌹🌹


Nada merasa gelisah tak dapat memejamkan kedua matanya, bayangan makan buah kedondong terus di cocolin ke sambal rujak, membuat ia menelan salivanya. Tapi melihat waktu sudah menujukkan pukul dua belas malam membuat ia tidak tega membangunkan suaminya itu.


Mengurungkan niatnya, Nada kembali mencoba memejamkan matanya. Namun bukannya tertidur, Nada malah terisak menangis.


"Kenapa sayang..?" tanya Tristan lembut sambil mengusap wajah istrinya, meski rasanya teramat ngantuk ia mencoba untuk terjaga.


"Aku tidak tau.."sahut Nada lirih masih terus terisak.


"Aku ingin makan buah kedondong..."ucapnya.


Tristan langsung melototkan matanya, "Besok aja ya kita cari jam segini mana ada yang jualan Nad.."


"Tapi aku ingin sekarang.."desak Nada merengek manja.


"Tapi..."


"Gak usah beli, tuh depan rumah Bu Nina yang di ujung komplek juga ada..."ucap Nada


"Terus,.."


"Ya kamu ambilin buat akulah.."


"Tapi masalahnya ini malam Nad, orangnya juga pasti sudah tidur.."


Nada mencebik lalu bangkit dari tempat tidurnya, "Bilang aja tidak mau, banyak alasan. Aku juga bisa meminta dan mengambilnya sendiri.."cetus Nada sambil berlalu keluar.


Segera Tristan menyusul istrinya keluar, "Nad kamu mau kemana...?"


"Mau minta buah itu, ngapain masih nanya.. Udah sana kamu tidur lagi aja, aku bisa kok ambil dan minta sendiri..."jawab Nada kesal.


Tristan mengusap wajahnya kasar apalagi kala melihat mata istrinya yang sudah berkaca-kaca, "Tunggu di sini, biar aku yang ambilkan.."


"Katanya gak mau.."


"Demi baby twins aku mau lah.."


Akhirnya Tristan keluar mengendarai sepeda motornya, menuju rumah Bu Nina. Sampai di sana terlihat rumah Bu Nina sudah gelap, mungkin bisa jadi penghuninya sudah tidur.


Tristan jadi merasa tidak enak mau mengetuk pintu, takut mengganggu. Tapi bayangan wajah istrinya kembali terlintas bagaimana ia begitu menginginkan buah itu. Akhirnya Tristan memberanikan mengetuk pintu itu.


Tak lama pintu rumah itu terbuka munculan seorang pria paruh baya.


"Siapa ya..?"tanya pria itu.


"Saya Tristan Pak..."seru Tristan


"Ada perlu apa ya...?"


"Begini istri saya sedang hamil dan ingin makan buah kedondong, boleh gak saya meminta buahnya itu..."ucap Tristan


"Silakan, nak Tristan ambil saja semaunya.."ucapnya


Usai mendapatkan ijin Tristan pun memutuskan untuk mengambil buah itu, dengan susah payah ia manjat.


"Aduh..."ringisnya, kala seekor hewan kecil menggit lehernya.


Gini amat sih mau jadi orang tua,


Setelah di rasa cukup Tristan pun turun dari pohon itu, mengambil buah yang ia jatuhkan ke tanah, lalu membawanya pulang.


"Nad, ini buahnya aku sudah...."


Tristan tak melanjutkan ucapannya saat melihat Nada sudah terlelap di sofa, bergegas Tristan menghampiri istrinya, lalu menepuk pipinya.


"Nad, ini buahnya aku sadah dapat. Katanya mau makan, ayo aku buatin sambalnya ya.."seru Tristan


Nada menggeliat dalam lelapnya, perlahan membuka matanya, "Aku sudah tidak ingin makan buah itu, aku mau tidur saja ngantuk.."ucapnya tanpa dosa, ia beranjak masuk ke kamar. Meninggalkan Tristan yang masih tergelak.


Oh ya ampun, benar-benar menjengkelkan. Susah payah aku mendapatkan buahnya, malam-malam begini manjat pohon, samlai rumah dengan gampangnya dia bilang sudah tidak ingin lagi, apa semua ibu hamil begitu..gumam Tristan berdecak kesal.


Tristan melihat tangannya yang tampak merah-merah akibat gigitan semut, pun badannya yang terasa begitu gatal, bisa di pastikan jika ia tidak mandi ia takkan bisa tertidur lelap malam ini. Bergegas Tristan masuk ke kamar, terlihat Nada tertidur begitu lelap tanpa dosa, lalu menuju kamar untuk membersihkan diri.


🌹🌹


Dukung Author dengan Like, Komentar, Hadiahnya😊


Tbc