DO YOU LOVE ME ?

DO YOU LOVE ME ?
Mantan perawan



๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hingga pukul tujuh malam, Nada masih asyik bersenda gurau dengan Maminya. Alan masuk ke rumah dengan kening mengkerut.


"Hubby sudah pulang. Kau pasti lelah akan ku siapakan air hangat.."sambut Vriska pada Alan.


Alan mengecup pipi istrinya sekilas dan tersenyum tipis, lalu melirik ke arah Nada yang sedang asyik mengunyah keripik kentang.


"Nad tidak pulang..."tanya Alan to the point.


"Ngusir ni.."decak Nada


Alan terkekeh, berjalan mendekat ke arah putrinya lalu mengusap rambut Nada, "Tidak mengusir, hanya saja Tristan pasti sedang menunggumu, dia sudah pulang sejak jam empat sore tadi.."tutur Alan lembut, (emang Papi Alan tuh idola Ara banget๐Ÿ˜‚).


Nada sontak menghentikan gerakan makannya, "Ya ampun aku lupa kalau dah punya suami.."


Alan tergelak, "Ponselmu mana..?"


"Mati, Papi aku pulang dulu.."Nada buru-buru keluar.


Alan menggelengkan kepalanya, "Lho Nada di mana Pi..?"tanya Vriska yang sudah kembali.


"Pulang, kamu tuh Mi udah tau anak udah punya suami kenapa gak di suruh pulang sejak tadi,.."decak Alan.


Vriska terkekeh, "Lupa Pi, maklum udah tua.."


"Tua juga masih cantik kok..."Alan mengelus pipi Vriska lalu merangkul pundaknya.


"Tin..tin.. Awas kereta mau lewat.."seru Calvin yang tiba-tiba melepaskan rangkulan Alan dan Vriska.


"Dasar anak gak ada akhlak, gak suka liat orang tua senang.."decak Alan,


Calvin cuman nyengir tanpa rasa salah, sampai akhirnya ketiganya kembali mengalihkan pendangannya saat pintu kembali terbuka.


"Lho Nad, kok balik lagi.."tanya Alan bingung.


Nada nyengir, "Papi anterin aku yuk.. Aku kan bawa mobil lupa.."


"Gak boleh, Papimu capek baru juga sampai rumah. Udah tua ntar gampang masuk angin.. Calvin aja yang suruh nganter."sewot Ibu Peri.


"Berhubung aku adik yang baik ayo aku antar.."seru Calvin, sambil berlalu mengambil kunci motor sportnya.


"Kok kamu bilang aku udah Tua sih, padahal bikin adik buat Calvin juga aku masih sanggup, jago malah.."ucap Alan sembari berjalan ke kamar bersama Vriska.


"Ih mesum.."cetus Vriska kesal.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Calvin mengendarai motor sportnya dengan kecepatan sedang.


"Lelet banget sih, buruan napa. Nanti kakak iparmu marah.."ucap Nada kesal.


"Takut kau rusak kak, kau kan limited edition.."sahut Calvin.


Bugh.. Nada memukul Calvin dengan paper bag belanjaan miliknya.


"Sembarangan di kata aku barang.. Buruan..."


Calvin pun menambah laju kecepatan motornya, hingga Nada harus berpegangan erat pada pundak Calvin, untung saja hari ini Nada menggunakan celana panjang.


"Udah mirip tukang ojek aku, jangan pegangan pundak napa kak.."ucap Calvin


"Ya di mana.."


"Pinggang lah.."


"Bawel ya.."


Sampai akhirnya motor Calvin berhenti tepat di depan gedung apartemen Tristan.


"Kak bagi uang lah.."ucap Calvin.


"Mau kemana kamu.."


"Nongkrong,.."


"Gak ngmong sama Mami dan Papi, nanti mereka mencarimu.."


"Nanti aku kabarin, aku bosen di rumah pemandangannya itu-itu aja.."


"Apaan emangnya..?"


"Ya apalagi jika bukan Mami dan Papi yang mesra-mesraan, cium pipi kanan cium pipi kiri . Pantas aja Kak Nanda sekarang lebih suka di apartemen miliknya, "decak Calvin.


Nada melongo mendengarnya, lalu mengambil dompetnya.


"Ini, pergi sana..."


๐ŸŒน๐ŸŒน


Nada memasuki apartemen dengan rasa was-was. Ceklek ia membuka pintu kamarnya.


"Dari mana..?"tanya Tristan mengejutkan Nada, yang baru muncul dari kamar mandi dengan menggunakan celana pendek.


"Rumah Mami.."jawabnya sambil nyengir.


Tristan mengangguk, "Lupa pulang, atau lupa kalau udah punya suami.."ucapnya sembari berjalan mendekat ke arah Nada, membuat wanita itu memalingkan mukanya.


"Maaf.."


"Aku tidak ingin merusak suasana, mandilah sana. Tadi jadi beli kan.."ucap Tristan


"Pesenan aku.."


"Em.. ja...jadi.."


"Baru ku tanya udah gugup gitu, ya udah sana mandi..."


Nada buru-buru melesat pergi ke kamar mandi, sampai di dalam Nada menghela nafasnya lega.


"Ya ampun jantungku mau copot rasanya.."Nada mengelus dadanya. Segera Nada membersihkan diri, luluran dikit kali ya biar wangi, lalu gosok giginya.


๐ŸŒน๐ŸŒน


Krek.. Pintu kamar mandi terbuka. Nada keluar dengan bathrobe di tubuhnya.


"Kok gak di pakai sih.."tanya Tristan.


"Em.. itu.. aku.."Nada menggaruk kepalanya sambil nyengir bingung.


Nada pun menurut ia merangkak naik ke ranjang lalu duduk di samping suaminya.


"Kok gak pakai baju sih.."tanya Nada


"Buat apa, ntar juga di buka.."sahut Tristan membuat Nada tergelak.


Tristan merapatkan tubuhnya ke Nada, lalu perlahan ia mulai mencondongkan wajahnya, mengecup kening Nada.


"Takut kah.."bisik Tristan.


Nada mengangguk, "katanya sakit.."


Tristan mengecup pipi Nada, "Kata siapa..?"


"oranglah.."jawabnya asal.


"Gak kok orang enak.."dusta Tristan.


"emang kamu dah pernah.."


"Belom lah, baru pertama ama kamu ini.."ucapnya, kini kecupannya beralih ke teling Nada sesekali ia akan memberikan gigitan kecil di sana, hingga menimbulkan gelenyar-gelenyar aneh dalam tubuh Nada.


"Tristan tunggu.."


"Apalagi..?"decak Tristan kesal.


"Kamu udah makan..", udah dalam kondisi begini masih tanya makan dari tadi kemana aja Nad.


"Udah,. Jangan kembali bertanya dan merusak suasana, atau aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini.."ancam Tristan membuat Nada bergidik ngeri.


Tidak mau mendengar Nada terus mengoceh, Tristan langsung membungkam bibir Nada dengan bibirnya lalu ia mulai menggerakannya secara perlahan, membuat Nada senyaman mungkin dengan permainannya. Tristan menggerakkan tangannya untuk menarik tali bathrobe istrinya, hingga membuat bathrobe ia berhasil ia tarik dan terjuntai di lantai.


Tristan terkejut melepas pangutan bibirnya, Nada ternyata memakai lingeri merah nya di balik bahtrone tadi, "Jadi kamu mau ngerjain aku ya.."ucap Tristan


"Enggak.. maksudku.."


Tristan tersenyum, "Tau gak sih, indah banget.."


"Apanya.."


"Tubuhmu..", bisik Tristan membuat pipi Nada merona.


Tristan kembali mencium bibir Nada, lalu beralih ke leher jenjang istrinya sembari membaringkan tubuh Nada di atas ranjang. Keduanya terus saling mencecap dan *******, tangan Tristan bergelya dari balik gaun seski Nada.


Srett... Tristan merobek habis gaun itu.


"Di sobek.."ucap Nada dengan suara serak


"Lama.."


Ciuman itu terus berlanjut, sementara tangan Tristan tidak mau diam terus bergelya kemana-mana, hingga menimbulkan suara leguhan dan desahan dari bibir Nada. Entah sejak kapan keduanya sudah dalam keadaan telanjang bulat.


"Aku lakukan sekarang ya Nad.."bisik Tristan, Nada hanya mengangguk pasrah.


Tristan mendorong miliknya masuk memasuki lembah gua yang masih bersegel.


"Aaaaa... cabut.. cabut.. sakittt..."jerit Nada, sembari memukul dada bidang suaminya, tak lupa ia mengeluarkan air matanya.


Tristan kembali membungkam bibir Nada, sambil membenamkan miliknya di bawah sana, "Rileks Nad, nanti gak sakit lagi kok.."tutur Tristan.


Beberapa menit kemudian, "Gimana, udah boleh gerakan.."


Nada mengangguk, Tristan tersenyum sembari mengecup dahi istrinya. Tristan mulai menggerakan baju mundur pinggangnya. Kamar yang berAc tak berarti untuk keduanya, karena peluh sudah membanjiri keduanya.


Beberapa lama kemudian Tristan ambruk di atas tubuh istrinya, Nada merasakan sesuatu yang hangat membasahi rahimnya. Dan akhirnya Nada menyandang status gelar mantan perawan.


"Makasih sayang.."Seru Tristan, kemudian ia berguling di samping istrinya, tidak lupa ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.


Tristan mengatur nafasnya, lalu melirik ke arah samping di mana masih meringis. Tristan mengubah posisinya menjadi menyamping. Ia menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi dahi istrinya.


"Kenapa..? apa masih sakit..?"tanya Tristan lembut sembari mendekap tubuh Nada.


Nada mengangguk, "Iya perih, aku tidak mau lagi melakukannya..",


"Cuman pertama, besoknya enggak lagi.."seru Tristan.


"Benarkah.."


"Iya, jangan kapok ya..."


Nada mengangguk.


"Ya udah malam ini cukup sekali aja, gak tega aku liat kamu nangis. Tidur yuk aku ngantuk kerjaanku banyak banget tadi.."ucap Tristan yang mulai memejamkan matanya, begitulah kebiasaan pria usai bercinta pasti ngantuk.


Nada merasa tidak ngantuk.


"Tristan,.."panggil Nada


"hem, apa Nad..."gumamnya sambil terpejam.


"Kita pindah ke rumah mama dan papa kamu aja yuk.."ucap Nada


Sontak Tristan langsung membuka matanya, "Kamu serius.."


Nada mengangguk, "Bosen di sini, apalagi naiknya tuh capek harus pake lift.."


"Tapi rumah orang tuaku tuh kecil Nad, tidak semewah rumahmu.."tutur Tristan.


"Gak masalah kok,.."


"Ya udah kita bicarakan besok ya, sekarang aku ngantuk,.."ucap Tristan kembali memejamkan matanya,


๐ŸŒน๐ŸŒน


Kalau kurang hot, baca dekat tungku api ya jangan lupa apinya nyalain.๐Ÿ˜‚


Ini panjang lho readers.


Jangan lupa


Like


Komentar


Hadiahnya


Tbc.