DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Tidak ada siaran ulang



Tristan masih mematung terdiam tak berniat menjawab atau membalas pelukan Nada.


Hiks.. hiks.. Tangis Nada pecah, Tristan dapat merasakan badannya Nada yang bergetar. Ingin sekali ia memutar tubuhnya lalu membawa istrinya ke dalam dekapannya. Namun, ia menggelengkan kepalanya, kala teringat kata-kata Nada juga pelukan Nada dan Liam.


"Lepas Nad.."pinta Tristan


"Tidak..."Nada menolak tegas, ia justru semakin mempererat pelukannya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang suami.


Tristan memejamkan matanya sejenak, ia berusaha mengontrol emosinya. Apapun yang terjadi Tristan tidak akan berlalu kasar pada Nada.


Sakit hati, Nada merasakan ribuan jarum menusuk hatinya saat ini. Sikap Tristan sangat melukai hatinya, pria itu sama sekali tak bergeming atas perlakuan Nada kini. Apakah seperti ini rasanya, ketika dulu berkali-kali Nada mengacuhkan Tristan dan menyakiti hatinya..pikir Nada.


"Nad.."ucap Tristan penuh tekanan, Nada mengerti arti panggilan itu.


"Tristan, jika kau mencintaiku. Bisakah kau mempercayai cintamu..."ucap Nada dengan sendu.


"Mempercayaimu.. untuk apa Nad. Bukankah kau juga sudah mengkhianati kepercayaanku. Aku sudah memperingatkanmu sejak awal bukan.."jelas Tristan.


Nada melonggarkan kedua tangannya dari badan Tristan, lalu memundurkan tubuhnya.


"Biarkan aku bicara, setelah itu kau boleh memutuskan apapun Tristan.."seru Nada


Tristan tidak menjawab ya ataupun menolak, pria itu masih dalam posisi sama seperti sebelumnya.


Nada menghela nafasnya, "Tristan, aku tau perlakuan ku padamu begitu salah dan banyak melukai hatimu. Aku hanya lah seorang wanita manja, sombong, dan arogan. Untuk itu semua yang terjadi padaku mungkin saja merupakan hukum karma.."


"Aku tidak layak di sebut sebagai seorang istri, karena aku tidak pernah melakukan kewajibanku sebagai mana mestinya.."sambung Nada, ia masih menatap Tristan yang sama sekali tak bergeming.


"Tapi Tristan, kau mengenalku sejak kecil bukan. Kau tau bagaimana keras kepalaku. Kau salah jika mengira aku akan kembali padanya. Tidak.. Tristan aku tidak akan kembali padanya. Aku memang mencintainya, tapi itu dulu. Sebelum ia pergi meninggalkanku dan memcampakanku."


Tristan terkesiap mendengarnya, "Aku memang menantikan untuk bertemu dengannya, tapi tidak untuk kembali padanya. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah di antara kami agar ia tidak mengangguku kembali. Aku juga menjelaskan padanya jika aku sudah menikah denganmu.."


Nada memalingkan mukanya, menghapus sudut matanya yang basah. "Surat perjanjian.. tentang itu. Aku memang melakukannya padamu. Kau tentu ingat bukan, bagaimana kejadiannya kita bisa menikah, pernikahan secara terpaksa. Hatiku sakit aku merasa malu di tinggalkan calon suamiku di hari pernikahan, apa aku semenyedihkan dan sehina itu hingga ia begitu gampangnya mencampakanku. Dia pria yang aku cintai, tiga tahun kami menjalin hubungan ternyata tidak cukup untuk membuktikan kekuatan cinta kami. Aku sengaja membuatmu terikat pada perjanjian itu padamu, agar kau terus membenciku dan aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Tapi aku salah, kau tidak pernah membenciku kau selalu memperlakukanku dengan baik sekalipun aku selalu memakimu dengan kata-kata pedasku. Aku takut kembali terluka lalu di tinggalkan lagi..."lirih Nada.


Tristan terkesiap ia melepaskan genggaman koper miliknya.


"Sekarang benar bukan, saat kau sudah berhasil membuat aku nyaman dan mencintaimu. Kau akan pergi meninggalkanku, Tristan.."seru Nada, kali ini ia memutar tubuhnya membelakangi Tristan tak sanggup lagi melihat Tristan yang terus mengacuhkannya. Biarlah kini ia meratapi nasibnya dengan lapang dada. Mungkin memang begini nasibnya selalu di tinggalkan.


Tristan kembali terkesiap tak percaya akan ucapan Nada barusan. Ia memutar tubuhnya melihat Nada kini tak lagi menatap dirinya. Tristan tau wanita itu kini sedang menangis. Ia melangkahkan kakinya mendekati Nada.


"Pergilah Tristan, aku tidak akan mencegahmu. Pria sebaik dirimu memang tidak pantas untuk wanita egois seperti diriku. Tenanglah aku akan katakan sebenarnya pada kedua orang tuaku, akan ku pastikan mereka tidak akan membencimu.."lirih Nada.


Tristan menarik Nada ke dalam pelukannya, membuat Nada terkesiap.


"Tristan.."pekik Nada.


"Diam, kau sudah banyak bicara.."tutur Tristan, pria itu membawa Nada ke dalam pelukannya. Lalu mengelus punggungnya, dan memberi kecupan singkat di kepala Nada.


"Don't cry.."tuturnya, Nada memalingkan mukanya ia merasa malu.


Tristan terkekeh, "Sejak kapan..?"tanya Tristan.


"Apanya..?"jawab Nada pura-pura tak tahu.


"Mencintaku.."


Semburat rona merah muncul di wajah Nada, ia merasa malu. Apa-apaan barusan ia justru menyatakan cinta lebih dulu pada Tristan. Nada memalingkan mukanya, Tristan kembali menarik dagu Nada.


"Please, Do you love me..?"tanya Tristan menatap manik matanya Nada meminta jawaban, ah sungguh Tristan ingin sekali kembali mendengar kata cinta dari Nada.


Nada menepis tangan Tristan, ia kembali memeluk Tristan.


"Tidak ada siaran ulang. Masa aku yang menyatakan perasaanku duluan.."Nada membenamkan wajahnya di dada Tristan dengan malu-malu.


Tristan terkekeh, "tapi itu hebat lho. Coba saja kamar ini di lengkapi cctv aku perlu mengabadikannya.."


Aww.. Nada mencubit pinggang Tristan, hingga ia mengaduh kesakitan.


"Sakit Nad, galak sekali.."ucap Tristan, pria itu kembali membawa Nada ke dalam pelukannya. Rasanya hangat dan nyaman ada sebuah kelegaan yang terkira.


"I love u.."bisik Tristan tepat di telinga Nada.


"I love u too.."sahutnya


Tristan memiringkan wajahnya lebih dekat, ia mendekatkan bibirnya pada Nada. Nada memejamkan matanya, merasakan sebuah benda kenyal kini mengecup bibirnya, membuat aliran darahnya meremang. Tristan mengecap dan **********, entah kenapa kali ini ia merasakan ciumannya terasa berbeda, mungkin saja karena sudah di bumbui cinta. (hihihiwkwkkwk Ara mau ketawa aja lah)


🌹🌹


Habis itu ngapain tuh orang berdua😂😂, hayo tebak..?


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Aku up doble lho hari ini😊


Tbc.