
Awas baper😂 dan sedikit panas🔥
•••
Rasanya, pada saat ini seluruh alam semesta ada hanya untuk menyatukan kita.
Nanda menarik tangan Yuna, begitu sampai di kamarnya ia membuka pintu kamarnya. Harum aroma bunga mawar menyeruak ke dalam hidungnya. Ranjang yang semula rapi juga sudah lusuh, karena sebelumnya Nanda dan Yuna tadi sudah istirahat. Mengingat tadi Nanda berdecak kesal, akan ucapan istrinya.
"Mau apa mas...?"ucapnya saat Nanda mendekati dirinya yang baru selesai mandi sore tadi.
"Makan kamu..."ucapnya serius, manik matanya kini menatap tajam.
Yuna memundurkan tubuhnya menghindari suaminya, "Jangan...."teriaknya, membuat Nanda tergelak.
"Aku suami kamu lho, jadi aku---"
"Maksudku nanti malam saja tunggu gelap, ini masih sore aku malu..."jelasnya ia tak mau membuat suaminya marah, tapi alasan apa yang ia buat itu. Bukankah nanti dan sekarang juga sama saja, baiklah Nanda lebih baik mengalah.
"Ya sudah ayo tiduran saja, kau pasti lelah.."seru Nanda mengalah, Yuna menarik nafas lega.
Kini, Yuna tengah berjalan mendekati ranjang. Nanda terdiam melihat pergerakan istrinya.
Pet..
Seketika ruangan menjadi gelap, cahaya malam sedikit masuk melalui celah jendela yang tertutup gorden transparan.
"Mas, kenapa di matikan lampunya..?"decaknya, kini perasaan Yuna mendadak menjadi kacau, bayang-bayang adegan malam pertama yang pernah ia baca dalam sebuah buku novel terlintas, juga cerita-cerita teman sekantornya membuat seluruh tubuhnya kini mengeluarkan keringat dingin, badannya terasa menegang.
Nanda berjalan mendekat dan memeluk Yuna, "kamu bilang sore tadi menunggu gelap, kalau terang malu. Jadi aku matikan saja lampunya.."bisiknya tepat di telinga Yuna.
Tindakan Nanda justru membuat Yuna semakin gugup dan takut.
Glek... glek..
Yuna menelan salivanya dengan susah payah. Perlahan Nanda mencium pipi Yuna dari belakang, serta menggigit kecil telinga Yuna, membuat sang empunya merasa geli. Kini ia membalikan tubuh istrinya yang masih terdiam pasrah, ia mengecup sekilas kening istrinya, lalu pipi dan terakhir bibir membuat badan Yuna kembali menegang, ada desiran halus yang ia rasa.
Nanda menarik tangannya mendekati ranjang, namun Yuna masih terdiam tak bergerak di tempat.
"Kenapa...?"Nanda bertanya saat menyadari Yuna masih terdiam di tempat semula. Meski suasana kamar gelap, tetapi ia masih bisa melihat bayangan tubuh istrinya yang masih tetap bertahan di tempat.
"Aku... aku takut mas..."lirihnya dengan suara bergetar.
"Sayang, tidak seseram dan sesakit yang kamu bayangkan. Percaya deh sama mas..."Nanda sedikit menyentak tangan Yuna. Hingga, kini keduanya jatuh di atas tempat tidur dengan posisi Yuna di atas tubuh Nanda.
"Mas... aku..."Yuna hendak bangkit dari atas tubuh suaminya, namun Nanda segera menahannya.
"Ssssssttttt... diamlah sayang, oke..."pintanya dengan lembut.
Jantung keduanya berdetak kencang, Nanda membingkai wajah istrinya, tidak ada jarak yang mengikis keduanya, perlahan Nanda mengecup kembali bibir ranum istrinya, Yuna masih terdiam pasrah seakan otaknya dan badannya terdiam membeku di atas tubuh suaminya.
Tak kunjung mendapatkan respon dari istrinya, Nanda merubah posisinya, kini ia mengukung tubuh istrinya di bawahnya.
"Mas.. kau..."
"Diam, dan nikmatilah.."titah Nanda.
Nanda mendekatkan wajah Yuna dan langsung memangut lembut bibir ranum istrinya. Yuna yang semula hanya terdiam pasrah, kini ia mulai terpancing ia membalas ciuman suaminya, ia melingkarkan kedua tangannya di tengkuk suaminya, menekannya hingga membuat pangutan keduanya semakin dalam.
"Kau siap sayang..."tanya Nanda dengan nafas yang memburu, usai melepaskan pangutan bibirnya.
Yuna yang masih mencoba mengatur nafasnya, hanya menganggukan kepalanya. Begitu mendapatkan persetujuan dari istrinya, Nanda kembali mencium dan ******* bibir istrinya. Dari bibir, beralih ke wajah Yuna, kemudian menyesap leher jenjang istrinya, menghirup aroma tubuh Yuna.
Srett... dengan satu tarikan Nanda berhasil meloloskan gaun yang Yuna kenakan, lalu ia menjuntaikannya ke lantai begitu saja. Tak lupa, ia juga membuka seluruh pakaian penghalang di tubuh istrinya. Sedikit beranjak, Nanda pun melepaskan satu-persatu kain penghalang tubuhnya, hingga tak menyisakan sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya.
Nanda kembali menciumi setiap inci tubuh Yuna, dengan tangan yang terus bergerak lincah menyentuh bagian-bagian tubuh sensitif tubuh Yuna, membuat sang empunya menggelijang karena geli. Yuna merasa ada sejuta kupu-kupu yang bertebangan di tubuhnya.
Nanda meraba tubuh bagian bawah istrinya yang terasa basah, lalu melebarkan kedua paha istrinya. Kemudian ia menuntun miliknya untuk masuk ke sarangnya. Ia berusaha dengan keras namun tetap hati-hati, agar miliknya dapat masuk dengan sempurna. Nanda bersikap selembut mungkin, karena ini merupakan pengalaman yang pertama bagi keduanya.
"Apakah sakit sayang..."tanya Nanda, ia hendak menarik kembali miliknya, ketika mendengar rintihan Yuna yang mengerang kesakitan.
Namun, gerakannya tertahan, karena Yuna justru melingkarkan kedua kakinya dan menahan pinggul Nanda agar sulit bergerak. Yuna pikir meski terasa sakit, bukankah sekarang atau besok tetap sama saja, kapanpun itu suaminya pasti akan memintanya, jadi untuk apa menundanya lagi.
"Terusin mas..."ucap Yuna dengan serak, ia menahan gairah yang hampir meledak dalam tubuhnya.
Nanda menimang pikirannya sebelum menjawab, "Tapi...."
"Ayo cepat, lanjutkan..."gertak Yuna, membuat Nanda tergelak. Kenapa istrinya bisa lebih galak.
Dengan pinggul yang sedikit di angkat, inti Nanda langsung melesak masuk ke dalam inti Yuna.
"Sa.. kit..."rintih Yuna, kala ia merasakan sesuatu di bawah berhasil merobek miliknya. Yuna mencengkram punggung suaminya dengan keras dengan kuku cantik miliknya.
"Apakah harus..."
"Jangan, lanjutkan saja..."Yuna memotong ucapan Nanda dengan cepat.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Nanda menggerakan pinggulnya dengan lincah, memaju mundurkan miliknya. Menimbulkan sensasi bercinta yang luar biasa nikmat. Dalam suasana gelap, dengan cahaya remang-remang dari jendela yang tertutup gorden transparan, keduanya menyatukan dirinya, dengan pergulatan panas.
Yuna terus mengencangkan cengkraman tangannya di punggung suaminya. Nanda membungkam bibir istrinya dengan bibrinya agar tidak berteriak saat dia semakin cepat menggerakan pinggulnya. Tak lama sesuatu yang hangat terasa menyembur di rahim Yuna, keduanya mencapai puncak bersama-sama. Nanda menggulingkan tubuhnya di samling istrinya.
"Terima kasih sayang..."ucapnya, sesaat setelah Nanda dapat mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tak menunggu waktu lama kelelahan dan kepuasan membuat Nanda tertidur pulas, bahkan ia tak kuasa untuk memakai kembali pakaiannya.
Bohong, mereka bilang hanya sakit di awal saja, tapi yang ku rasakan justru sebaliknya, aku merasa sakit dan perih, sekujur tubuhku bahkan terasa sakit dan pegal..gumam Yuna ia meringis kala merasakan miliknya kini terasa perih, bergerak duduk Yuna menarik selimut di bawahnya lalu menutup tubuh polos keduanya, ia kembali merebahkan tubuhnya di samping suaminya yang tertidur pulas.
"Ck... enak ya, udah buat aku sakit. Langsung di tinggal tidur aja, awas saja besok, tidak akan ku berikan..."ancamnya, tapi bukankah barusan ia sudah memberikan semua pada suaminya itu.
Mengingat adegan tadi membuat wajahnya memanas, tapi ia tidak dapat melihat wajah dan milik suaminya, ia hanya dapat merasakannya saja, karena suasana kamar yang gelap, hem dasar bodoh harusnya tadi Yuna meminta melakukannya dengan lampu terang saja jadi ia bisa melihat semuanya.
Berpikir sejenak Yuna memutar otaknya, "Intip dikit boleh kali ya.."ia terkikik geli. Kini ia menyingkap selimutnya sedikit berusaha melihat milik suaminya, rasanya kok penasaran kenapa rasanya bisa begitu sakit.
"ish, dasar bodoh udah tau gelap. Ya gak kelihatan lah.."decaknya kesal ia mengerucutkan bibirnya ke depan.
Yuna memilih untuk mencoba memejamkan kedua matanya saja. Namun, tak kunjung tiba ia masih merasa penasaran ingin melihat, eh mendadak kok otaknya jadi mesum.
"Kalau pegang boleh gak ya.."gumamnya lirih, namun secepat kilat ia menggelengkan kepalanya. "Tidak-tidak, bagaimana jika nanti kelakuanmu itu justru membuat suamimu bangun dan berfikir jika kau mesum, ayolah Yuna gengsi dikit lah, jaga image baru juga sehari kamu jadi istrinya, nanti kalau ia justru terbangun dan mengatakan dirimu mesum dan cari kesempatan gimana, sadar Yuna tingkat kepedean suamimu itu tinggi."sambungnya.
Menghela nafasnya, Yuna berusaha kembali memejamkan kedua matanya, namun tak kunjung bisa. Ia terus berusaha mencari posisi yang nyaman, membolak-balikan tubuhnya.
Greppp...
Yuna melototkan kedua matanya saat merasakan satu tangan kekar melingkar di tubuhnya.
"Mas..."ucapnya gugup.
"Tidurlah, pergerakanmu sangat menganggu. Jika kau masih tetap berisik, jangan salahkan aku jika akan kembali mengulangi adegan tadi, dan ku pastikan besok kau tak dapat berjalan..."ancamnya.
Sontak Yuna menganga, membayangkannya membuat ia bergidik ngeri. Ia berusaha sebisa mungkin untuk memejamkan keduanya matanya. Tak lama, terdengar bunyi nafas teratur dari istrinya, tanda Yuna sudah terlelap.
Nanda membuka kedua matanya sejenak, "Dasar, ternyata diam-diam kamu sangat mesum ya.."ucapnya, ia menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Yuna sendiri tadi saat dirinya sedang tidur. Jika tidak kasihan pada Yuna, ingin sekali ia kembali melakukannya lagi.
Nanda memperat pelukannya pada istrinya, lalu kembali memejamkan matanya menyusul Yuna bermimpi.
•••
Yui dukung author dengan like, komentar, hadiahnya ya guys.
Tbc.