DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Suami Di atas kertas



Hingga waktu makan siang tiba, Nada masih tetap fokus pada setumpuk dokumen yang berada di atas mejanya. Terkadang ia akan memijat pelipisnya, menggelengkan kepalanya, menyenderkan bahunya di kursi. Semua itu tidak luput dari tatapan Tristan.


"Nad, sudah waktunya makan siang. Istirahatlah kau bisa lanjutkan itu nanti.."ucap Tristan.


Nada melirik ke arah Tristan tajam lalu membuang pandangannya ke tumpukan dokumen yang masih ada beberapa map, jika ia mengambil waktu satu jam istirahat pasti ia tidak akan mampu menyelesaikan tugasnya. Menggelengkan kepalanya, Nada tidak mau lagi di ejek wanita payah dan manja. Dia pasti akan membuktikan semuanya, jika dia bukan wanita yang seperti itu.


"Nanti saja.."sahutnya datar .


"Nad, jangan keras kepala. Kau juga butuh asupan makanan..."ujar Tristan.


"Kenapa kau begitu crewet, aku tidak ingin makan. Jika kau ingin istirahat makan ya makan.."cetusnya kesal.


"Nad, bagaimanapun aku juga suamimu. Aku juga tidak ingin kau sakit.."


"Suami di atas kertas, kau harus ingat itu. Sampai kapanpun aku tidak akan menganggapmu suami ."ucap Nada


Deg.. hati Tristan kembali tergores perih, seakan Nada kembali mengingatkan posisi dirinya kini. Benar memang Tristan sepakat untuk menandatangani perjanjian itu, semua ia lakukan demi melihat ketenangan Nada.


"Baiklah terserah dirimu.."sahut Tristan akhirnya ia mengepalkan kedua tangannya.


Tristan beranjak keluar tanpa kembali menoleh ke arah Nada. Nada menghela nafasnya, ia tau Tristan pasti kesal dengannya. Tersenyum tipis wanita berusaha bersikap biasa saja.


Satu jam berlalu Tristan kembali ke ruanganya ia melihat pemandangan yang sama, mata Nada sama sekali tak teralihkan dari dokumen-dokumen itu.


"Aku membawakanmu makanan. Ayo di makan Nad.."ucap Tristan ia meletakkan sebungkus makanan di atas meja.


Nada melirik sekilas, "Tidak sok perhatian, jika aku mau aku juga bisa membelinya sendiri.."


Berdecak kesal Tristan berpikir kapan wanita itu akan berucap lembut, sejak dulu Nada selalu berkata ketus padanya, apa segitu bencinya Nada pada Tristan.


Membuang egonya, Tristan merampas dokumen yang tengah Nada pegang. Nada menatap tajam Tristan, namun Tristan bersikap acuh tak perduli.


"Kau..."berdecak kesal Nada bangkit dari tempatnya.


"Makan, atau kau ku pecat.."ancam Tristan


"Kenapa kau..."


"Ini perintah jika kau tidak menurut aku bisa melakukan apapun sekarang,.."gertaknya dengan tajam.


Berdecak kesal Nada mengambil makanan yang Tristan bawa, ia kembali duduk dan mulai memakannya.


"Jangan sampai mengotori meja dan dokumen-dokumen ini. Makanlah di sofa Nad.."serunya.


Tidak mau kembali berdebat Nada berlalu berjalan ke arah sofa dan mulai makan di sana.


"Crewet sekali,."gumam Nada.


🌹🌹🌹


Pukul lima sore Yuna baru keluar dari gedung perusahaan, wanita itu berdiri di depan loby menunggu seseorang. Hari ini merupakan hari yang lelah baginya, atasannya itu benar-benar crewet banyak maunya.


Mulai dari makan pun Nanda meminta Yuna untuk menyuapinya, anehnya Yuna sama sekali tidak bisa membantah perintah Nanda. Ia selalu kalah telak jika berhadapan dengan atasannya itu.


Karyawan lain bilang Nanda merupakan pria playboy yang suka memainkan hati wanita, tapi Yuna merasa tidak masalah, sejak awal tujuan ia hanyalah mencari uang untuk mengobati penyakit ayahnya yang harus cuci darah setiap minggunya. Maka, apapun perkataan Nanda Yuna selalu berusaha bersikap biasa tak memasukannya ke hati. Yuna hanyalah seorang wanita yang berasal dari keluarga sederhana.


"Kau menunggu siapa..?"tanya Nanda yang sudah berdiri di ambang di sebelah Yuna.


"Pacarmu yang masih bau kencur itu.."ejek Nanda.


Menghela nafasnya Yuna terdiam tidak ingin menjawab ataupun menjelaskan, baginya itu tidak penting.


Sebuah mobil Mercy tiba di depan keduanya, Nanda masuk ke dalam mobil. Anehnya Nanda tetap tidak juga kunjung menutup pintunya.


"Ayo naik.."ajak Nanda


"Saya Tuan.."Yuna menunjuk dirinya sendiri.


"Ya lah, siapa lagi. Masa saya ajak setan.."decak Nanda


"Tapi.."


"Sudahlah masuk. Saya akan mengantarmu pulang. Tidak usah menunggu pacarmu yang masih bau kencur itu, dia masih ABG paling juga lagi belajar merayu gadis lain.."ucapnyaN dia sedang mengejek atau apa sih.


Yuna pun masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Nanda.


"Pak ke tempat dia dulu ya..."perintah Nanda pada sopir.


"Baik Tuan.."


Nanda menyenderkan dirinya di kursi, "Yun besok temani saya ke rumah sakit ya, saya harus check up lagi sekalian mau ketemu Rena. Kau bisa jemput saya ke rumah kan.."


Yuna menggeleng, "Tidak tuan, mobil saya masih.."


"Belom bener juga, itu mobilmu minta di lembiru.."seru Nanda


Yuna mengernyit heran, "Apa itu lembiru Tuan.."


"Lempar beli yang baru.." Yuna tergelak,


"Begitu saja tidak tau dasar payah.."


Yuna menghela nafasnya, "Tuan tidak tau ya, mobil itu harta saya satu-satunya, meskipun kuno tetap saja itu sangat berarti untuk saya. Jika saya mempunyai uang lebih, mungkin saya tidak akan sempat berfikir untuk membeli mobil baru, ada sesuatu hal yang lebih penting di bandingkan mobil baru Tuan..."tutur Yuna


"Ya udah besok saya akan menjemputmu.."sahut Nanda, entah mengapa mendengar perkataan Yuna, Nanda jadi inscure sendiri Nanda seolah dapat membaca jika beban wanita itu begitu berat.


"Berhenti di sini saja pak.."Yuna menghentikan sopir.


"Lho bukannya.."


"Terimakasih Tuan, ada sesuatu yang ingin saya beli. Jadi cukup sampai sini saja anda mengantarkan saya Tuan.."seru Yuna


"Baiklah, besok saya akan menjemputmu.."


Yuna menganggukan kepalanya. Mobil Nanda kembali berjalan, Nanda masih melihat Yuna dari spion miliknya.


🌹🌹


Jangan lupa like, komen, hadiahnya..😊


To Be Continue.