DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Kurang apa aku..?



Tristan mengusap wajahnya dengan kasar. Tiupan angin yang berasal dari hamparan laut menerpa tubuhnya, matanya tampak memerah. Penampilannya juga sudah tak serapi tadi, melepas jasnya, ia juga melonggarkan dasi di lehernya, kemudian ia juga melipat lengan kemeja putih yang kini ia kenakan, pandangannya tetap lurus dan sayu menatap laut di depannya. Entah kenapa saat hatinya sedih ia hanya teetuju pada tempat ini. Ia merasa jika ia pergi kesana ia dapat merasakan kehadiran kedua orang tuanya. Kata-kata Nada barusan seolah bagai jarum yang menusuk ulu hatinya, menyakitkan.


"Suami di atas kertas", gumamnya pria itu menertawakan dirinya dengan getir. Dia tidak menduga jika Nada akan sebegitu membenci dirinya, hingga apapun yang telah ia lakukan tak dapat mengetuk pintu hati Nada sama sekali. Jauh hari Tristan sudah memutuskan untuk membuka hatinya untuk wanita itu, bagi Tristan pernikahan adalah janji suci yang sakral tak dapat di nodai sebisa mungkin ia memperlakukan Nada layaknya seorang istri. Di mulai dari biaya kehidupan Nada, Tristan menyerahkan semuanya, tak jarang perhatian-perhatian kecil pun ia berikan pada wanita itu. Tristan tau Nada bukan wanita pada umumnya yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak. Tristan tidak mempermasalahkan hal itu ia dapat mengerti apapun itu, karena Tristan sudah tau bagaimana kehidupan Nada sejak kecil.


"Kurang apa aku Nad.."lirih Tristan. Sampai detik ini Tristan masih menghargai Nada, tak sekalipun ia pernah menyinggung soal hak nafkah batinnya. Tristan pikir ia akan melakukan hal itu sampai Nada benar-benar siap dan menerima dirinya, tak ia duga jika Nada menganggap tidak serius dengan pernikahan ini. Tristan pria yang normal, melihat ada wanita cantik tidur di sebelahnya tentu saja ia kerap tergoda, apalagi wanita itu sudah sah menjadi istrinya, namun sebisa mungkin pria itu selalu berusaha mengendalikan dirinya. Ah bodoh, Tristan tersenyum getir kenapa dengan mudahnya ia dapat menjatuhkan hatinya pada wanita itu. Hanya karena sebuah ikatan pernikahan Tristan dapat dengan mudah mencintainya, harusnya ia dapat menahan diri mengingat bagaimana sifat Nada, bagaimana awal mula pernikahan itu terjadi.


"Kenapa hidupku seperti ini Pa Ma. Istriku bahkan sama sekali tak menginginkanku. Kenapa tak kalian bawa saja aku pergi.."ucap Tristan. Pria itu kembali menunduk.


"Tristan, kau sedang apa...?"tanya seorang wanita yang tiba-tiba datang di sebelah Tristan.


Tristan melirik ke sumber suara itu, "Nadilla.."lirihnya kemudian ia memalingkan mukanya. Kenapa harus bertemu wanita itu lagi, wanita yang pernah menorehkan luka padanya, dan sekarang Tristan kembali terluka padanya.


"Kau pasti kesini karena merindukan kedua orang tuamu ya.."ucap Nadilla dengan tersenyum. Entah kenapa wanita itu merasa senang bisa bertemu dengan Tristan, tidak salah Davis mengajaknya pergi ke pantai hari ini. Dan sekarang kemana perginya pria itu..?


"Sok tau.."cibirnya yang mampu membuat merubah wajah Nadilla berubah sendu.


"Apa sedang ada masalah Tristan, kau boleh membaginya padaku. Anggap saja aku temanmu.."Nadilla tidak menyerah.


Tristan bercih tak suka, "Tidak ada kata teman antara wanita dan pria. Apalagi bagi diriku seorang pria yang sudah jelas menikah, aku tidak mungkin menerima teman wanita. Nona Nadilla jangan urusi kehidupanku"ujar Tristan dengan tegas.


"Kenapa kau begitu marah padaku, aku sudah meminta maaf padamu kan. Aku tau kata-kataku dan perilakuku saat itu memang jahat, tapi tidak tidak ada bedanya dengan Nada. Aku juga tau bagaimana sifat Nada padamu. Dan ku yakin kau bisa berada di sini karena ulah dirinya.."sahut Nadilla, ia merasa tak terima saat Tristan selalu bersikap sinis padanya.


Tristan memandang Nadilla tak suka saat ia harus mendengarkan wanita membawa Nada dalam ucapannya, "Jangan membawa nama istriku. Apapun perilakunya ia jauh lebih darimu.."


Lebih baik? tak salah. Padahal Nada tak jauh beda dengan Nadilla. Wanita itu juga telah berhasil memporak-parikan hatinya.


"Kau sangat mencintainya ternyata.."tutur Nadilla, memandang Tristan sendu.


"Hallo Tuan, jaga calon istrimu ya.."Tristan menepuk pundak Davis.


Davis hanya tersenyum tipis mengangguk, kemudian pria itu juga menatap Nadilla. Nadilla menunduk.


"Pesananmu.."seru Davis datar, ia menyerahkan minuman pada Nadilla.


"Davis aku..."


Davis memalingkan mukanya sebentar, "Jangan ikut campur masalah seseorang Nadilla. Sekalipun kau sangat mencintainya, tapi dia sudah milik orang lain.."


"Ayo pulang.."sambungnya tanpa menunggu jawaban Nadilla pria itu melangkah pergi meninggakan Nadilla, bukan karena cemburu pria itu merasa kecewa lantaran Nadilla tak dapat menjaga sikapnya.


🌹🌹


Jangan lupa


Like


komentar


hadiahnya ya


Tbc.